KARAKTERISTIK TAFSIR

BAB II

LANDASAN TEORITIS TENTANG KARAKTERISTIK TAFSIR

  1. Pengertian Karakteristik Tafsir

Secara etimologis, istilah karakteristik tafsir merupakan susunan dua kata yang terdiri dari kata; karakteristik dan tafsir. Istilah karakteristik diambil dari bahasa Inggris yakni characteristic, yang artinya mengandung sifat khas. Ia mengungkapkan sifat-sifat yang khas dari sesuatu.

Dalam kamus lengkap psikologi karya Chaplin, dijelaskan bahwa karakteristik merupakan sinonim dari kata karakter, watak, dan sifat yang memiliki pengertian di antaranya:

  1. Suatu kualitas atau sifat yang tetap terus-menerus dan kekal yang dapat dijadikan cirri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi, suatu objek, suatu kejadian.
  2. Intergrasi atau sintese dari sifat-sifat individual dalam bentuk suatu untas atau kesatuan.
  3. Kepribadian seeorang, dipertimbangkan dari titik pandangan etis atau moral.

Jadi di antara pengertian-pengertian di atas sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Chaplin, dapat disimpulkan bahwa karakteristik itu adalah suatu sifat yang khas, yang melekat pada seseorang atau suatu objek. Misalnya karakteristik tafsir artinya suatu sifat yang khas yang terdapat dalam literature tafsir, seperti sistematika penulisan, sumber penafsiran, metode, corak penafsiran dan lain sebainya.

Adapun kata tafsir secara bahasa merupakan bentuk isim mashdar (kata benda abstrak) dari fassara-yufassiru-tafsiran yang berarti penjelasan, pemahaman dan perincian. Selain itu tafsir dapat pula berarti al-idlah wa al-tabyin yaitu penjelasan dan keterangan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata tafsir sejajar dengan timbangan (wazan) kata taf’il, diambil dari kata al-fasr yang berarti al-bayan (penjelasan), al-kasyfi (mengungkapkan), al-idzhar (menampakkan), dan aal-ibanah (menjelaskan). Meskipun pengertian di atas beranekaragam, namun pada hakikatnya adalah sama.

Sedangkan pengertian tafsir menurut istilah, sebagaimana dikemukakan oleh pakar al-Qur’an tampil dalammformulasi yang berbeda-beda, namun esensinya juga tetap sama. Di antara pakar al-Qur’an yang mendefinisikan tafsir menurut istilah, yaitu seperti:

Menurut al-Kilabi dalam al-Tashil menyatakan bahwa tafsir adalah uraian yang menjelaskan al-Qu’an, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendaki nash, isyarat dan tujuannya. Sedangkan menurut Abu Hayyan mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu mengenai cara pengucapan kata-kata al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk, kandungan-kandungan hokum, dan makna-makna yang terkandung di dalamnya.

Pendapat lain yang hamper mirip dengan pendapat di atas yaitu pendapat Ali Hasan al-‘Aridl, beliau mengatakan bahwa tafsir ialah ilmu yang membahas tentang cara mengucapkan lafadz-lafadz al-Qur’an, makna-makna yang ditunjukkannya dan yang dimungkinkannya ketika dalam keadaan tersusun.

Sebagian ulama lain mengatakan behwa tafsir menurut istilah yaitu ilmu tentang turunnya ayat-ayat al-Qur’an, sejarah dan situasi pada ayat-ayat itu diturunkan, juga sebab-sebab diturunkannya ayat; meliputi sejarah tentang penyusunan ayat yang turun di Mekah (Makkiyyah) dan yang di Madinah (Madaniyyah), ayat-ayat yang Muhkamat (terang dan jelas maknanya) dan yang Mutasyabihat (yang memerlukan penafsiran atau penta’wilan), ayat-ayat nasikh dan mansukh, ayat-ayat yang bermakna umum, ayat-ayat yang muthlak dan yang muqayyad (terikat oleh ayat lainnya), ayat-ayat yang mujmal (garis besar) dan yang muashshal (terperinci), ayat-ayat yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu, ayat-ayat yang menjanjikan pahala dan yang memperingatkan akan adzab siksa, ayat-ayat yang bermakna perintah dan yang bermakna larangan, ayat-ayat yang bersifat memberi pelajaran dan lain sebagainya.

