Plasenta Sebagai Bahan Kosmetik

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penampilan bagi manusia identik dengan baju yang melekat di badan, dengan kata lain penampilan tak mungkin untuk dipisahkan dari kehidupan manusia dan kalaupun coba untuk dipisahkan sungguh akan terlihat polos sekali. Apalagi bagi sebagian manusia, khususnya kaum hawa, penampilan ibarat makanan pokok yang setiap hari harus tersedia di meja hidangan. Hingga disebagian mereka penampilan tak ubahnya seperti roh kehidupan yang sangat menentukan perjalanan manusia itu sendiri.
Dalam era modern, perkembangan teknologi telah membawa manusia dari impian menuju kenyataan. Suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari bahwa dalam era informasi dewasa ini, masyarakat khususnya umat Islam akan terus dihadapakan kepada berbagai tantangan dan permasalahan yang semakin rumit tentang.kompleksitas problematika kehidupan. Hal demikian terjadi karena semakin kompleksnya tuntutan hidup yang dihadapi umat manusia. Berdasarkan tesis di atas, sejalan dengan perkembangan dan kemajuan dunia modern umat Islam dituntut mencari solusi alternatif dengan penilaian objektifitas supernal.
Kalau kita melirik ke belakang, pada zaman para ulama dahulu mereka bekerja secara optimal untuk masyarakat pada zaman dan generasinya. Mereka pecahkan berbagai problematika yang muncul disekitarnya bahkan tidak sedikit manfaatnya yang sampai kepada kita. Namun zaman terus berubah dan ruanglingkup manusia terus maju dan berkembang. Akibanya banyak peristiwa peristiwa baru yang tidak terjadi pada masa silam kini mencuat kepermukaan menuntut jawaban dan sikap positif dari para ulama, ilmuan dan cendikiawan masa kini.
Pernyataan diatas terbukti melalui pengamatan berbagai fenomena yang terjadi dewasa ini, dimana umat manusia yang telah memaksimalkan seluruh potensi dirinya, sekarang ini telah mencapai kemajuan yang sangat mengagumkan terutama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang bioteknologi, yang merupakan salah satu prestasi terbesar yang dihasilkan umat manusia sepanjang sejarah. (Kompas, 23/11/2002).
Berkaitan dengan hal tersebut dari tahun ketahun, ilmuwan barat terus menerus melakukan riset dan pengembangan intensive dalam biotekhnologi. Dari hasil penelitian di negara negara Eropa, khususnya Swiss adalah pelopor dalam bidang sel therapy menemukan untuk memperbaharui dan meremajakan sel sel yang bermanfaat untuk kesegaran dan kebugaran tubuh, wajah tetap cantik menarik yaitu dengan mengkonsumsi makanan, obat obatan dan kosmetika yang bahannya dari plasenta (tembuni, ari bayi, baki) baik plasenta dari manusia maupun plasenta dari binatang yang berbentuk kapsul, makanan, bedak dan cream. Plasenta diyakini dapat berfungsi untuk regenerasi sel-sel tubuh sehingga dapat mempertahankan kulit agar tetap sehat, segar, muda dan cantik. Tak hanya sampai disitu plasenta juga dipercaya mampu mengembalikan kemulusan kulit akibat luka atau penyakit kulit. Hal demikian terjadi karena di dalam plasenta terkandung sel-sel muda yang sedang tumbuh dan berkembang. (Rahman Azhar, 2005:2).
Pemanfaatan plasenta sebagai obat sudah dimulai sejak zaman Cleopatra yang berarti sudah berlangsung selama ribuan tahun. Setelah itu Marie Antoinette, Ratu Prancis yang tersohor dengan kecantikannya pun memanfaatkan zat yang sama. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Cleopatra maupun Marie Antoinette tidak hanya memanfaatkannya untuk kecantikan namun juga sebagai penambah vitalitas. (Republika, 10/5/2005)
Di tahun 1930-an, Vladimir Filatov memanfaatkan plasenta untuk mengobati luka bakar. Hasilnya cukup bagus, sehingga ia digelari ”bapak bedah plastik modern”. Selanjunya ditahun 1970-an Uruy Lubimov menemukan fakta bahwa plasenta dapat meningkatkan imunitas dan mengobati saluran cerna.
