Makalah Ta’lim

 

KAJIAN KATA AL-TA’LIM DALAM HADITS

 

  1. Pendahuluan

Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanaya. Sebagian orang menganggap mengajar hanya sebagian dari upaya pendidikan. Mengajar hanya dianggap sebagai salah satu alat atau cara dalam menyelenggarakan pendidikan, bukan pendidikan itu sendiri.

Konotasinya jelas, karena mengajar hanya salah satu cara mendidik maka pendidikan pun dapat berlangsusng tanpa pengajaran. Anggapam ini muncul karena adanya asumsi tradisional yang menyatakan bahwa mengajar itu merupakan kegiatan guru yang hanya menumbuhkembangkan ranag cipta murid-muridnya, sedangkan ranah rasa dan karsa mereka terlupakan.

Sebagian orang menganggap bahwa mengajar tak bebeda dengan mendidik. Oleh karenanya, istilah mengajar/ pengajaran yang bahasa Arab disebut taklim (ta’lim) dan dalam bahasa Inggris teaching itu kurang lebih sama artinya dengan pendidikan yakni tarbiyah dalam bahasa Arab dan education dalam bahasa Inggris. Imlikasinya ialah, setiap kegiatan kependidikan yang bersifat formal hendaknya dilakukan oleh pendidik prifesional yang bertugas antara lain melakukan pembelajaran.

Meskipun hingga kini masih banyak orang bersikeras mempertahankan ketidaksamaan antara mengajar dengan mendidik, dalam kenyataan sehari-hari tidak terdapat perbedaan yang tegas antara keduanya. Sebagai contoh, seorang guru yang pekerjaan sehari-harinya mengajar di kelas V misalnya, memang lazim juga disebut pendidik, bahkan jarang sekali orang menyebutnya sebagai pengajar. Namun, ketika ia sedang menjalankan tugasnya di dalam kelas, orang tak akan pernah mengatakan, “Pak guru sedang mendidik murid-murid kelas V.”

Ungkapan ini tentu tidak salah, namun tidak lazim dan membawa kesan berlebihan. Adapun ungkapan lain yang lebih umum dipakai sebagai penganti ungkapan tadi, yakni,” Pak guru sedang mengajar murid-murid kelas V.” sudah tentu, kata “mengajar” dalam ungkapan terakhir itu tidak terlepas dari mendidik sebagaimana yang telah disinggung di muka.

Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai penyaji pelajaran khususunya di kelas, guru tidak hanya dituntut mentransfer pengetahuan atau isi pelajaran yang disajikan kepada para siswanya melainkan lebih daripada itu. Sepanjang memungkinkan, guru juga harus mentransfer kecakapan rasa yang terkandung dalam materi pelajaran yang disajikan. Dalam arti yang lebih ideal, mengajar bahkan mengandung konotasi membimbing dan membantu untuk memudahkan siswa dalam menjalani proses perubahannya sendiri, yakni proses belajar untuk meraih kecakapan cipta, rasa, dan karsa yang menyeluruh dan utuh. Sudah tentu kecapan-kecakapan seluru ranah psikologis tersebut tak dapat dicapai sekaligus tetapi berproses, setahap demi setahap. Dalam makalah ini akan dibahas kata al-Ta’lim dalam al-Qur’an dengan merujuk kepada pakar-pakar tafsir al-Qur’an.

B. Pengertian al-Ta’lim

Kata ta’lim adalah masdar dari kata عاّم yang diambil dari yang berpola kepada فعّل . Wazan ini salah satu fungsinya adalah li-ta’diyat, yaitu untuk menjadikan kata kerja yang asalnya tidak berobjek, menjadi berobjek, atau kata kerja yang asalnya berobjek satu, menjadi dua.

Para ahli bahasa Arab telah memberikan arti pada kata ‘alima dengan beberapa arti. Arti-arti itu dapat dilihat dalam penggunaannya dikalangan orang Arab. Misalnya, ‘alimatu’sy-syai-a artinya ‘araftu (mengetahui, mengenal), ‘alima bi’sy-syai-i artinya sya’ara (mengetahui, merasa), dan ‘alima’r-rajula artinya khabarahu (memberi kabar kepadanya). Kata al-‘ilmu (العلم) yang merupakan mashdar dari علم bermakna idraku sy-syai-a bi haqiqatihi (mengetahui sesuatu dengan sebenar-benarnya), sedangkan kata ‘alima sendiri
artinya ‘arafahu wa tayaqqanahu (mengetahui dn meyakininya).

