PERANAN MUHADHARAH DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KHITABAH SISWA

BAB I
PENDAHULUAN

 

 
  1. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama dakwah yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam kepada seluruh umat manusia. Sebagai rahmat bagi seluruh alam Islam dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia bila mana ajaran Islam yang mencakup segenap aspek kehidupan itu dijadikan sebagai pedoman hidup (way of life) dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh (Abdul Rosyad Shaleh:1993:1).
Dakwah Islam adalah suatu kemestian yang dibebankan kepada setiap laki-laki dan wanita mukmin yang mukallafi. Allah Azza Wa Jalla telah memilihkan dakwah sebagai jalan yang harus ditempuh oleh setiap mukmin, agar bias meraih kemenangan. Maka sungguh beruntunglah mereka yang telah mengikhlaskan dirinya meniti jalan dakwah sebagai upaya mencapai ridho-Nya. (Abu Ahmad, 1994:1)
Kewajiban mendakwahkan agama adalah bukan hal yang baru bagi umat Islam. Kewajiban tersebut merupakan kewajiban dasar manusia untuk selalu mengabdi kepada kebenaran. Kondisi sekarang yang begitu kompleknya dan manusia merupakan makhluk sosial yang hidup ditengah-tengah komplesitas sistem kemasyarakatan yang terus berubah dan terus berkembang dari masa kemasa yang akan mempengaruhi pola pikir manusia. Oleh Karena itu tugas dan kewajiban dakwah dalam sejarah Islam bukan suatu yang dipikirkan sambil lalu, melainkan yang sejak semula diwajibkan bagi pengikutnya, seperti yang tersirat dalam Al- Qur’an surat an-Nahl ayat 125.
Sains dan teknologi serta kemajuan zaman yang tidak mengindahkan norma-norma agama dan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi masyarakat, menyebabkan manusia sekarang mengalami dekadensi moral yang menyebabkan krisis insani. Maka untuk mengembalikan nilai-nilai tersebut diperlukan adanya da’i dan mubaligh yang handal dan berkualitas serta menguasai bagaimana cara berkhitabah yang baik dan benar, yaitu memiliki pengetahuan yang banyak. Mempunyai keahlian (skill) dalam berdakwah sehingga mampu menyampaikan dan menjelaskan ajaran Islam dalam situasi apapun.
Untuk mencapai keberhasilan dakwah tersebut maka diperlukan adanya pembinaan yang terus menerus (kontinyu) khususnya kapada para pendukung dan pelaksana (da’i) dan umumnya kepada generasi-generasi muda. Dan salah satunya dengan mengadakan pembinaan kepada generasi-generasi muda Islam sejak dini. Sehubungan dengan hal tersebut Madrasah Tsanawiyah Quwatul Iman yang berada dibawah naungan Yayasan Mika Asih dan dikepalai oleh Bapak Agus Sukmana,S.Ag menerapkan Muhadharah dalam kurikulum sekolah tersebut. Melalui kegiatan muhadharah ini para siswa dilatih untuk berbicara menyampaikan ceramah di depan teman-temannya yang lain secara bergantian.
Melalui muhadharah ini siswa dilatih berbicara di depan kelas lanyaknya seorang da’i yang sedang berdakwah yang sebelumnya telah dibekali teknik-teknik berdahwah dan menyampaikan pesan-pesan dakwah tersebut dengan maksud agar mereka memiliki keberaniaan untuk berbicara didepan publik (public speaking). Adapun pelaksanaanya diadakan secara rutin setiap minggu sebanyak satu kali yaitu pada hari Rabu dengan menggunakan empat bahasa yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda.
Melalui kegiatan muhadharah ini para siswa dilatih berbicara di depan orang-orang banyak (teman-temannya) layaknya seorang da’i yang sedang berdakwah menyampaikan pesan-pesan dakwahnya yang sebelumnya mereka diberi pengarahan dan pengetahuan tehnik-tehnik dakwah/khitabah dimulai dari retorika, dan mimik muka dalam menyampaikan pesan atau materi-materi dakwahnya. Pelajaran muhadharah ini dilaksanakan dengan maksud agar mereka memiliki bekal dan keberanian untuk berbicara di depan orang banyak serta memiliki pengetahuan yang luas ketika tiba saatnya bagi mereka mengabdikan diri kepada masyarakat.
Jika kegiatan muhadharah merupakan salah satu sarana latihan berpidato bagi para siswa yang rutin diadakan setiap minggunya maka mereka akan terbiasa berbicara di depan orang-orang banyak serta mahir berceramah menyampaikan pesan-pesan dakwah dihadapan umum dengan gaya bahasa serta tutur kata yang menarik serta menambah perhatian yang mendengarkanya dan pada akhirnya mereka menjadi kader-kader da’i yang handal dan berkualitas serta menguasi teknik dalam menyampaikan dakwah tersebut tetapi pada kenyataanya ditemukan fenomena menarik. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan penulis di Madrasah Tsanawiyah Quwatul Iman yaitu masih banyak siswa yang walaupun sudah pernah mengikuti pelajaran ini bahkan sudah lulus dari pelajaran muhadharahnya tersebut ketika mendapatkan kesempatan untuk mempraktekkannya di luar sekolah seperti di pesantren atau terjun langsung di masyarakat, mereka tidak siap bahkan tidak mampu untuk melakukannya.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merasa tertarik untuk menjadikan penelitian dan membahaskannya dalam bentuk skipsi dengan mengetengahkan judul “PERANAN MUHADHARAH DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KHITABAH SISWA MTS QUWATUL IMAN (Penelitian di MTs Quwatul Iman Kp. Nunuk Wetan Desa Mekar Sari Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung)”.