Pemanfatan lebih lanjut di tahun 1980 adalah digunakannya plasenta sebagai penambah imunitas para astronot yang akan menjalankan misi ke luar angkasa. Ludmila Lich yang mengalami luka bakar parah dapat tertolong dengan pengobatan yang menggunakan formula dari plasenta.
Dari hasil penelitian mereka bahwa plasenta ini dapat mengobati sisa luka kangker kulit, infeksi kulit cronic. Bahkan hasil penelitian selanjutnya sel therapy dari bahan tersebut akan secara efektif merangsang sel-sel organ tubuh yang terkena radang sendi, kelelahan kronis, sakit asma, lemah berfikir memori lemah gangguan peredaran darah, kelainan fungsi seksual, impoten, kencing manis gangguan hormonal, lekas marah, sulit tidur dan penyakit kulit.
Menurut Vincent pada tahun 1995 menulis, sebagai alternatif plasenta dapat dimakan oleh ibu setelah melahirkan seperti binatang mamalia, umtuk memulihkan kesehatan, dan bermanfaat untuk mengurangi resiko pendarahan. Sebagaimana yang dilakuakan binatang sehabis melahirkan plasentanya lansung dimakan, tapi hal ini tidak mungkin dilakukan. Sedangkan kalau dimasak akan hancur zat zat yang terkandung didalamnya. (Rahman Azhar, 2005:1).
Bagi kaum hawa produk obat obatan dan kosmetik dari plasenta ini sangat diminati untuk kesehatan kulit, karena kulit sangat lembut menjadi halus, menjaga kekenyalan kulit dan kelembaban, mengurangi kerutan, menjaga ketahan tubuh, mengurangi ketegangan saat haid, dan menunda monopouse sindrom, dan menstabilkan badan. Plasenta dalam dunia fashion, juga diyakini dapat berfungsi meregenerasi sel-sel tubuh sehingga dapat memepertahankan kulit agar tetap sehat, segar, muda dan cantik. Juga mampu mengembalikan kemulusan kulit akibat luka atu penyakitkulit. Sebab plasenta mengnadung sel-sel muda yang sedang tumbuh dan berkembang (sel generatif). Bersama air ketuban, ekstak plasenta manusia menjadi favorit bahan kosmetik, karena paling”pas” buat konsumen ynag sesama manusia. (Apriyantono, 2003:95).
Dalam pengembangan sel therapy ini, para ilmuwan mulai menternakan binatang untuk diambil plasentanya terutama biri biri. Karena biri biri pederma plasenta yang terbaik dan memiliki kekebalan terhadap penyakit, dan memiliki protein ynag baik dan cocok untuk tubuh manusia.
Di Indonesia sudah diproduk kosmetik dari plasenta sapi yaitu Produksi PT. Saparindo Mustika yang telah terdaftar dan beregister pada badan POM DepKes, yang produknya bernama Plasenta Skin Care Whitening Series-UV- Whitening Body Lotion yang berfungsi untuk meremajakan kulit dan mempertahankan kelenturan kulit. (Rahman Azhar, 2005:2)
Para cendekiawan atau para ulama di atas membahas masalah plasenta atas dasar predikat yang disandangnya yaitu ilmuwan. Mereka meninjau berdasarkan spesifikasi keilmuannya yang mereka geluti dan mereka dalami. Sedangkan dikota Bandung ada organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Majlis Ulama Indonesia dan Persatuan Islam, yang mempunyai suatu lembaga atau badan yang salah satu tugasnya adalah memecahkan suatu permasalahan yang beerkembang di masayarakat yang memerlukan keputusan penetapan hukumnya. Lembaga yang dimaksud, yaitu Batsul Masail, Majlis Tarjih, Komisi Fatwa dan Dewan Hisbah, badan lembaga tersebut mempunyai ketentuan masing masing yang te
lah disepakatinya dan harus diikuti oleh ulamanya dalam memecahkan suatu masalah yang memerlukan ketetapan hukumnya.
