Skripsi PAUD B II

BAB II

LANDASAN TEORI

Ambil : http://www.ziddu.com/download/11658981/BABII.rar.html

 

  1. Perkembangan Kognitif Anak Usia Taman Kanak- Kanak

Perkembangan kognitif merupakan sebagai perkembangan yang luas, daya nalar, kreativitas (daya cipta), kemampuan berbahasa serta daya ingat. Dapat juga diartikan sebagai salah satu factor yang menunjang perkembangan pencapaian prestasi belajar karena di dalamnya terdapat factor- factor berfikir yang diperlukan seseorang dalam belajar.Pengertian perkembangan kognitif menurut para ahli, diantaranya:Piaget (Selamat Suyanto, 2006:3)berpendapat perkembangan kognitif anak usia TK (5-6 tahun) sedang dalam masa peralihan dari fase pra-operasional ke fase konkret operasional sama halnya Wolfinger (Selamat Suyanto, 2006:3): berpendapat cara berfikir konkret berpijak pada pengalaman akan benda- benda konkret, bukan berdasarkan pengerahuan atau konsep- konsep abstrak.

Piaget (Bredekamp & Copple, 1997):berpendapat bahwa perkembangan yang terjadi bukan hanya secara kualitataif,tetapi juga secara kuantitatif.Adapun beberapa proses perkembangan kognitif menurut teori perkembangan berfikir (kognitif) pada anak menurut Piaget,yaitu mengalami empat episode perkembangan berfikir/ Kognitif yang berlangsung dari lahir sampai remaja. Periode- periode perkembangan itu adalah periode berfikir sensomotorik, preoperasional, berfikir konkrit dan periode berfikir formal dan abstrak. Masing- masing periode selalu berurutan dan berlaku pada setiap anak.Yang pertama perkembangan berfikir/ kognitif sensomotorik 0-2 tahun Piagt berpendapat perkembangan sensomotorik ini sebagai periode pertama yang berlangsung dari lahir sampai dengan umur 2 tahun,.Peirode ini disebut periode sensomotorik karena pada masa periode ini anak mulai memahami lingkungannya dengan penginderaan (sensori) melalui gerakan-gerakan (motorik). Selanjutnya perkembangan berfikir preoperasional 2-6 tahun

pada masa ini anak mempunyai ciri khas perkembangan berfikir yaitu mereka memiliki pola berfikir egosentris, artinya anak menganggap benar apa yang dipikirkannya, walaupun yang dipikirkannya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.Periode berfikir konkrit operasional terjadi pada usia 6/7 – 11/12 tahun

Pada periode ini anak hanya mampu berpikir dengan logika jika untuk memecahkan persoalan- persoalan yang sifatnya konkrit atau nyata, yaitu dengan cara mengamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pemecahan persoalan- persoalan tersebut.

Adapun periode berfikir formal operasional ditandai dengan kemampuan sebagai berikut: Kemampuan berfikir abstrak, kemampuan berfikir logis dengan objek- objek yang abstrak, kemampuan membayangkan peran- peran sebagi orang dewasa, dan memiliki kemampuan untuk menyadari dan memperhatikan kepentingan masyarakat di lingkungannya dan seseorang dalam masyarakat tersebut.

    Adapun tingkah laku anak yang pola berfikirnya egosentris sebagai berikut: (1) berfikir imajinatif anak; yang berfikir imajinatif menganggap bahwa khayalan- khayalan sebagi suatu realita/ suatu yang benar- benar terjadi. Oleh karena itu, muncullah ‘dusta khayal’. Orang tua harus memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan khayalannya,.(2) berbahasa egosentris; anak yang berfikir egosentris hanya mampu berdialog dengan dirinya sendiri, karena pikirannya hanya tertuju pada dirinya sendiri. Anak belum mampu berdialog dengan orang lain dan hal ini akan muncul ketika anak umur 2-3,5 tahun, (3) memiliki “aku” yang tinggi; anak hanya mampu memahami pikirannya sendiri dan perasaan dirinya sendiri. Anak mulai menyadari bahwa dirinya lepas dari lingkungan yang sebelumnya anak merasa bahwa dirinya satu dengan lingkungan, (4) menampakkan dorongan ingin tahu yang tinggi; hal ini dapat dilihat dari tingkah laku anak yang banyak dan terus- menerus bertanya tentang suatu objek sampai ia merasa puas.Adapun tiga hal yang harus diperhatikan dalam menjawab pertanyaan anak adalah menjawab pertanyan anak dengan cara yang mudah, menjawab pertanyaan anak dengan cara jujur dan jangan memberikan pertanyaan yang membohongi anak, menampakkan penghargaan terhadap pertanyaan anak, jauhi sikap meremehkan atau merendahkan pertanyaan anak. Jika hal-hal tersebut dilaksanakan, maka perkembangan berfikir/ kognitif anak akan berkembang/meningkat, anak akan memiliki perasaan puas, keyakinan diri dan dorongan ingin tahu tentang segala hal dan anak memiliki perasaan bebas mengemukakan ide/ kreativitasnya. Orang tua yang mengabarkan/ merendahkan pertanyaan anak dapat menimbulkan keyakinan diir yang rendah, perasaan bersalah dan dorongan berkreasi pada anak tidak berkembang, (5) perkembangan bahasa yang pesat menurut para ahli, anak pada periode ini telah menguasai kata- kata antara 200-2000 kata. Berbahasa yang banyak dan benar sangat menunjang peningkatan perkembangan berfikir anak.