 
  1. Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, dapat dirumusakan masalah penelitian sebagai berikut :
  1. Bagaimana kegiatan muhadharah di Madrasah Tsanawiyah Quwatul Iman ?
  2. Bagaimana penguasaan khitabah siswa di Madrasah Tsanawiyah Quatul Iman?
  3. Bagaimana peranan muhadharah dalam meningkatkan penguasan khitabah siswa di Madrasah Tsanawiyah Quwatul Iman?
     
  1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan beberapa rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui
    kegiatan muhadhrah di Madrasah Tsanawiyah Quwatul Iman
  2. Untuk mengetahui peranan muhadharah dalam meningkatkan penguasaan khitabah siswa di Madrasah Tsanawiyah Quwatul Iman
  3. Untuk mengetahui penguasaan khitabah siswa di Madrasah Tsanawiyah Quwatul Iman

 
  1. Kegunaan Penelitian
    1. Secara teoritis diharapkan menjadi pendorong bagi peneliti lebih lanjut dan sempurna dalam upaya mengkaji dan mengembangkan metodologi dakwah.
    2. Secara akademis diharapkan dapat melahirkan metodologi dakwah dan aktivitas yang lebih gencar dengan cara mengembangkan ajaran Islam dengan mendisiplinkan ya
      ng lain sebgai upaya pengembangan dakwah Islamiyah.
    3. Secara praktis dapat dijadikan rujukan penting bagi para pengkaji dakwah dalam usaha mengembangkan meminpin umat menuju kebenaran.

 
  1. Kerangka Pemikiran
Dakwah merupakan kewajiban yang Allah berikan kepada manusia sebagaimana firmannya dalam Al Qur’an surat Ali Imron ayat 104