Dewan Hisbah (persis) dan Anggota Komisi Fatwa MUI merupakan salah satu organisasi Islam kemasyarakatan, yang telah banyak melakukan pembahasan terhadap permasalahan permasalahan fiqh, baik permasalahan menyangkut bidang ibadah, muamalah maupun dalam masalah fiqih kontemporer seperti dalam menetapkan kedudukan status hukum plasenta Sebagai Bahan Kosmetik.
Mengenai plasenta Sebagai Bahan Kosmetik yang memerlukan penetapan hukum tersebut, Persatuan Islam dengan Dewan Hisbahnya melalui sidang yang ke-VII tanggal 9 Rajab 1426 H / 14 agustus 2005 M dan menurut Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) dalam Munas tahun 2000 yang lalu telah membahas masalah palsenta manusia dam terapi urine ini. Dalam keputusan Fatwa MUI nomor: 2/munas-VI/MUI/2000 memutuskan bahwa plasenta untuk bahan kosmetik adalah haram. (Ahmad Yasa, 2003:1).
Baik MUI melalui Komisi Fatwanya maupun Persis melalui Dewan Hisbahnya menyatakan bahwa plasenta untuk bahan kosmetik haram hukumnya. Akan tetapi selain ada perbedaan masalah yang terletak pada landasan dan metode istinbath al-ahkam yang digunakannya, disebabkan pada lembaga di atas mempunyai ketentuan masing masing yang telah disepakati dan harus diikuti oleh ulamanya dalam memecahkan suatu masalah yang memerlukan ketetapan hukumnya. Juga fatwa “hukum haram” yang dikeluarkan oleh kedua lembaga tersebut memerlukan penelitian mendalam baik dari sisi filosofinya maupun ekses pada masyarakat dengan dikeluarkannya fatwa di atas.
Adapun pijakan yang dijadikan dasar oleh Dewan Hisbah Persis (2005:1) adalah Q.S. al-Isra: 70 dan hadits sebagai berikut:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِى ءَادَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Soenarjo,dkk;1971:435).
عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فإنَ دِمَائكُمْ وَاَمْوَالَكُمْ وَاَعْرَضَكًمْ عَلَيْكُمْ
حَرَام ً (Al-Bukhari,tt.I:166.)
“Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah bersabda Saw,”Maka darah-darah, harta-harta, dan kehormatan kamu, haram atas kamu” (wajib kamu pelihara). (Komisi Fatwa, 2000.1)
Sedangkan pijakan yang dijadikan landasan oleh MUI adalah
…فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ ِّلإِثْمٍ فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمُُ

 
“…Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Soenarjo, dkk; 1971:157).

 
إنَّ الله أنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَتَدَاوَوا وَلا تَدَاوَو بِحَرَامٍ
(Abu Dawud, tt.4:3)
“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, serta menjadikan obat bagi setiap penyakit; oleh karena itu, berobatlah dan janganlah berobat dengan benda yang haram.” (Komisi Fatwa, 2000:1)
Hal ini mengundang penulis untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dan menuangkan dalam sebuah skripsi, karena masalah plasenta Sebagai Bahan Kosmetik merupakan masalah-masalah fiqih yang memerlukan ijtihad dalam penetapan hukumnya.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dan untuk mengefektifkan pembahasan masalah guna menghindari kekaburan pembahasan, maka mekanisme pembahasan ini terbatas pada masalah-masalah sebagai berikut:
  1. Apa dasar hukum yang digunakan Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI tentang penetapan fatwa haram plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik?
  2. Bagaimana metode istinbath al ahkam yang digunakan Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI dalam menetapkan hukum plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik?
  3. Apa persamaan dan perbedaan pendapat Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI tentang kedudukan hukum plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik?