Al-Munawwir menyebutkan makna علم العلم dengan arti mengajar. Begitu juga dengan علّمه, artinya hadzdzabahu (mendidik). Kata a’lama yang bentuk mashdarnya al-i’lam berarti memberitahu. Kata ta’lim artinya talqinu’d-darsi (pengajaran) dan bermakna at-tahdzib. Az-Zubaidi menyebutkan bahwa ta’lim dan al-i’lam adalah satu makna, yaitu pemberitahuan. Sejalan dengan pendapat di atas, Al-Ashfahani menambah penjelasan lebih rinci untuk membedakan makna di antara keduanya. Menurutnya,

أَعْلَمْتُهُ وَعَلَّمْتُهُ فيِ اْلاَصْلِ وَاحِدٍ اِلاَّ أَنَّ الاِعْلاَمْ اِخْتَصَ بِمَا كَانَ بِاِخْبَارِ سَرِيْعٍ, وَالتَّعْلِيْمَ اِخْتَصَ بِمَا يَكُوْنُ بِتَكْرِيْرِ وَتَكْثِيْرٍ حَتىَّ يَحْصِلُ مِنْهُ أَثَرٌ فيِ نَفْسِ اْلمُتَعَلِّيْمِ وَتَعْلِيْمُ تَنْبِيْهُ النَّفْسِ لِتَصَوُّرِ اْلمَعَانيِ

Kata a’lamtuhu dan ‘allamtuhu pada asalnya satu makna, hanya saja al-i’lam diperuntukkan bagi pemberitahuan yang cepat, sedangkan ta’lim bagi pemberitahuan yang dilakukan dengan berulang-ulang dan sering sehingga berbekas pada diri muta’allim (peserta didik). Dan ta’lim adalah menggugah untuk mempersepsikan makna dalam

pikiran.

Dari uraian di atas, uraian yang di kemukakan Al-Ashfahani cukup jelas dan dapat dipahami dalam hal memberi makna ta’lim. Dan kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa makna ta’lim secara bahasa adalah memberitahukan, menerangkan, mengkhabarkan, yaitu memberitahukan atau menerangkan sesuatu (ilmu) yang dilakukan dengan berulang-ulang dan sering sehingga dapat mempersepsikan maknanya dan berbekas pada diri muta’allim. Dalam penggunaan makna selanjutnya ta’lim diartikan dengan makna pengajaran dan

kadang diartikan juga dengan makna pendidikan.

 

C. At-Ta’lim dalam Hadits

Untuk melengkapi dan menambah penjelasan makna at-ta’lim dalam al-Qur’an, di bawah ini disertakan beberapa hadits sebagai berikut.

يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيْثِكَ, فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِيْكَ فِيْهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللهُ…

Wahai Rasulullah saw, kaum lelaki telah pergi membawa haditsmu, maka tetapkanlah bagi kami dan dirimu satu hari yang kami bisa datang kepadamu dan engkau mengajar kami dengan apa yang Allah ajarkan kepadamu.

Al-‘Asqalani menjelaskan bahwa ta’lim Nabi saw kepada umatnya, laki-laki dan wanita, dan apa yang Allah swt. telah ajarkan kepadanya, yaitu dengan cara tidak menggunakan pendapatnya dan tidak pula menggunakan qiyas. Menurutnya, seorang ‘alim jika mungkin menjelaskan dengan nash, janganlah menjelaskan dengan pendapatnya dan qiyas.

Dengan demikian ‘allama di sini menunjukkan makna mengajarkan ilmu.


…فَقَالَ : لَوْ رَ جَعْتُمْ اِلىَ بِلاَدِكُمْ فَعَلَّمْتُمُوْ هُمْ, مُرُوْهُمْ فَلْيُصَلُّوْا

صَلاَةَ كَذَا فيِ جِيْنِ كَذَا…

… Lalu beliau (Nabi saw) bersabda, “Kalau kalian pulang ke daerah asal kalian, maka ajarkanlah mereka. Suruhlah mereka agar shalat yang ini pada saat yang ini.

Kalimat fa’allimtumuhum dalam hadits di atas maknanya adalah bi an yu’limu (supaya memberitahukan). Konteks hadits ini menjelaskan bahwa para pemuda (shahabat), yang di antaranya adalah Malik ibnu’l-Huwairits diperintahkan untuk memberitahukan apa yang telah diperoleh dari Nabi saw.
kepada orang di belakang mereka tanpa pilih kasih, karena sama-sama punya hak membaca (kitab), dan memahami agama. Jadi ‘allama menunjukkan makna a’lama.

Secara struktur, objek hum dalam hadits ini menunjukkan bahwa ta’lim bersifat umum, bagi siapa saja dan semua tingkat usia.

جَاءَ نَاسٌ اِلىَ النَّبِيِّ ص فَقَالُوْا أَنِ ابْعَثْ مَعَنَا رِجَالاً يُعَلِّمُوْنَا الْقُرْأَنَ وَالسُّنَّةَ, فَبْعَثَ اِلَيْهِمْ سَبْعِيْنَ رَجُلاً مِنَ اْلاَنْصَارِ يُقَالُ لَهُمُ اْلقُرَّاءُ فِيْهِمْ خَا لىِ حَرَامٌ يَقْرَءُوْنَ اْلقُرْأَنَ وَيَتَدَرَسُوْنَ بِاللَّيْلِ

Orang-orang ada yang datang kepada Nabi saw. lalu berkata, “Utuslah bersama kami beberapa orang yang mengajarkan al-Quran dan as-Sunnah kepada kami. ” Lalu beliau pun mengutus kepada mereka 70 orang lelaki Anshar yang biasa disebut “al-Qurra” ; di tengah-tengah mereka ‘Khali Haram “. Mereka membaca al-Qur’an dan bertadarus di waktu malam.

