IMPLIKASI PAEDAGOGIS Q.S LUQMAN AYAT 13 TENTANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM KELUARGA" (Analisis Ilmu Pendidikan Islam)

BAB I
PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk yang memerlukan pendidikan atau “homo educandum “. Manusia dipandang sebagai homo educandum yaitu makhluk yang harus dididik, oleh karena menurut aspek ini nanusia dikategorikan sebagai “animal educabil ” yang sebangsa binatang yang dapat dididik, sedangkan binatang selain manusia hanya dapat dilakukan dressur (latihan) sehingga dapat mengerjakan sesuatu yang sifatnya statis (tidak berubah).
Perlunya manusia untuk dididik menurut Hasan Langgulung terlebih dahulu harus dilihat dari dua segi aspek pendidikan sebagai berikut:
“Pertama dari segi pandangan masyarakat dan kedua dari segi pandangan individu. Dari segi pandangan masyarakat pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat itu tetap berkelanjutan. Atau dengan kata lain, masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang ingin disalurkan dari generasi ke generasi agar identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara”.
Dari segi pandangan individu, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi. Seperti potensi akal, potensi berbahasa, potensi agama dan sebagainya. Potensi-potensi tersebut harus diusahakan dan dikembangkan agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Dilihat dari kedua sudut pandangan tersebut di atas, maka manusia perlu sekali diberi pendidikan, karena tanpa pendidikan pewarisan kebudayaan dan pengembangan potensi manusia tak dapat dilakukan dengan sepenuhnya.
Di dalam kitab suci Al-qur’an manusia disebut sebagai ahsanu taqwim, yang berarti sebaik-baik bentuk, dan diantara makhluk Tuhan memang manusialah yang paling baik kejadiannya. Terutama yang paling penting bagi manusia yang membedakannya dengan binatang adalah bahwa manusia mempunyai akal.
Dengan akal yang ada padanya ini manusia berusaha berjuang dan bekerja keras untuk memperbaiki kehidupannya. Di dalam Al Quran Surat “Al Balad” dijelaskan bahwa Tuhan menjadikan manusia dalam kancah perjuangan. Perjuangan adalah lambang tertinggi, dengan perjuangan inilah manusia dapat mengadakan perbaikan, pembaharuan dan perubahan dalam kehidupannya bahkan alam dan organisme sekelilingnya, untuk lebih memfungsikan akal tersebut. Sehingga diperoleh kebiasaan-kebiasaan dan sikap intelektual yang sehat perlu adanya pendidikan.
Manusia mempunyai dua element yaitu element jasmani dan rohani yang merupakan dwitunggal dalam diri manusia. Masing-masing memerlukan pendidikan untuk dapat berfungsi secara baik. Fisik memerlukan pendidikan fisik/jasmani berupa olah raga dengan berbagai cabang dan bentuknya. Begitu juga element rohani/mental memerlukan pendidikan agar dengan element tersebut manusia dapat membenahi dirinya dan alam sekitarnya untuk dapat mensejahterakan hidupnya. Rohani terdiri dari dua aspek yaitu : (1) akal, dan (2) hati nurani. Akal dididik dengan mengajarkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, hati nurani dididik dengan menanamkan norma-norma agama yang diturunkan lewat Nabi dan Rasul-Nya kepada umat manusia yang bisa difokuskan kepada iman. Dengan demikian pendidikan secara integral dan terpadu antara jasmani, mental, ratio dan hati nurani mutlak perlu bagi manusia, bilamana manusia ingin menempatkan dirinya pada porsi yang semestinya. Salah satu wahana pendidikan yang sangat penting dalam kehidupan manusia adalah keluarga.
Tafsir (1994 : 74) berpendapat bahwa pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertaggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Kemudian beliau menambahkan, bahwa orang yang bertanggung jawab terhadap anak didik adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik, tanggung jawab itu disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal; Pertama, karena kodrat, yaitu orang tua di takdirkan menjadi orang tua anaknya, dan karena itu ia ditakdirkan pula bertanggung jawab mendidiknya. Kedua, karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya sukses anaknya adalah sukses orang tua. juga tanggung jawab pertama dan utama terletak pada orang tua sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an .
…….. قُوْااَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksan api neraka”
Peran yang diambil orang tua khususnya ibu pada masa-masa awal kelahiran anak sangatlah besar dan mendasar, dan merupakan masa-masa yang paling kritis, sangat peka terhadap perlakuan lingkungan, cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap serta perilaku sepanjang hidupnya.
Pendidikan usia dini harus dilakukan karena mendidik dan membiasakan anak di waktu kecil adalah paling menjamin untuk mendatangkan hasil, sedang mendidik dan melatih setelah dewasa sangat sukar untuk mencapai kesempurnaan.
“Adalah berguna mendidik anak diwaktu kecil dan kadang berguna pula mendidiknya pada usia dewasa maka akan mudah meluruskannya jika telah menjadi batang”. (Abdulah Nasihih Ulwan, 1993 : 132).
Pendidikan dalam keluarga harus dilakukan dengan metode-metode yang seharusnya diterapkan seorang anak diusia dini, karena anak dilahirkan ke dalam keluarga dengan kultur khusus. Sejak awal anak memperoleh budaya itu melalui orang tua atau keluarganya, dengan landasan itu jiwa dan pikiran anak terbentuk.
Pendidikan yang pertama dan utama yang harus ditanamkan kepada anak adalah kalimat thayibah “Laa Ilaaha Illallah” diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas r.a Rasulullah SAW bersabda:
اِقْتَحُوْا عَلَى صِبِيَانِكُمْ اَوَلَ كَلِمَةُ بِلاَ اِلَهَ اِلاَ اللهَ
    “Awalilah bayi-bayimu itu dengan kata-kata “laa ilaaha illallah”. (Nashih Ulwan, 199 : 61)
Dengan kalimat ini anak ditanamkan agar memiliki keimanan yang kuat, tidak menyekutukan Allah dan selalu ingat kepada Allah dimanapun dia berada, sehingga dia terhindar dari dosa dan kemaksiyatan dan menjadi manusia yang berbahagia didunia dan akhirat. Dan pada hari kiamat tidak menjadi orang-orang yang lengah terhadap keesaan Allah. Seperti firman Allah SWT dalam Q.S Al-A’raf : 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُكَ مِنْ بَنِيْ آَدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرًّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُّوْلُ
وْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِيْنَ
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,(Departemen Agama, RI. 1989 : 250).