C. Tujuan Penelitian
    Adapun tujuan penelitian yang hendak dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui dasar hukum yang digunakan Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI tentang penetapan fatwa haram plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik
  2. Untuk mengetahui metode Istinbath al ahkam yang digunakan Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI dalam menetapkan hukum plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik
  3. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pendapat Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI tentang kedudukan hukum plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik

 

 
D.
Kerangka Pemikiran
Sejalan dengan semakin pesatnya arus globalisasi dan demikian canggihnya dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata dari satu sisi dapat memunculkan persoalan-persoalan baru yang kerap kita jumpai pada individu dalam suatu masyarakat. Hal demikian kemudian secara tidak langsung berpengaruh tidak baik pula pada kemapanan dan tatanan masyarakat damai sebagaimana yang diharapkan perad
aban itu sendiri.
Fenomena ini dalam rumusan yang sederhana dapat dikatakan bahwa semakin modern serta maju sebuah masyarakat, akan semakin kompleks dan beragam problematika kehidupan yang dihadapi sehingga kitapun dituntut untuk lebih arif dalam menyikapinya, tanpa semata-mata mengedepankan keuntungan pribadi.
Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta keberhasilan pembangunan akhir akhir ini telah merambah seluruh aspek bidang kehidupan umat manusia; tidak saja membawa berbagai kemudahan, kebahagiaan, dan kesenangan, melainkan juga menimbulkan sejumlah persoalan. Aktivitas baru yang beberapa waktu lalu tidak pernah dikenal, atau bahkan tidak pernah terbayangkan, kini hal itu menjadi kenyataan. Disisi lain, kesadaran keberagamaan umat Islam diberbagai negeri, termasuk di Indonesia, pada dasawarsa terakhir ini semakin tumbuh subur dan meningkat. Sebagai konsekwensi logis, setiap timbul persoalan, penemuan, maupun aktifitas baru sebagai produk dari kemajuan tersebut, umat senantiasa bertanya Tanya, bagaimanakah kedudukan hal tersebut dalam pandangan ajaran hukum Islam.
Salah satu persoalan cukup mendesak yang dihadapi umat adalah membanjirnya produk makanan dan minuman olahan, obat obatan, dan kosmetika. Umat, sejalan dengan ajaran Islam, menghendaki agar produk- produk yang akan dikonsumsi tersebut dijamin kehalalan dan kesuciannya. Menurut ajaran Islam mengkonsumsi yang halal, suci, dan baik merupakan perintah agama dan hukumnya adalah wajib. ( Maskur Alie, 2003:1).
Produk–produk olahan, baik makanan, minuman, obat obatan, maupun kosmetika, dapat dikategorikan kedalam kelompok mutasyabihat (syubhat), apalagi jika produk tersebut berasal dari negeri yang penduduknya mayoritas non Muslim, sekalipun bahan bakunya berupa barang suci dan halal. Sebab, tidak tertutupnya kemungkinan dalam proses pembuatannya tercampur atau menggunakan bahan bahan yang haram atau tidak suci. Dengan demikian, produk-produk olahan tersebut bagi umat Islam jelas bukan merupakan persoalan sepele, tetapi merupakan persoalan besar dan serius. Terlebih lagi jika kita melirik sebuah hadits yang artinya:
“Barang siapa yang terjerumus kedalam Syubhat, ia terjerumus kedalam yang haram.”
Maka wajarlah jika umat Islam sangat berkepentingan untuk mendapat ketegasan tentang status hukum produk produk tersebut, sehingga apa yang akan mereka konsumsi tidak menimbulkan keresahan dan keraguan. (Maskur Alie, 2003:5).