Adapun faktor yang mempengaruhi kognitif anak usia prasekolah:

  1. Masalah yang disebabkan kognitif/ intellegensi rendah

    Anak yang memiliki intellegensi yang rendah pada umumnya mengalami kegagalan dalam belajar, anak tersebut lamban belajar (the slow learner) biasanya anak yang intellegensinya rendah mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran di sekolah. Oleh karena itu, guru harus menambah waktu belajar anak tersebut untuk mencapai hasil yang diharapkan. Intellegensi rendah pun disebut dengan retardasi mental (lemah mental). Lemah mental terbagi kedalam tiga golongan:

    Retardasi mental ringan (debil/morron), retardasi tingkat sedang (emoisil), dan retardasi tingkat tinggi (idiot).

  2. Masalah yang disebabkan kognitif/ intellegensi tinggi

    Anak yang memiliki intellegensi tinggi biasanya tidak mempunyai masalah dalam prestasi tetapi anak ini biasanya menganggap pelajaran itu mudah sehingga gurunya dianggap lambat menerangkan materi akibatnya anak sendiri akan bosan mendengarkan penjelasan gurunya sehingga ia akan mondar- mandir mengganggu temannya yang sedang asyik menerangkan atau mendengarkan tugasn dan memiliki sikap negative lainnya, yaitu:

    Siswa mementingkan diri sendiri, cepat bereaksi pada masalah (emosional), tidak mudah bergaul, sukar menyesuaikan diri dengan orang lain.

 

  1. Metode Bermain

Solehuddin (1997, 85-86) memandang bahwa pada intinya, bermain dapat dipandang sebagai suatu kegiatan yang bersifat voulentir, spontan, terfokus pada proses memberi ganjaran secara intrinsic, menyenangkan, aktif dan fleksibel. Semakin suatu aktivitas memiliki cirri- cirri tersebut, berarti aktivitas tersebut merupakan bermain.

Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan dan merupakan kebutuhan yang sudah melekat (in herent) dalam diri sikap anak.

Adapun tujuan penggunaan metode bermain adalah yaitu menumbuhkan motivasi pada anak,memfasilitasi anak untuk mengembangkan berfikir (cognitive) secara desentralisasi (tidak terpusat), meningkatkan kemampuan mental, mengembangkan perilaku yang disengaja (bertujuan) kegiatan fisik, dan mental yang dilakukan secara sukarela.

Kegiatan menurut jenisnya terdiri atas bermain aktif dan bermain pasif (Hurlock 1991:326). Kegiatan bermain aktif adalah kegiatan yang memberikan kesenangan dan kepuasan pada anak melalui aktivitas yang mereka lakukan sendiri. Yang termasuk kegiatan bermain aktif yaitu:

  1. Bermain bebas dan spontan, yaitu kegiatan bermain tanpa ada peraturan yang harus dipatuhi oleh anak
  2. Bermain konstruktif yaitu kegiatan yang menggunakan berbagai benda yang ada untuk menciptakan suatu hasil karya tertentu
  3. Bermain khayal/ bermain peran yaitu kegiatan anak memberikan atribut tertentu terhadap benda, situasi dan anak memerankan tokoh yang ia pilih.
  4. Mengumpulkan benda- benda (collecting) yaitu termasuk jenis bermain aktif karena atas inisiatifnya, ia mengumpulkan benda- benda yang menarik minatnya.
  5. Melakukan penjelajahan (eksplorasi). Kegiatan ini termasuk bermain aktif. Mereka melakukan kegiatan ini secara terencana dan ada aturannya karena biasanya melibatkan sekelompok teman
  6. Permainan (games) dan olah raga (sport) menurut Bettelheim (dalam Hutlock, 1978:332) permainan dan dan olah raga adalah kegiatan yang ditandai oleh peraturan serta persyaratan- persyaratan yang disetujui bersama dan ditentukan dari luar untuk melakukan kegiatan dalam tindakan bertujuan.
  7. Musik atau aktivitas digolongkan sebagai bermain aktif karena bernyanyi atau memainkan alat musik tertentu atau melakukan gerakan- gerakan atau tarian yang diiringi musik
  8. Melamun merupakan kegiatan aktif walaupun lebih banyak melibatkan aktivitas mental daripada aktivitas tubuh. Melamun bias bersifat reproduktif, artinya mengenang kembali peristiwa- peristiwa yang telah dialami tapi bias juga produktif dimana kreativitas anak lebih banyak dilibatkan untuk memasukkan unsure- unsure baru di dalam lamunannya.