 
Begitupula Luqman memberi peringatan kepada anaknya dalam Q.S. Luqman:13
وَإِذَ قَالَ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمُ عَظِيْمٍ
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar”.
Berdasarkan deskripsi di atas, maka masalah tersebut sangatlah menarik dan kiranya perlu penelitian yang sangat mendalam. Penulis sajikan penelitian ini dengan judul IMPLIKASI PAEDAGOGIS Q.S LUQMAN AYAT 13 TENTANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM KELUARGA (Analisis Ilmu Pendidikan Islam) 

B. Perumusan Masalah

  1. Bagaimana pendidikan anak usia dini dalam keluarga ?
  2. Bagaimana penafsiran para mufasir terhadap Q.S. Luqman ayat 13 menurut beberapa tafsir ?
  3. Bagaimana implikasi paedagogis Q.S. Luqman ayat 13 tentang pendidikan anak usia dini dalam keluarga ?
Untuk memudahkan penelitian ini dipandang perlu menjelaskan kata implikasi paedagogis, kata implikasi menurut Soeganda Poerbakawatja (1982:143), berarti mengandung atau sesuatu yang tidak disebutkan secara langsung. Jika di kaitkan dengan penelitian ini, maka surat Luqman ayat 13 mengandung sesuatu yang tidak disebutkan secara langsung.
Sedangkan kata paedagogis berasal dari bahasa Yunani yaitu paedos yang berarti anak dan agogos berarti membimbing, jadi yang dimaksud dengan implikasi paedagogis adalah kandungan pendidikan yang tidak disebutkan secara langsung (Purwanto, 1995 : 3).
Yang dipermasalahkan dari implikasi paedagogis disini adalah surat Luqman ayat 13 yakni wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril yang mengandung tentang nasihat Luqman kepada anaknya untuk tidak mensekutukan Allah yang mana hal tersebut memberikan isyarat paedagogis tentang pentingnya materi tauhid dan materi akhlak yang harus di terapkan oleh pendidik terhadap peserta didik.
Sedang yang dimaksud analisis adalah melakukan pemeriksaan secara konsepsional terhadap makna yang terkandung dalam teks, dalam hal ini adalah teks al-Qur’an (Lokottsoff, 1996 : 18). Alat analisisnya adalah ilmu pendidikan Islam, yakni suatu disiplin ilmu yang membicarakan teori-teori pendidikan baik secara teoritis maupun praktis.