 
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 

 
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebijakan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar mereka itulah orang-orang yang beruntung “
Bagi seorang muslim dakwah merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, kewajiban dakwah merupakan sesuatu yang bersifat conditiosine quanon, tidak mungkin dihindarakan dari kehidupanya. Dakwah karenanya melekat bersamaan dengan pengakuan dirinya sebagai seorang yang mengidentifisir diri sebagai seorang yang menganut Islam, sehingga orang yang mengaku diri sebagai seorang muslim mereka secara otomatis pula dia itu seorang juru dakwah.
Sebagaimana yang diajarkan dan diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw yang menyatakan:
بَلَّغُوْا عَنِّى وَلَوْ اَيَةً
“Sampaikan apa yang kamu terima dari padaku walaupun hanya satu ayat (Tasmara:1997:32)
Hadis tersebut menerangkan bahwa dakwah merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, bahkan tidak berlebihan kiranya apabila kita katakana bahwa tidak sempurna bahkan sulit kita katakana bahwa seorang itu muslim apabila ia menghindar atau membutakan matanya dari tanggung jawab sebagai juru dakwah.
Dakwah sebagai satu proses penyadaran untuk mendorong manusia untuk agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya, dilakukan dalam bentuk seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha merubah suatu situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna baik terhadap pribadi atau masyarakat (M.Quraish Shihab 1992:1994).
Abu Zahrah (1994:142) menyatakan bahwa da’i Islam dituntut untuk memiliki fisik dan rasio, kemampuan berkomunikasi, untuk bergaul dan bekerja sama dengan masyarakat dan di dalam jiwanya tertanam optimisme terhadap orang yang menentangnya secara rasional dengan prinsip dasar firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 125.
Berkaitan dengan fenomena di atas, MTs Quwatul Iman sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki fungsi sebagai tempat pengajaran, pemahaman, dan pendalaman ajaran Islam mengantisifasi realita yang ada dengan diadakannya suatu aktivitas mingguan yang didalamnya berisikan serta pelajaran mengenai bagaimana teknik-teknik berbicara di depan orang banyak dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah yang dikenal dengan istilah muhadharah sebagai mata pelajaran mulok yang harus diikuti oleh seluruh siswa MTs Quwatul Iman.
Sebagaimana dipahami bahwa definisi muhadharah bisa diidentikan dengan kegiatan atau latihan pidato atau ceramah yang ditekankan pada skill siswa (Da’i ) dalam mengolah tata aturan atau segala hal yang terkait dalam proses tersebut. Kegiatan muhadharah dimaksudkan untuk mendidik para siswa agar terampil dan mampu berbicara di depan khalayak untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam dihadapan umum.
Menurut Asmuni Syukir (1993:105-106): ceramah berarti banyak cakap, pidato membahas suatu masalah, seni bertutur kata dan secara sematik berarti suatu teknik atau metode dawah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara oleh seseorang atau mubaligh pada suatu aktivitas dakwah.
  1. Khotib, yaitu seseorang yang memberikan materi khitabah;
  2. Materi khitabah, merupakan isi pesan yang disampaikan seorang da’i;
  3. Mad’u, yang menjadi sasaran khitabah;
  4. Media, merupakan saluran khitabah;
  5. Efek, yaitu hasil apa yang dapat dicapai dari kegiatan dengan cara khitabah.
Khitabah merupakan ilmu yang membicarakan dan mengkaji cara berkomunikasi dengan menggunakan seni atau kepandaian berbicara (berceramah). Khitabah ini sering dikatakan suatu teknik atau metode dawah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara seorang da’i pada suatu aktifitas da’wah (Asmuni, 1982:104).
Dalam muhadharah para siswa dituntut untuk berceramah dengan penguasaan, teknik, materi, dan gaya bahasa dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu salah satu ilmu yang harus diketahui para siswa adalah ilmu tentang cara-cara menyajikan dan menyampaikan materi da’wah dihadapan mad’u yang disebut rethorika. Pengertian rethorika menurut Onong Uchyana Effendi (1997:53) adalah ilmu yang membicarakan masalah bicara dan pengertian secara luas dalam penggunaan bahasa bisa lisan maupun tulisan.