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan dan wawasan manusia semakin hari semakin meningkat. Dalam hal produk makanan, minuman, kosmetik maupun obat tidak lagi dipandang sederhana. Melalui rekayasa genetika dan teknologi pangan saat ini, telah memungkinkan semua yang ada dimuka bumi ini dijadikan sebagai bahan baku makanan, obat obatan, dan kosmetik yang dikonsumsi manusia. Seekor hewan misalnya, tidak hanya dagingnya yang dapat dimanfaatkan, tetapi plasentanya juga dapat dimanfaatkan Sebagai Bahan Kosmetik, perkembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti sampai di sana tetapi bahkan plasenta manusia pun sekarang dapat dimanfaatkan.
Dalam Islam, penentuan kehalalan dan keharaman suatu produk tidak dapat didasarkan hanya pada asumsi atau suka tidak suka. Halal maupun haram harus diputuskan sesuai dengan ketentuan Allah dan rasulnya. Hal demikian disebabkan sumber hukum umat Islam adalah al-Quran dan hadits. Berkenaan dengan hal demikian, Allah mengingatkan dalam Surat an-Nahl ayat 116 sebagai berikut:
وَلاَتَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَيُفْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut sebut oleh lidahmu secara dusta” ini halal dan ini haram”, untuk mengada adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang orang yang mengada adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. (Soenarjo, dkk., 1995:281).

 
Satu benang merah dapat diambil berdasar ayat di atas adalah diperlukan sebuah penelitian dan kajian yang mendalam terhadap setiap produk yang belum jelas kehalalan dan keharamannya. Karena al-Qur’an, sebagai kitab suci terakhir yang berlaku hingga akhir zaman, dalam banyak ayatnya hanya memberikan petunjuk-petunjuk yang bersifat ijmali (global), sehingga bisa ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman, akan tetapi pada saat yang sama hal itu memungkinkan munculnya interpretasi-interpretasi yang berbeda pula, maka dalam menyikapi ayat yang katagorinya ijmali ini mesti membutuhkan penjelasan yang nyata, yaitu dengan menggunakan seperangkat alat bantu untuk mengetahui dalalah nashnya. Alat bantu yang dimaksud adalah ijtihad. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri yaitu hasil dari ijtihad tersebut tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan, sesekali perbedaan tersebut berhasil dikompromikan tetapi tidak jarang pula sulit didekatkan, khususnya bila perbedaan-perbedaan tersebut memperoleh justifikasi berupa ayat-ayat yang secara lahiriyah tampak bertentangan. (Afif Muhammad, 1998:19).
Plasenta berasal dari bahasa latin placenta yang berarti kue datar atau kemps. Plasenta merupakan organ yang berbentuk vascular yang berkembang dalam uterus selama kehamilan, yang menghubungkan antara kebutuhan nutrisi janin dengan ibunya. Karenanya plasenta merupakan bahan yang kandungan nutrisinya sangat kaya.
 Plasenta  bisa bersumber dari manusia dan binatang. lalu, plasenta yang berkembang di pasaran berasal dari mana, manusia atau binatang? Sejumlah produsen kosmetik di Australia, Taiwan, dan Jepang mengklaim bahwa plasenta yang mereka jadikan Sebagai Bahan Kosmetik itu berasal dari domba atau biri-biri alias dari binatang.
Namun ada juga produsen yang menggunakan plasenta manusia Sebagai Bahan Kosmetik, hal ini terlihat dari data yang ada bahwa pada tahun 1970-an Kuba mengekspor plasenta manusia ke Prancis sekitar 40 ton per tahun. Ini mengisayaratkan bahwa ada sejumlah produsen yang menjadikan plasenta manusia sebagai  salah satu bahan untuk kosmetik yang diproduksinya. Dari analisis ini terlihat bahwa ada kosmetik yang terbuat dari plasenta binatang dan ada juga yang terbuat dari plasenta manusia. (www.Tabloid_Nokita.com, 2001:1).
Di Bandung terdapat organisasi keagamaan seperti Persatuan Islam dan Majlis Ulama Indonesia. Masing-masing organisasi ini mempunyai suatu lembaga atau badan yang bertugas untuk memecahkan permasalahan umat yang memerlukan ketegasan mengenai hukumnya. Lembaga tersebut yaitu
Dewan Hisbah dan Komisi Fatwa. Dalam mengambil kesimpulan hukum suatu masalah, masing masing lembaga tersebut mempunyai ketentuan sendiri sendiri yang telah disepakati oleh ulamanya masing masing.