 

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

  1. Tujuan Penelitian
    1. Untuk mengetahui pendidikan usia dini dalam keluarga.
    2. Untuk mengetahui penafsiran para mufasir terhadap Q.S. Luqman ayat 13 menurut beberapa tafsir
    3. Untuk mengetahui implikasi paedagogis Q.S. Luqman ayat 13 tentang pendidikan anak usia dini dalam keluarga.
  2. Kegunaan Penelitian
    1. Kegunaan Teoritis
        Mengembangkan ilmu pendidikan, khususnya bagi penulis umumnya bagi para pendidik, untuk memberikan gambaran tentang cara mendidik anak dengan baik di usia dini sesuai dengan ajaran Islam.
    1. Kegunaan Praktis
          Untuk mengsosialisasikan tentang pentingnya pendidikan usia dini dalam keluarga menurut Al-Qur’an surat Luqman ayat 13, hal ini diharapkan dapat memberikan pemahaman pengetahuan yang sangat berguna bagi masyarakat luas.

D. Kerangka Pemikiran

    Masa sebelum memasuki masa Sekolah Dasar, sejak saat dilahirkan hingga usia tujuh tahun, pada umumnya merupakan periode yang sukar bagi setiap orang. Ini disebabkan karena pondasi kehidupan masa depan seseorang terbentuk dan ditentukan pada masa tersebut.
Seorang anak baik laki-laki atau perempuan adalah amanat Allah yang dipercayakan kepada orang tua. Hari anak disiapkan untuk menerima segala sesuatu, dan akan cenderung pada sesuatu yang menarik perhatiannya. Oleh karena itu jika anak dibiasakan dengan prinsip dan kebiasaan yang baik dan benar maka ia akan menjadi terbiasa dan tumbuh dengan kualitas pribadi yang baik. (Mahjubah, 1992 : 26-27).
Imam Ghazali manyatakan:    “Bayi itu merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya suci dan bersih. Jika dibiasakan dan diajari kebaikan; ia akan tumbuh dengan kebiasaan dan pengajaran ini, dan akan berbahagia di dunia dan akhirat.” (Nashih Ulwan, 1992 : 60).
Secara kodrati bayi dilahirkan dalam keadaan suci, keluargalah yang membesarkannya menjadi baik atau buruk. Keluarga dan pendidikan dapat berpengaruh bahkan menghilangkan sifat-sifat khas yang diwarisinya. Anak adalah “buku catatan alam” yang mendapatkan “tulisan”, dan keluargalah yang menuliskan kalimat angkuh, baik dan buruk diatasnya.
    “Keluarga memiliki tanggung jawab terhadap pembentukan kepribadian anak, juga dalam menentukan kebijaksanaan yang akan diambil olehnya pada masa sekarang dan mendatang. Dan unit keluargalah yang bertanggung jawab atas terbentuknya sifat anak yang membangun atau merusak”. (Mahjubah, 1992 : 29).
    Rasulull
ah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَ اْلفِطْرَةِ فَاِنَّ اَبَوَاهُ يُهَوِّدَا نِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَا نِهِ

Artinya:

    “Setiap anak yang dilahirkan kedunia adalah suci” ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”.
    “Dalam Islam ada dua konsep ajaran Rasulullah SAW yang maknanya sangat padat dan memiliki kaitan erat dengan tujuan pendidikan yaitu iman dan taqwa”. (Ahmad Tafsir, 1995 : 67)
    Kedua konsep itu tidak dapat dipisahkan. Taqwa merupakan asas dari kebajikan, dan bahkan sebagai induk segala perbuatan dan ibadah manusia. Sedangkan iman merupakan pernyataan pembenaran dalam qalbu sehingga manusia terbebas dari berbuat dusta. Lebih jauh lagi menurut Syari’at Islam Iman adalah I’tikad dalam kalbu dan ikrar dengan lisan yang diwujudkan dalam berbagai amalan dengan segala ketentuannya. Ini berarti bahwa seseorang yang beriman, pasti berserah diri kepada Allah Swt; artinya menjadi muslim hakiki apabila qalbu seseorang telah diisi oleh iman, maka segala perbuatan dan perilakunya akan dibimbing dan diarahkan oleh iman itu.
    Untuk menamkan iman dan taqwa dari segi teori adalah menanamkan kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, adapun dari segi prakteknya ialah dengan mempersiapkan dan membiasakan anak untuk mengimani di lubuk hatinya bahwa tidak ada pencipta selain Allah.
    Bersamaan dengan potensi pikir dan potensi rasa yang merupakan hidayah dari Allah SWT, setiap anak memiliki pula potensi kehendak. Oleh sebab itu, sebagai orang tua terutama ibu haruslah menanamkan sifat-sifat yang baik dan mengandung segala makna.
    Untuk memudahkan dalam memahami kerangka pemikiran ini, maka penulis gambarkan dalam bentuk bagan berikut ini.