Berdasarkan beberapa pengertian tafsir yang telah dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tafsir adalah adalah suatu ilmu yang berusaha keras untuk menyingkap dan memahami makna-makna al-Qur’an.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan karakteristik tafsir adalah suatu sifat yang melekat dan kekal yang dapat dijadikan cirri untuk mengidentifikasi suatu penafsiran. Misalnya metode dan sumber penafsiran, laun (corak) penafsiran, sistematika, teknik penafsiran dan lain sebagainya. Namun istilah karakteristik sebuah tafsir dalam ‘Ulum al-Tafsir sering diidentifikasikan lewat metode penafsiran, teknik penafsiran dan corak pemikiran penafsiran.

  1. Pendapat Para Ulama Tentang Karakteristik Tafsir

Berbicara tentang karakteristik sebuah tafsir, di antara para ulama yang memiliki bentuk pemetaan dan kategorisasi yang berbeda-beda. Ada yang menyusun bentuk pemetaannya dengan tiga arah, yakni; pertama, metode (misalnya; metode ayat antar ayat, ayat dengan hadits, ayat dengan kisah israiliyyat), kedua, teknik penyajian (misalnya; teknik runtut dan topical), dan ketiga, pendekatan (misalnya; fiqhi, falsafi, shufi dan lain-lain).

Kemudian ada juga yang memetakannyaa dengan dua bagian. Pertama, komponen eksternal yang terdiri dari dua bagian: (1) jati diri al-Qur’an (sejarah al-Qur’an, sebab nuzul, qira’at, nasikh mansukh, munasabah, dan lain-lain). (2) kepribadian mufassir (akidah yang benar, ikhlas, netral, sadar, dan lain-lain). Selanjutnya bagian kedua, komponen internal, yaitu unsure-unsur yang terlibat lansung dalam proses penafsiran. Dalam hal ini, ada tiga unsure yang digunakan yaitu: metode penafsiran, corak penafsiran, dan bentuk penafsiran.

  1. Abdul Hayy Al-Farmawi

Sebenarnya al-Farmawi tidak memberikan pemetaan yang tegas tentang wilayah metode dan pendekatan serta teknik penulisan tafsir, namun meskipun demikian, penulis akan berusaha untuk menyimpulkan pendapat al-Farmawi mengenai karakteristik tafsir, yang diambil dari karyanya al-Bidayah fi Al-Tafsir al-Maudlu’i. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, salah satunya buku yang berjudul “Metode Tafsir Maudlu’i, Dan Cara Penerapannya” yang diterjemahkan oleh Rosihon Anwar.

Berbicara karakteristik tafsir berarti membicarakan tentang sifat khas yang terdapat dalam literature tafsir, misalnya metode, pendekatan (corak), sumber, teknik dan sebagainya. Dalam hal ini, al-Farmawi tidak membaginya menjadi beberapa bagian, tapi ia hanya hanya membaginya menjadi sati bagian saja, yakni metodologi tafsir. Dalam bukunya al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudlu’i, ssebagaimana yang dilansir para peminat studi ilmu tafsir, al-Farmawi memetakan metode penafsiran al-Qur’an menjadi empat bagian pokok, yaitu: tahily, ijmaly, muqaran, dan maudlu’i.

Yang pertama, metode tahlily, menurutnya adalah suatu metode yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan cara meneliti aspeknya dan menyingkap seluruh maksudnya, dimulai dari uraian makna kosakata, makna kalimat, maksud setiap uangkapan, akitan antarpemisah (munasabat) sampai sisi keterkaitan antarpemisah itu (wajh munasabat) dengan bantuan asbab nuzul, riwayat-riwayat yang berasal dari Nabi SAW., sahabat, dan tabi’in. Produser ini dilakukan dengan mengikuti susunan mushaf, ayat per-ayat dan surat per-surat. Metode ini terkadang menyertakan pula perkembangan kebudayaan generasi Nabi sampai tabi’in; terkadang pula diisi dengan uraian-uaraian kebahasaan dan materi-materi khusus lainnya yang kesemuanya ditujukan untuk memahami al-Qur’an yang mulia.