 
Rethorika adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang seluk-beluk bicara, sehingga tentang rethorika akan terlahir pembicaraan yang baik, menarik dan pada akhirnya mampu menarik perhatian jamaah untuk menyiniak dan memperhatikan pesan (materi) khitabah itu sendiri.
Aristoteles mengungkapkan beberapa fungsi rethorika, yang salah satunya adalah rethorika merupakan langkah atau upaya untuk mempengaruhi khalayak (jamaah) dan selanjutnya Aristoteles Mengungkapkan tiga cara untuk mempengaruhi khalayak, yaitu:
  1. Ethos: yaitu kita harus sanggup menunjukan pada khalayak bahwa kita memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya dan status yang terhormat.
  2. Patos: yaitu kita harus dapat mcnyentuh hal khalayak: perasaan, emosi, kasih sayang dan kebenciannya.
  3. Logos. yaitu kita harus meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau kelihatan sebagai bukti, sehingga dalam hal ini kita mendekati khalayak lewat otaknya. (Jalaludin Rahmat, 2000 : 7).
Pertimbangan lain yang harus diperhatikan dalam rethorika adalah kemamapuan seorang orator atau da’i dalam hal logika dengan alasan, setiap pembicara tidak hanya sekedar menyampaikan tetapi juga dibutuhkan suatu bentuk kesimpulan agar dengan cara tersebut dapat dihindari suatu kesimpulan yang salah dari pihak khalayak atau pendengar.
Dengan demikian, hal yang paling dominan dalam rethorika adalah:
  1. Pengetahuan bahasa
  2. Pengetahuan materi
  3. Kelincahan berlogika
  4. Pengetahuan atas jiwa masa
  5. Pengetahuan atas sistem sosial budaya masyarakat (Tasmara, 1997:131-137).
Adapun sifat ciri atau nilai-nilai pribadi yang hendaknya dimiliki oleh peminpin dakwah (da’i) itu antara lain adalah berpandangan jauh kemasa depan, bersikap dan bertindak bijaksana, berpengetahuan luas, bersikap dan bertindak adil, berpendirian teguh, mempunyai kenyakinan bahwa misinya akan berhasil, berhati ikhlas, memiliki kondisi fisik yang baik, dan mampu berkomunikasi (A.Rosyid Shaleh :1993, 34-42).
Mengenai hal itu Abu Zahra (1994:155) mengungkapkan bahwa seorang da’i itu harus memiliki karakteristik hati yang ikhlas mengetahui rethorika dan media, memahami isi Al-Qur’an dan sunnah, menjauhkan diri dari hal yang haram dan subhat. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut di atas dalam upaya mempersiapkan dan menyediakan kader-kader da’i dan mubaligh yang memiliki persiapan mental dan intelektualitas profesional adalah dengan diadakannya pelatihan-pelatihan yang secara terus menerus, yang bertujuan untuk mencetak orang-orang yang mempunyai pengetahuan agama yang luas yang pada gilirannya akan menjadi penyiar agama, guru ,dai, dan mubaligh atau bahkan menjadi kiyai-kiyai dan ulama di daerahnya asalnya. Dengan demikian, selain pondok pesantren lembaga pendidik seperti Madrasah Tsanawiyah merupakan tempat yang cukup ideal untuk membina dan membentuk pribadi-pribadi muslim yang beriman dan bertakwa serta berahklak mulia yang pada akhirnya akan menjadi dai dan mubaligh dalam upaya menyiarkan ajaran Islam secara kaffah.
Untuk memperjelas kerangka pemikiran di atas dapat dilihat pada bagan berikut ini:
SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN PERANAN MUHADHARAH DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KHITABAH SISWA MTS QUWATUL IMAN NUNUK WETAN

 

 
  1. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 1993 : 62).
Sementara dalam penelitian ini terdapat sub variabel yaitu independen (variabel x ) dan dependen (variabel y). Peranan muhadharah sebagai variabel dependen (variabel x) dan penguasaan khitabah siswa sebagai variabel dependan (variabel secara asumsi teoritik dapat dikatakan bahwa variabel tersebut mempunyai hubungan yang erat.
Dalam penelitian ini, peningkatan penguasaan khitabah siswa memiliki ketergantungan terhadap peranan khitabah, maka semakin tinggi pula tingkat penguasaan khitabah siswa.