Masalah Plasenta Sebagai Bahan Kosmetik merupakan salah satu objek pembahasan lembaga-lembaga tersebut, dan keputusan keputusan lembaga lembaga tersebut mengenai permasalahan permasalahan yang berkembang pada umat merupakan tumpuan, khususnya oleh jamaah organisasi masing masing umatnya umat Islam sehingga pendapat ulama lembaga lembaga itu pun diharapkannya.
Dengan demikian, maka dapat dinyatakan bahwa pendapat dalam hal ini adalah kesimpulan suatu masalah setelah dipahami, diselidiki dan dipertimbangkan oleh seseorang atau sekelompok orang. Dalam memahami menyelidiki dan mempertimbangkan itu, didasarakan kepada sesuatu paham yang diikuti dan diyakininya. Demikian pula halnya dengan pendapat lembaga dan ulama tentang kedudukan hukum Plasenta Sebagai Bahan Kosmetik akan didasarakan kepada cara-cara dan ketentuan mengenai pengambilan kesimpulan hukum dalam masing masing lembaga yang ada dilingkungan organisasinya.
Secara garis besar Dewan Hisbah Persis, dalam melakukan pengambilan suatu hukum mempunyai langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Beristidlal dengan al-Quran
  2. Beristidlal dengan hadits
  3. Masalah-masalah yang tidak ditemukan nash yang sharih dalam al-Quran dan al-Hadits, maka ditempuh dengan jalan ijtihad jama’i dengan rumusan-rumusan sebagai berikut:
    1. Tidak menerima ijma’ secara mutlak dalam urusan ibadah, kecuali ijma’ sahabat.
    2. Tidak menerima Qiyas dalam masalah ibadah mahdhah, sedangkan dalam masalah ibadah ghair mahdhah, qiyas diterima selama memenuhi persyaratan qiyas.
    3. Dalam memecahkan Taarudul Adilah diupayakan dengan cara:
    4. Thariqqtul Jami’ selama masih mungkin di jam’u
    5. Thariqatut Tarjih, dari berbagai sudut dan seginya.
    6. Thariqotuin Naskhi, jika diketahui mana yang dahulu dan mana yang kemudian. (Shiddiq Amien, 2001:37-39).

 
Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan wadah musyawarah para ulama, zu’ama, dan cendikiawan Muslim dipandang sebagai lembaga paling berkompeten dalam pemberian jawaban masalah sosial keagamaan (iftat) yang senantiasa timbul dan dihadapi masyarakat Indonesia. Hal ini mengingat bahwa lembaga ini merupakan wadah bagi semua umat Islam Indonesia yang beraneka ragam kecenderungan dan madzhabnya. Oleh karena itu, fatwa yang dikeluarkan oleh MUI diharapkan dapat diterima oleh seluruh kalangan dan lapisan masyarakat, serta diharapkan pula dapat menjadi acuan pemerintah dalam pengambilan kebijaksanaan. (Maskur Alie. 2003:6).
