Skripsi PAUD B III

BAB III

METODE PENGAMATAN

http://www.ziddu.com/download/11658984/BABIII.rar.html

A. Observasi Awal

Sebelum membuat rencana tindakan, penulis melakukan observasi awal. Observasi awal ini dilaksanakan untuk mengetahui kegiatan atau kondisi awal di kelas yang akan dijadikan subjek penelitian melalui pengamatan awal ketika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pengamatan awal ini mencakup beberapa hal yang dilihat diantaranya keadaan kondisi kelas, sikap dan perilaku siswa belajar di dalam kelas juga kemampuan siswa dalam hal menerima dan memahami materi pelajaran.

Observasi awal dilakukan oleh penulis di kelas B2 TK Islam Az-Zakiyyah, yang dibimbing oleh 1 orang guru yang memiliki 18 orang siswa yang aktif mengikuti pelajaran.

Observasi ini dilakukan pada hari Selasa, tanggal 21 Agustus 2007 pukul 08.00-10.03 WIB, ketika KBM berlangsung. Saat itu pembelajaran yang dibahas bertema “Lingkunganku“, dengan subtema “Keluargaku“. Anak- anak sedang mengerjakan tugas, sebagian anak mengerjakan buku paket (sipoa). Ketika KBM berlangsung kelas tidak berjalan kondusif, masing- masing anak melakukan aktivitas diluar pembelajaran: ada yang main- main, ngobrol dengan temannya, melamun, menyendiri, mengerjakan tugas dengan asyik, bahkan adapula anak yang memperhatikan orang tuanya yang sedang menunggu di luar.

Pada umumnya siswa B2 dalam hal menerima
dan memahami pelajaran sudah cukup baik. Hal ini dilihat dari sikap anak yang mampu memperhatikan pada saat guru menerangkan materi pelajaran dan dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Kemungkinan anak sudah terbiasa belajar karena pada umumnya siswa kelas B2 adalah siswa yang pernah belajar di kelas A. Sehingga mereka mempunyai pengalaman belajar yang banyak.

Dari hasil pengamatan tersebut, yang kemudian penulis melakukan penganalisisan. Hasilnya, penulis menemukan ketidaksesuaian pada pola belajar dengan karakteristik anak yang bukan hanya terjadi di kelas B2 saja, tetapi di kelas A dan B. mereka belajar bilangan pada buku paket, padahal anak pada usia mereka tidak boleh dituntut untuk mengerjakan tugas yang sifatnya akademik.

B. Membuat Rencana Tindakan

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah melakukan studi pustaka mengenai belajar mengenal bilangan bagi anak dengan menggunakan metode bermain sesuai semboyan “Belajar Seraya Bermain” atau “Bermain Seraya Belajar”. Oleh karena itu, penulis mengangkat metode ini sebagi rencana tindakan permasalahan yang akan dibahas.

Dari hasil pengamatan dan observasi awal, maka ditentukan tindakan yang akan dilakukan untuk memfasilitasi Belajar Mengenal Bilangan Anak Prasekolah Dengan Menggunakan Metode Bermain dalam pengembangan belajar kognitif.

Rencana tindakan secara rinci digambarkan sebagai berikut:

  1. Setelah melakukan observasi awal dalam pembelajaran yang sedang berlangsung, penulis mengetahui keadaan kelas yang akan dijadikan subjek penelitian. Maka penulis berencana menyusun rencana pembelajaran Mengenal Bilangan Bagi Anak Usia Prasekolah dengan Metode Bermain. Dalam pemberian tugas sepenuhnya diserahkan pada anak, dalam hal ini guru hanya bertugas membimbing atau memfasilitasi belajar anak.
  2. Guru mempersiapkan tahapan pembelajaran untuk memfasilitasi belajar mengenal bilangan yang di bagi menjadi dua tahapan yaitu:

    1) melaksanakan pembelajaran tahapan persiapan umum:tahapan ini dimaksudkan supaya para orang tua dan guru menemukan hubungan yang baik antara rumah dan taman kanak- kanak agar anak merasa nyaman tinggal di lingkungan yang baru,        

    2) tahapan persiapan untuk belajar mengenal bilangan: para orang tua dan guru dituntut untuk bisa membekali anak dengan berbagai macam kegiatan yang dapat membantu persiapan mereka dalam proses belajar itu sendiri. Adapun tahapan-tahapan yang harus dipersiapkan oleh orang tua maupun guru, yaitu:

    1. Menciptakan suatu kondisi dan suasana lingkungan sekolah yang mendorong anak untuk berpikir dan berperilaku kreatif,
    2. Memberikan perhatian dan respon- respon yang stimulatif dilakukan dengan menampilkan keterampilan memperhatikan (listening) pada anak dan mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang mendorong anak untuk melakukan proses berpikir di luar hal- hal yang sudah jelas. Itu membantu mereka melihat hubungan antar ide,
    3. Menyediakan aktivitas pembelajaran dengan aktivitas- aktivitas yang menuntut anak berpikir dan berperilaku kreatif,
    4. Menyediakan dan mendorong terjadinya pengalaman- pengalaman interaksional anak dengan teman dan orang lain,
    5. Memberi peluang kepada anak untuk bermain.