 


 

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM KELUARGA


 

 


 


 


 


 


 


 


 


 

D. Langkah -Langkah Penelitian

Secara spesifik pengkajian masalah di atas dapat diuraikan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Menentukan jenis data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis data kualitatif yang menyangkut data-data tentang masalah yang akan dibahas dalam penelitian yaitu
implikasi paedagogis Quran Surat Luqman ayat 13 tentang Pendidikan Anak Usia Dini dalam Keluarga.
Menurut Lofland yang dikutip oleh Lexy Maleong (1999:112) jenis data utama dalam penelitian adalah kata-kata dan tindakan, data tertulis, photo dan statistik.
Dari ke empat jenis data yang disebutkan oleh Lofland, jenis data tertulis yang dijadikan dalam kajian penelitian ini.
  1. Sumber Data
Sumber data utama penelitian ini adalah kitab-kitab tafsir yang memuat ulasan
Mufassir atas surat Luqman ayat 13, dan literatur-literatur lain sebagai sumber data
pelengkap. Berikut ini adalah beberapa kitab tafsir yang menjadi sumber utama:
  1. Tafsir Jalalain
  2. Tafsir Al-Maraghi
  3. Tafsir Fathul Bayan
  4. Tafsir Al-Misbah
  5. Tafsir fi Zhilalil Qur’an
  6. Tafsir AL-Azhar
  1. Tehnik Pengumpulan Data
Jenis data dari sumber di atas dikumpulkan dengan menggunakan tinjauan pustaka. Menurut Bisri (1999:35) langkah-langkah yang dilakukan dalam tinjauan pustaka ada empat yaitu:
  1. Melakukan inventarisasi judul-judul bahan pustaka yang berhubungan dengan masalah penelitian.
  2. Melakukan pemilihan isi dalam bahan pustaka. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pemilihan topik dalam daftar isi atau sub judul dalam masing-masing judul.
  3. Melakukan penelaahan terhadap isi tulisan dalam pustaka. Penelaahan ini dilakukan dengan cara pemilihan unsur-unsur metodologi yang berhubungan dengan masalah-masalah penelitian.
  4. Melakukan pengelompokan hasil bacaan yang telah ditulis sesuai dengan rumusan yang tercantum dalam masalah penelitian.
  1. Pendekatan Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis (content analysis) yang bersifat normatif seperti tentang teks al-Quran dan pemikiran ulama (Bisri, 1999:56)
  1. Analisis Data
Menurut Patton yang dikutip oleh Lexy Maleong (1999:103) bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian data, maka dalam penelitian ini analisis data bermaksud untuk mengorganisasi data dan menjadikan data yang teratur.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data adalah
  1. Pemerosesan satuan
    Langkah ini adalah mencari data dengan menginventarisir seluruh data yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas di berbagai sumber vang
    akan di bahas dari berbagai bahan yang diperlukan.
    Kategorisasi ini dilakukan setelah pemerosesan satuan. Setelah terkumpul data tersebut disesuaikan dengan masalah atau tujuan penelitian, kemudian dibuat kisi-kisi sehingga diperoleh kelengkapan dari data untuk setiap komponen variabel judul.
  2. Interpretasi
    Langkah ini dilakukan terhadap keseluruhan data yang telah diproses sebelumnya, kemudian ditarik sebuah kesimpulan.
  1. Membuat Kesimpulan
Dalam mengambil kesimpulan didasarkan pada data yang terkumpul dan tidak keluar dari batas data. Kesimpulan dalam penelitian merupakan hasil dari suatu proses yaitu memindahkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain. (Arikunto, 1999:344).
Download 
1, 2, 3, 4, 5,

 

 


 


 


 


 


 

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Skripsi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s