Sejalan dengan itu, MUI dari hari kehari berupaya terus menerus untuk senantiasa meningkatkan peran dan kualitasnya dalam berbagai bidang yng menjadi kewenangannya. Salah satu wujud nyata dari upaya peningkatan ini ialah dengan dibentuknya Lembaga Pengkajian Pangan, Obat–Obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LP.POM MUI) beberapa tahun yanag lalu. Fungsi lembaga ialah melakukan penelitian, audit, dan pengkajian secara seksama dan menyeluruh terhadap produk produk olahan. Hasil penelitiannya kemudian dibawa ke komisi fatwa untuk dibahas dalam sidang komisi dan kemudian difatwakan hukumnya, yakni fatwa halal, jika sudah diyakini bahwa produk bersangkutan tidak mengandung unsure-unsur benda haram atau najis. (Maskur Alie, 2003: 7-8)
Adapun Anggota Komisi Fatwa MUI dalam menetapkan suatu hukum berdasarkan pada hal-hal berikut:
  1. Setiap keputusan fatwa harus mempunyai dasar atas kitabullah dan sunah yang mu’tabarah, serta tidak bertentangan dengan kemaslahatan umat
  2. Jika tidak terdapat dalam kitabullah dan sunah, keputusan fatwa harus tidak bertentangan dengan ijma’, qiyas yang mu’tabar, dan dalil-dalil hukum yang lain, seperti istihsan, maslahah mursalah dan sadz adz-dzariah
  3. Sebelum Fatwa ditetapkan hendaklah ditinjau dahulu pendapat para imam madzhab dan ulama yang mu’tabarah tentang masalah yang akan difatwakan tersebut, secara seksama berikut dalil-dalinya.
  4. Masalah yang telah jelas hukumnya hendaklah disampaikan sebagaimana adanya.
  5. Dalam masalah yang terjadi khilafiyah dikalangan madzhab, maka:
    1. Penetapan Fatwa didasarkan pada hasil usaha penemuan titik temu diantara pendapat pendapat ulama madzhab melalui metode al-jam’u wa al taufiq
    2. Jika usaha penemuan titik temu tidak berhasil dilakukan, penetapan fatwa didasarkan pada tarjih melalui metode muqaranah dengan menggunakan kaidah kaidah ushul fiqh muqaran.
  6. Dalam masalah yang tidak ditemukan pendapat hukumnya dikalangan madzhab, penetapan fatwa didasarkan pada hasil ijtihad jama’i (kolektif) melalui metode bayani, ta’lili (qiyasi, istihsani, ilhaqi, istislahi, saddudzariah). (Maskur Alie, 2003:9).

 
Dengan demikian, sejauh analisa penulis pendapat lembaga dan ulama mengenai kedudukan hukum Plasenta Sebagai Bahan Kosmetik pada intinya akan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi dan metode pengambilan kesimpulan hukum yang telah disepakati pada masing masing lembaga selain itu, faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu penggunaan salah satu pendekatan pendekatan dalam pengambilan kesimpulan hukum.

 
E. Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dan content analysis atau analisis isi, yakni menggambarkan fakta yang tengah terjadi mengenai plasenta Sebagai Bahan Kosmetik. Adapun alasan penggunaan metode ini didasarkan atas pertimbangan bahwa metode ini dinilai mampu mengungkap, menggali dan menganalisis berbagai fenomena empirik yang sering terjadi pada masa sekarang juga . Sehingga penulis dituntut untuk dapat mengungkapkan, menganalisis dan menginterpretasikan data-data yang didapat dari pengamatan langsung mengenai pendapat para ulama yang tergab
ung dalam Dewan Hisbah Persis dan Anggota Komisi Fatwa MUI yang direpresentasikan melalui hasil sidang Dewan Hisbah Persis di PC Persis Lembang 9 rajab 1426H/ 14 Agustus 2005 M dan MUNAS VI MUI yang berlangsung pada tanggal 23-27 Rabi’ul Akhir 1421 H/ 25-29 Juli 2000 M. serta dari sumber-sumber lain seperti melalui wawancara dan mencari data dari buku-buku, teks al-Qur’an, al-Hadits, artikel artikel dan referen-referen lainnya yang berhubungan dengan masalah yang penulis bahas.
2. Menentukan Sumber Data
Sumber data pada penelitian ini terbagi pada dua macam yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. Adapun yang dijadikan sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil keputusan sidang dewan hisbah Persis yang ke – VII di PC Lembang pada tanggal 14 Agustus 2005 dan hasil Musyawarah Nasional VI MUI pada tanggal 25-29 Juli tahun 2000.
Sedangkan sumber data skundernya yaitu berbagai kitab, buku, artikel, wawancara dengan para pakar dan literatur lain baik yang berbahasa Arab maupun Indonesia yang berhubungan dengan masalah yang penulis teliti.