Kegiatan bermain pasif yaitu kegiatan yang tidak terlalu banyak melibatkan aktivitas fisik. Yang termasuk kegiatan bermain pasif, yaitu:

  1. Membaca termasuk kegiatan bermain pasif karena bias dalam bentuk mendengarkan cerita yang dibacakan orang lain atau membaca sendiri
  2. Melihat komik: kegiatan bermain pasif karena anak bias senang dengan melihat gambar- gambar
  3. Menonton film merupakan kegiatan bermain pasif karena anak merasakan senang/ asyik sendiri
  4. Mendengarkan radio merupakan kegiatan bermain pasif karena cukup mengenakkan bagi anak- anak bagi anak- anak usia tertentu
  5. Mendengarkan musik termausk kegiatan bermain pasif karena semua usia rata- rata menyukai musik.

Masing- masing jenis kegiatan bermain mempunyai manfaat tetapi kita harus memberikan permainan yang seimbang kepada anak karena bila anak terlalu banyak terpaku pada salah satu jenis kegiatan bermain (aktif/ pasif, sendirian/ berkelompok, di dalam/ di luar ruangan) tidak banyak manfaat yang dipetik bila anak kurang difasilitasi permainan dengan seimbang. Beberapa sisi negative yang dialami anak bila kegiatan bermain tidak seimbang antara lain, mempengaruhi penyesuaian baik terhadap pribadi maupun maupun penyesuaian sosialnya, juga akan mengurangi kesempatan untuk melakukan kegiatan bermain yang beraneka ragam sehingga kesempatan menemukan bermain yang sesuai dengan dirinya juga kecil kemungkinannya.Bila bermain anak terlampau dibatasi akan mengurangi perkembangan minat bermain yang sebenarnya dapat dikembangkan menjadi hobi dikemudian hari.

Keberhasilan metode bermain dipengaruhi oleh beberapa factor, menurut (Hurlock, 1978:327) antara lain:

  1. Kesehatan

    Kesehatan sangat mempengaruhi aktivitas anak, termasuk bermain. Anak yang sehat cenderung akan melakukan kegiatan aktif seperti olah raga, bermain lompat tali, kejar- kejaran. Tetapi anak yang kurang sehat cenderung lebih senang bermain pasif yang memang tidak membutuhkan banyak energi

  2. Perkembangan motoirk

    Kegiatan bermain sedikit banyak tergantung pada perkembangan motorik anak, baik motorik halus maupun motorik kasar. Kegiatan bermain aktif memerlukan keterampilan motorik kasar. Sedangkan bermain pasif kurang begitu banyak melibatkan koordinasi motorik.

  3. Inteligensi

    Biasanya anak yang lebih pandai lebih aktif dari pada anak yang kurang pandai. Anak yang lebihpandai juga lebih kreatif dan penuh rasa ingin tahu. Sehingga kegiatan bermain aktif dan pasif sama- sama diminati oleh anak yang pandai. Anak yang memiliki inteligensi lebih senantiasa menytukai permainan yang membutuhkan pemecahan masalah (seperti bermain drama), kegiatan bermain konstruktif (seperti, balok- balok, keeping- keeping plastic yang dapat dirakit) dan juga membaca. Jadi kegiatan bermain yang menggunakan aktivitas fisik dan intelektual sangat digemari anak pandai.

  4. Jenis kelamin

    Anak laki- laki dan perempuan dalam memilih kegiatan bermain menurut penelitian para ahli ditentukan secara genetic dan terjadi secara alamiah. Spodek, Saracho & Davis, 1991, berpendapat bahwa perbedaan itu muncul akibat adanya perbedaan perlakuan yang diterima oleh anak perempuan dan laki- laki sejak bayi.

  5. Lingkungan dan taraf social ekonomi

    Seringkali lingkungan dan status ekonomi mempengaruhi kesehatan, alat permainan dan tempat bermain karena anak yang berasal dari lingkungan social ekonomi rendah cenderung memiliki kesehatan kurang, mengingat waktu luangmereka digunakannya untuk membantu orang tua, alat permainan pun berbeda dengan anak – anak yang taraf hidup dari status lingkungan dan ekonomi atas mereka bermain menggunakan computer, video dan lain- lain. Sedangkan anak dari lingkungan dan eonomi rendah mereka hanya memiliki mainan yang murah bahkan dari tingkat social menengah ke atas lebih menyukai kegiatan bermain dari tingkat lebih rendah, karena permainan itu menciptakan rasa senang bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya.

  6. Alat permainan

    Sebaiknya anak disediakan alat permainan yang bervariasi karena untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak secara optimal.

 

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Skripsi, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s