An-Nawawi tidak menjelaskan makna kata yu’allimuna. Namun demikian, jika dilihat dari konteks kalimatnya, kata itu menunjukkan pada makna, mengajar kami al-Qur’an dan Sunnah dengan berulang-kali. Kata yatadarasuna menunjukkan saling memperhatikan, saling mengoreksi agar terhindar dari kesalahan dan kekeliruan, sekaligus mempelajari maknanya.

Secara konteks, dilihat dari fi’1 amr-nya, yaitu ib’ats, di mana dlamir yang dimaksud adalah anta (kamu seorang lakilaki) yang mengajar, maka artinya proses ta’lim itu memerlukan guru.

…فَبِأَبِيْ هُوَ وَأُمِّيْ مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلاَ بَعْدَهُ أَحْسَنً تَعْلِيْمًا مِنْهُ فَوَاللهِ مَا كَرِهَنِي وَلاَ ضَرَبَنِي وَلاَ شَتَمَنِي قَالَ اِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُهُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ كَلاَ مِ النَّاسِ اِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيْحُ وَالتَّكْبِيْرُ وَقِرَءَ ةُ اْلقُرْأَنِ.

Sungguh demi ayahku dan Ibuku, tidak pernah aku melihat seorang pengajar pun sebelumnya ataupun sesudahnya yang lebih baik mengajar darinya. Dan demi Allah, ia tidak pernah membenciku, tidak pula pernah memukulku dan mencaciku. ia berkata, “Sesungguhnya shalat ini tidak layak padanya sedikit pun omongan manusia. Hanyasanya dia itu tasbih, takbir, dan qira ‘atu’l Quran.

Hadits di atas menjelaskan bagaimana sifat Rasulullah saw. sebagai seorang mu’allim. Beliau sayang kepada yang bodoh, belas kasihan kepada umatnya, bagus dan lembut cara mengajarnya, serta memberikan pemahaman pada muridnya. Mu’awiyah ibnu al-Hakam berkata, “Tidak ada seorang guru sebelum dan sesudahnya yang paling baik mengajarnya selain beliau, dia tidak membenci, memukul, dan mencaci aku.” Padahal dia melakukan kesalahan dalam shalat.

Secara konteks, mu’allim (pengajar) tidak boleh membenci, memukul, dan mencaci muridnya. Dan secara struktur, lafazh ahsana yang dihubungkan dengan ta’lim mengandung pengertian bahwa cara mengajar harus dilakukan dengan baik dan bijaksana.

…قَا لَ يَرْحَمُكَ اللهُ فَاِنَّكَ غَلِّيْمُ مُعَلِّمٌ

ia
berkata, semoga Allah memberi rahmat kepadamu, karena sesungguhnya kamu adalah anak muda kecil yang diberi pengajaran.

Hadits di atas menunjukkan bahwa mu’allam sama dengan mulham yang diberi ilham untuk kebenaran dan kebaikan.

Konteks hadits ini menunjukkan bahwa orang yang diberi ilham itu adalah Ibnu Mas’ud. Hal ini berarti bahwa dalam ta’lim, transpormasi ilmu secara langsung melalui ilham.

Secara struktur, lafazh ghalim dalam hadits di atas menunjukkan bahwa istilah ta’lim dapat diterapkan pada anak kecil.

يَارَسُوْلَ اللهِ, اِنَّا نُرْسِلُ كِلاَبًا مُعَلَّمَةً, قَالَ: كُلْ مَا أَمْسَكْنَ عَلَيْكَ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami melepaskan anjing-anjing yang terlatih. Beliau bersabda, “Makanlah apa yang mereka tangkap untukmu.

Hadits di atas menunjukkan bahwa mu’allamah digunakan untuk anjing buruan yang dilepas untuk memburu. Dengan demikian kata mu’allamah sama dengan mu’addabah yaitu yang dilatih untuk berburu. Secara konteks, orang yang berkata kepada Nabi saw. dalam hadits di atas itu adalah ‘Addi ibnu Hatim.

Secara struktur, kata mu’allamah merupakan sifat dari kilab, hal ini menunjukkan bahwa istilah ta’lim dapat diterapkan pula untuk mendidik binatang.

Berdasarkan data-data penelitian tentang ta’lim dalam al-Hadits di atas dapat disimpulkan, bahwa kata ‘allama digunakan dalam makna: ‘allama sama dengan mengajarkan, a’lama artinya memberitahukan ilmu, alhama artinya memberi ilham, dan addaba artinya melatih.

Selain itu, ta’lim dapat menunjukkan pada proes penyampaian ilmu secara berulang-ulang agar berbekas pada diri pembelajar dan dapat dipahami. Kemudian seorang mu’allim harus memiliki sifat-sifat; tidak pilih kasih, sayang kepada yang bodoh, baik dalam mengajar, bersifat lemah lembut, mampu memberi pengertian dan pemahaman, dan dalam menjelaskan hendaknya menggunakan nash, tidak dengan ra’yu dan qiyas, kecuali bila diperlukan.

 

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s