3. Menentukan Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kualitatif, dimana diperoleh melalui keputusan fatwa hasil sidang anggota Dewan Hisbah Persis dan anggota Komisi Fatwa MUI sehingga penafsirannya berpegang pada ketentuan hukum Islam disamping menggunakan analisis logika. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data yang sesuai dengan rumusan masalah, yaitu yang berhubungan dengan:
  1. Pendapat Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI tentang kedudukan hukum Plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik
  2. Dasar hukum dan bagaimana metode Istinbath al ahkam yang digunakan Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI dalam menetapkan hukum Plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik
  3. Persamaan dan perbedaan pendapat Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI tentang kedudukan hukum Plasenta yang digunakan Sebagai Bahan Kosmetik
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam tekhnis pengumpulan data, penulis menggunakan cara-cara sebagai berikut:
a. Studi Literatur
Dalam tekhnis pengumpulan data, penulis menggunakan library research, yakni penyelidikan kepustakaan dengan meneliti hasil fatwa anggota Dewan Hisbah Persis dan anggota Komisi Fatwa MUI serta mencari dan meneliti sumber-sumber atau buku-buku yang ada relevansinya dengan judul penelitian, dengan cara :
  1. Mengumpulkan sumber-sumber atau buku-buku yang diterbitkan oleh ormas Persis dan MUI baik pusat maupun Jawa Barat.
  2. Menelaah buku-buku karangan anggota Dewan Hisbah Persis dan anggota Komisi Fatwa MUI yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.
  3. Mengkategorikan sumber-sumber (dalil-dalil) yang digunakan oleh Dewan Hisbah Persis dan Komisi Fatwa MUI tentang masalah yang dibahas.
    1. Wawancara
Wawancara adalah suatu teknik dalam pengumpulan data yang langsung dilakukan dengan responden (Kuncaraningrat, 1983: 129) interview (wawancara) ini dimaksudkan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Sedangkan interview merupakan pengumpulan data dengan jalan tanya jawab pihak yang dikerjakan dengan sistematis berdasarkan tujuan penelitian. Interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.
Wawancara dilakukan oleh penulis sebagai data tambahan yang betul-betul obyektif sehingga akan memperjelas fatwa yang telah dihasilkan dalam sidang Dewan Hisbah dan Munas MUI. Adapun wawancara penulis lakukan dengan 2 (dua) ulama yang merupakan perwakilan dari anggota Dewan Hisbah Persis dan anggota Komisi Fatwa MUI untuk mengetahui lebih jauh tentang hal-hal yang penulis bahas dalam rumusan masalah. Sedangkan ditinjau dari alat yang penulis gunakan, wawancara ini menggunakan alat perekam (recorder), walaupun tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan, tetapi semuanya merupakan satu kesatuan dari penelitian ini.
5. Analisis Data
Setelah data-data tersebut diinventarisir kemudian dipilah pilah sesuai dengan jenis datanya (sumber data primer dan sumber data sekunder), kemudian data tersebut dianalisis. Data yang dianalisis adalah data data yang berkaitan dengan masalah. Data yang sudah terkumpul oleh penulis akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan tekhnik analisis isi. Dalam pelaksanaannya, penganalisaan dilakukan dengan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Menelaah semua data yang terkumpul dari berbagai sumber, baik sumber primer maupun skunder.
  2. Mengelompokan seluruh data ke dalam satuan-satuan permasalahan sesuai dengan masalah yg diteliti
  3. Menghubungkan data dengan teori yang sudah dikemukakan dalam kerangka pemikiran.
  4. Menganalisa dan mengkomparasikan unsur-unsur dalil yang digunakan oleh anggota Dewan Hisbah Persis dan anggota Komisi Fatwa MUI tentang masalah yang dibahas.
  5. Menarik kesimpulan dari pendapat anggota Dewan Hisbah Persis dan anggota Komisi Fatwa MUI tentang masalah yang dibahas.

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Skripsi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s