Adapun bentuk kegiatan yang menjadikan anak senang untuk belajar mengenal bilangan, dan menjadikan anak mau menerimanya dengan penuh kecintaan dan perhatian, karena pembelajaran serta penguasaan konsep mengenal bilangan tidak datang dari buku kerja atau tugas- tugas di kertas, melainkan anak- anak mengalami perkembangan melalui penggunaan pengetahuan mengenal bilangan dan mengembangkan kompetensi mengenal bilangan melalui interaksi langsung dengan lingkungan di sekitarnya. Kegiatan- kegiatan yang dapat dipadukan kedalam rutinitas kelas sehari- hari dapat memberikan alasan- alasan untuk pengalaman matematis yang konkret. Misalnya:

  1. Tiba di sekolah, menggantungkan baju panas/ jaket bisa memberikan pengalaman hubungan satu- satu: satu gantungan untuk satu baju,
  2. Memberikan absen harian, memberi latihan menghitung dan kalkulasi. Berapa banyak siswa hari ini? Berapa banyak yang tidak hadir? Berapa banyak yang hadir semua? Kita ada sepuluh orang, dan seharusnya ada sepuluh orang. Berapa banyak yang tidak hadir? Dengan menggunakan foto anak- anak yang hadir dan tidak hadir membuat perhitungan dan kalkulasi menjadi pengalaman yang konkret,
  3. Waktu sarapan pagi, memberikan anak kesempatan lain untuk mengalami hubungan satu- satu: satu karpet, satu piring, atau satu gelas, dan satu kain untuk setiap anak,
  4. Waktu bermain di luar kelas menyangkut kegiatan- kegiatan fisik, yang merupakan cara yang baik untuk memberikan anak- anak pengalaman nyata tentang mengenal bilangan. Segala aktivitas yang menyangkut pergerakan ritmik tubuh bisa digunakan dalam menghitung; berayun dan menghitung setiap ayunan dengan keras; melompat atau memantulkan sebuah bola dalam kegiatan- kegiatan tersebut, seluruh tubuh anak menguatkan arti angka perhitungan dan pengenalan angka- angka menjadi sia- sia tanpa pengalaman nyata tersebut.

Adapun kegiatan yang dapat memadukan dengan pusat kegiatan yang lain, yang dapat menawarkan kesempatan untuk mempelajari mengenal bilangan diantaranya:

  1. Pusat drama peran hubungan satu- satu dapat dikuatkan dalam bermain rumah- rumahan, contohnya boneka-boneka terhadap ranjang atau gelas, bermain toko- toko menawarkan kesempatan untuk bermain menggunakan mata uang kalkulasi sederhana.
  2. Pusat literatur. sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup banyak, buku angka bergambar dengan angka- angka yang jelas dan sederhana dan gambar- gambar yang menarik untuk dihitung.
  3. Meja pasir dan air serta mengisi dan mengosongkan variasi kotak- kotak memberi anak pengalaman konsep perhitungan dan perbandingan.
  4. Pusat seni. Kegiatan- kegiatan seni menawarkan kesempatan- kesempatan lain untuk menguatkan kembali hubungan satu- satu, contoh: kertas dengan jumlah anak yang sedang bekerja. Kalkulasi sederhana dapat diperkenalkan, contohnya: setiap anak menggunakan tiga krayon. Berapa jumlah krayon yang sedang digunakan?
  5. Meja bermain. Barang- barang manipulasi adalah bahan- bahan kecil yang biasanya digunakan pada satu meja. Bahan- bahan ini menuntut anak menggunakan mata serta tangannya dalam melakukan sesuatu. Diantara contoh bahan- bahan ialah, teka- teki, gantungan, lotto dan lego. Barang- barang manipulasi biasanya digunakan anak- anak secara individual daripada berdua atau kelompok. Benda sehari- hari seperti kacang, kancing, tutup botol dan kerikil sangat cocok untuk menghitung dan pengklasifikasian.
  6. Pusat permainan balok, bila hanya bisa membeli satu peralatan komersil untuk sebuah kelas anak- anak usia dini, maka sebaiknya benda tersebut adalah seperangkat balok kayu. Anak- anak bekerja dengan peralatan tersebut untuk membuat bangunannya sendiri, anak- anak bisa mengalami hubungan dan mengenal bilangan serta geometri pada tingkat insuitif yang menyediakan dasar dimana konsep- konsep abstrak dari aljabar dan geometri dasar akan dibangun.
  7. Pusat memasak. Guru menyalin sebuah resep pada kertas yang besar, dengan takaran yang diwakili gambar. Contohnya, jika dalam resep disebutkan tiga gelas tepung maka akan ada gambar tiga gelas dan sekarung tepung.

Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan selain yang telah disebutkan diatas, yaitu menyiapkan daerah untulk mengenal bilangan/ berhitung. Dengan memiliki ruangan yang cukup luas, terpisah dari daerah yang lebih aktif, seperti pusat drama atau peran, dan harus tersedia tempat untuk barang- barang manipulasi juga meja dan kursi dengan penyediaan ruangan yang cukup nyaman untuk digunakan oleh beberapa anak.

Adapun beberapa benda yang memberikan pengalaman yang sistematik dan nyata dalam belajar mengenal bilangan yang memberikan dampak yang dalam bagi penalaran anak- anak terhadap konsep- konsep mengenal bilangan (matematika), diantaranya:

  1. Kotak inci, seperti unifik untuk kegiatan menghitung dan mengukur,
  2. Lantai bernomor, yaitu lantai yang tidak licin dengan angka 1-10 yang tercetak di atasnya. Ini sangat berharga untuk permainan gerak kasar dimana aktifitas motor menguatkan pengalaman berhitung/ mengenal bilangan, ini bisa dibuat dengan karpet/ kertas yang dilengketkan di lantai,
  3. Biji- biji berwarna. Ketika anak memasukan biji dengan warna yang berbeda ke sebuah benang, mereka belajar angka kardinal dan ordinal sekaligus serta pola dan diskriminasi warna.
  4. ajaran berdasarkan rencana pembelajaran untuk pelaksanaannya menggunakan metode bermain.
  5. Mengadakan pengamatan aktivitas belajar siswa dalam mengenal bilangan dengan menggunakan metode bermain.
  6. Mengadakan pengamatan berlangsungnya KBM dan pelaksanaan tindakan.
  7. Melaksanakan evaluasi terhadap berlangsungnya KBM dan pelaksanaan tindakan.
  8. Penganalisisan evaluasi apakah tindakan telah mencapai tujuan atau belum.
  9. Melaksanakan refleksi untuk mendapatkan kejelasan yang akan menjadi kesimpulan.

 

C. Instrumen Pengamatan

Untuk memperoleh kejelasan yang akurat, penulis menganalisis beberapa buku yang berhubungan dengan perkembangan kognitif atau memfasilitasi belajar Mengenal Bilangan Menggunakan Metode Bermain karena sebagian lembaga taman kanak- kanak telah menyerupai sekolah dasar dalam program bilangan yang berdiri atas dasar pembelajaran resmi yang cukup keras, yaitu mengajarkan bilangan di kelas, dimana anak diminta untuk tenang, tidak boleh bergerak dan tidak berorientasi mendidik anak melalui sebuah permainan dan penulis untuk memperoleh kebenaran yang akurat dalam pengumpulan data yang tepat sesuai dengan permasalahan dalam pengamatan ini adalah sebagai berikut:

a. Alat peraga/media

Untuk usia anak sekolah dasar biasanya alat yang digunakan untuk kegiatan belajar adalah LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang isinya permasalahan (soal) yang harus dikerjakan siswa dalam kegiatan pembelajaran, namun untuk di TK kegiatan belajar dengan menggunakan kegiatan pembelajaran menyelesaikan sesuatu yang pengerjaannya dilakukan secara bersama-sama dan memerlukan alat peraga atau media. Dalam hal ini penulis merencanakan belajar mengenal bilangan dengan angka-angka mainan dan mata dadu. Alat atau media yang harus di sediakan berupa angka-angka mainan yang cukup banyak dan menarik serta dadu-dadu.

b. Lembar Observasi

lembar observasi adalah alat penilaian yang banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati seperti tingkah laku siswa pada waktu belajar, perilaku guru saat mengajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi dalam simulasi dan penggunaan alat peraga (Nana Sudjana, 1990: 84). Lembar observasi terlampir.

c. Alat Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan untuk memperoleh gambaran tentang prestasi belajar siswa secara individu setelah dilakukan tindakan. Hasil evaluasi selain diperoleh sejumlah data tentang prestasi belajar siswa secara individu juga dapat mengetahui daya serap dan tingkatan keberhasilan terhadap materi pembelajaran yang diberikan dan dapat mengukur keberhasilan guru mengajar. Contoh alat evaluasi pada saat pengamatan yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan secara langsung kepada semua siswa setelah mengikuti pembelajaran mengenal bilangan dengan metode bermain. Misalnya: “Apa kegiatan anak-anak pada saat belajar bilangan?”, “Sebutkan alat-alat apa saja untuk belajar mengenal bilangan?”, “Bagaimana cara mengerjakannya?”.

 

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s