 
  1. Langkah-Langkah Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan langkah-langkah penelitian sebagai berikut:
  1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Quwatul Iman Kp. Nunuk Wetan Desa Mekar Sari Kec. Pacet Kab. Bandung. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian mengingat dilokasi inilah adanya permasalahan yang perlu dicari pemecahannya. Selain itu, lokasi ini dipilih mengingat data-data yang diperlukan cukup tersedia, yang berkenaan dengan peranan latihan muhadharah dalam meningkatkan penguasaan khitabah siswa MTs Quwatul Iman Nunuk Wetan.
  1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian korelasi, menurut Suharsimi Arikunto (1997 : 251), penelitian korelasi bertujuan untuk menentukan ada tidaknya hubungan. Dan bila ada berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan itu.
  1. Jenis Data
Jenis data yang dipergunakan dalan penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Adapun jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini bertitik pada permasalahan yang diajukan, yaitu:
  1. Data tentang kegiatan muhadharah di MTs Quwatul Iman
  2. Data tentang penguasaan khitabah siswa MTs Quwatul Iman
  3. Data tentang peranan muhadharah dalam meningkatkan penguasaan khitabah siswa MTs Quwatul Iman
  1. Sumber Data
Sumber data yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data skunder.
  1. Data primer
    Sumber data primer adalah sumber-sumber yang membeikan data langsung dari tangan penama. Adapun data primer dalam penelitian ini adalah bersumber dari para siswa MTs Quwatul Iman yang mempunyai hubungan langsung dengan masalah yang penulis bahas, yaitu para siswa MTs Quwatul Iman Nunuk Wetan yang melaksanakan kegiatan muhadharah.
  2. Data Sekunder
    Sumber data skunder adalah sumber yang mengutif dari sumber lain (Surakhmad,1990:134). Data dalam penelitian ini adalah sejumlah data memiliki hubungan dengan masalah yang penulis bahas, dalam hal ini data sekunder yang digunakan adalah kepala sekolah, para guru dan dokumen-dokumen pada bagian sekolah.
  3. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan keseluruhan subejk penelitian (Suharsimi Arikunto, 1996:115), sedang sampel adalah sebagian atau wakil yang diteliti. Populasi adalah keseluruhan jumlah siswa MTs Quwatul Iman yang mengikuti kegiatan muhadharah, mereka seluruhnya berjumlah 140 orang. Karena jumlah tersebut lebih dari 100 orang, maka yang akan dijadikan sampel dari penelitian ini 25%. Menurut Suharsimi Arikunto (1997:120), jika jumlah obejeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Jika jumlah dari 175 orang dikalikan 39% maka yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 70 orang.
  1. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, digunakan teknik-teknik sebagai berikut :
  1. Obsevasi
    Obsevasi merupakan teknik pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala-gejala subjek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam situasi sebenarnya maupun dilakukan dalam situasi buatan yakni khusus diadakan (Winarno Surakhman, 1998:162) sesuai dengan teori tersebut penulis mengadakan pengamatan langsung ke lokasi penelitian. Hal yang diteliti dalam teknik observasi
    ini yaitu untuk mendapatkan gambaran umum tentang siswa di MTs Quwatul Iman dan gambaran umum tentang lokasi penelitian MTs Quwatul Iman Pacet-Bandung.
  2. Wawancara
    Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh wawancara (interviu) (Suharsimi Arikunto, 1994:145) pada penelitian ini wawancara ditujukan pada siswa, guru, kepala sekolah, dan pengurus lainnya tentang peranan muhadharah dalam meningkatkan penguasaan khitabah siswa di MTs Quwatul Iman Nunuk Wetan Ke. Pacet Kab. Bandung.
  3. Angket
    Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 1996:140). Angket ini dimaksudkan untuk menghimpun data yang berkenaan dengan peranan muhadharah dalam meningkatkan penguasaan khithabah siswa MTs Quwatul Iman. Angket diberikan kepada seluruh siswa MTs Quwatul Iman kelas II yang berjumlah 175 orang. Mengenai peranan muhadharah dalam meningkatkan pengasaan khitobah siswa MTs Quwatul Iman.
    Dalam penyebaran angkat ini peneliti akan memberikan beberapa pertanyaan kepada responden dengan disertai lima alternatif jawaban (option), yaitu a, b, c, dan e penyekorannya untuk positif, option a berbobot 5, option b berbobot 4, option c berbobot 3, option d berbobot 2, dan option e berbobot 1. Sedangkan untuk yang negatif adalah sebaliknya option a berbobot 1 option b berbobot 2, option c berbobot 3, option d berbobot 4, dan option e berbobot 5.
    Untuk melengkapi data penulis juga mewancarai guru pada mata pelajaran muhadharah ini.
  4. Teknik Pengelohan Data
Untuk menganalisis data yang diperoleh, maka proses yang dilakukan oleh peneliti adalah analisis melalui pendekatan kuantitatif. Analisis data kuantitatif ini diperoleh dengan analisis statistic sebagai berikut :
  1. Analisis Parsial
Analisis parsial yaitu analisis yang dilakukan untuk mendalami dua variabel secara terpisah, dalam hal ini untuk mengetahui variabel peranan muhadharah (x) dan peningkatan penguasaan khitabah siswa (y). Dalam menganalisis data parsial ini tiap variabel ditempuh dengan langkah-langkah berikut :
  1. Mencari rata-rata tiap variabel dengan langkah-langkah :
    1. Menghitung jumlah skor yang diperoleh dari tiap-tiap jawaban item dan mengelompokkan sesuai dengan yang diperoleh dari responden
    2. Menjumlahkan seluruh jawabanitem dalam tiap-tiap indicator kemudia membaginya dalam dengan banyak reponden.
    3. Menghitung jumlah skor indikator dan membaginya dengan jumlah seluruh item serta banyaknya responden.

      Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut P : Q : R = S

      Keterangan : P = Jumlah Skor Item        Q = Banyaknya item

              R = Banyaknya Responder     S = Rata-Rata Skor

                              (Sudjana, 1996:47)

  2. Uji Normalitas masing-masing variabel dengan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Mencari rentang, dengan rumus

    R = X max – Xmin                (Sudjana,1996:47)

  • Mencari kelas interval (K) dengan rumus:

    K = 1 + 3,3 Log n                (Sudjana,1996:47)

  • Mencari panjang kelas interval (P) dengan rumus:

    P = R : K                    (Sudjana,1996:47)

  • Menyusun tabel distribusi frekwensi dan ekspektasi
  • Menghitung mean dengan rumus:

    X                    (Sudjana,1996:47)

  • Menghitung simpanan baku /standar deviasi dengan rumus

    SD = Ö            (Sudjana,1996:47)

  • Menghitung harga baku (Z hitung) dengan rumus

    Z hitung =                 (Sudjana,l996:47)

  • Menghitung luas interval dengan rumus :

    I = [ Z bawah hitung tabel – Z atas tabel ]     (Sudjana,1996:47)

  • Menghitung frekwensi ekspektesi (Ei) dengan rumus:

    Ei = n x I                        (Sudjana,1996:47)

  • Menghitung Chi kuadrat ( x2 ) dengan rumus :

    X2 =                     ( Sudjana,1996:173)

  • Mencari derajat kebebasan (db) dengan rumus :

    db = K-3                        (Sudjana,l996:173)

  • Menentukan nilai X tabel dengan taraf sigtifikansi 5%
  • Menginterpretasikan hasil pengujian normalitas dengan ketentuan
    • Data dikatakan normal jika X hitung < harga X tebel
    • Data dikatakan tidak normal jika X hitung ³ harga X tabel
  • Analisis Korelasi
Untuk menganalisis katerkaitan antara variabel X dan Variabel Y dilakukan dengan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
  • Menghitung persamaan regresi, dengan rumus :

    Y = a + b X dimana a =

    b.=

                            (Sudjana, 2000:315)

  • Menghitung koefisien
  1. kedua variabel berdistribusi normal, maka digunakan rumus korelasi product mement, yaitu:
    (Suharsimi A,1998:156)
  2. Jika salah satu atau dua variabel tidak berdistribusi normal, maka menggunakan rumus Rank dari Spearman sebagai berikut:

                    (Suharsimi A,1998:262)

Apabila koefisien korelasinya telah diperoleh, langkah selanjutnya adalah menentukan uji signifikansi korelasi dengan menggunakan rumus :
          &nb
sp;         (Sudjana,1996:380)
Jika menggunakan rumus Rank maka uji signifikansinya menggunakan rumus transformasi Fisher, yakni:
Z =1/2 Log n[ l + r : 1-r]            (Sudjana,1996:377)
Jika ternyata t hitung ³ t tabel, maka korelasi antara variabel X dan variabel Y adalah signifikans, akan tetapi sebaliknya jika t hitung < t tabel, maka variabel X dan variabel Y tidak signifikans.
  • Menentukan tinggi rendahnya korelasi
  1. 0.000 – 0,200 = Hampir tidak ada korelasi
  2. 0,200 – 0,400 = Korelasi Rendah
  3. 0,400 – 0,600 = Korelasi sedang
  4. 0,600 – 0,800 = Korelasi tinggi
  5. 0,800- 1.000 = Korelasi sempurna
    (Suharsimi Arikunto, 1997:260)
  • Mengukur tinggi rendahnya Variabel X terhadap Variabel Y dengan menggunakan Rumus Frederict A. Court

    E = 100 (1-K) dimana K=    

    (A. Hasan Gaos, 1983:116)


  Download lihat di daftar download skripsi

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Skripsi. Bookmark the permalink.

3 Responses to PERANAN MUHADHARAH DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KHITABAH SISWA

  1. halimah says:

    kok gak bisa

  2. abid in says:

    kog gak bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s