Dalam metode tahlily ini, oleh al-Farmawi dibagi menjadi tujuh macam, yaitu antara lain:

  1. Al-tafsir bi al-ma’tsur, yaitu tafsir yang bersumber pada ayat al-Qur’an sendiri, atau yang dinukil dari Nabi SAW., sahabat, maupun tabi’in.

Tafsir ini menurut al-Farmawi, terdapat dua fase; pertama, fase periwayatan dengan lisan (syafihiyah). Pada fase ini, para sahabat menukil riwayat dari Nabi Saw., dan menyampaikannya kepada sahabat lain. Para tabi’in menukil riwayat dari sahabat dengan metode penukilan berupa sanad yang teliti dan seksama. Fase ini berakhir dengan datangnya fase kedua.

Kedua, fase pengkodifikasian. Pada fase ini, riwayat-riwayat penafsiran yang disebarkan pada fase pertama mulai dibukukan. Pada mulanya riwayat-riwayat penafsiran ini merupakan salah satu bab dari bab-bab kitab hadits yang kemudian berdiri sendiri sebagai sebuah disiplin ilmu. Sejak itu ditulislah kitab-kitab tafsir yang memuat tafsir bi al-Ma’tsur. Di antara kitab tafsir yang menggunakan metode tafsir ini yaitu:

  1. Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H)
  2. Ma’alim al-Tanzil, karya al-Baghawi (w. 516 H.)
  3. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, karya Ibn Katsir (w. 774 H.)
  4. Al-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur, karya al-Suyuthi (w. 911 H.)
  5. Al-tafsir bi al-ra’yi, yaitu tafsir yang mengemukakan ijtihad setelah menguasai berbagai disiplin ilmu terkait. Di antara sebab yang memicu kemunculan tafsir ini adalah semakin majunya ilmu-ilmu keislaman yang diwarnai kemunculan ragam disiplin ilmu, karya-karya para ulama, aneka warna metode penafsiran, dan pakar-pakar dibidangnya masing-masing. Akibatnya, karya tafsir seorang mufassir sangat diwarnai oleh latar belakang disiplin ilmu yang dikuasainya.

Pada tafsir ini, dibagi dalam dua kategori; tafsir yang terpuji (mahmudah) dan tafsir yang tercela (madzmumah).

  1. Tafsir yang Terpuji

Tafsir yang terpuji ialah tafsir al-Qur’an yang didasarkan dari ijtihad yang jauh dari kebodohan dan penyimpangan. Tafsir ini harus sesuai dengan peraturan bahasa Arab, karena hal ini tergantung kepada metodologi yang tapat dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Jadi barang siapa yang menafsirkan al-Qur’an berdasarkan pikirannya, dengan memenuhi persyaratan dan bersandarkan kepada makna-makna al-Qur’an, maka penafsiran seperti ini dibolehkan dan dapat diterima. Tafsir semacam ini selayaknya disebut tafsir yang terpuji atau tafsir yang syah.

  1. Tafsir yang Tercela

Tafsir yang tercela adalah tafsir al-Qur’an tanpa dibarengi dengan pengetahuan yang benar, yaitu tafsir yang didasarkan hanya kepada keinginan seseorang dengan mengabaikan peraturan dan persyaratan tata bahasa serta kaidah-kaidah hokum Islam. Selanjutnya tafsir ini merupakan penjelasan kalamullah atas dasar pikiran atau aliran yang sesat dan penuh dengan bid’ah atau inovasi yang menyimpang. Tafsir semacam ini disebut tafsir ayng tercela atau palsu.

Di antara karya-karya tafsir dalam metode ini yaitu: Mafatih al-Ghayb karya Fakhr al-Razi (w. 606 H), Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil karya al-Baidhawi (w. 691 H), Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil karya al-Khazin (w. 741 H), dan lain sebagainya.

  1. Al-Tafsir al-Shufi, yaitu tafsir yang menggunakan analisis sufistik atau mena’wilkan ayat al-Qur’an dari sudut esoteric atau berdasarkan isyarat tersirat yang tampak oleh seorang Sufi oleh suluk-nya. Dalam hal ini terdapat dua aliran yang sangat mewarnai diskursus penafsiran al-Qur’an, yaitu aliran tasawuf teoritis dan aliran tasawuf tasawuf praktis.
  2. Aliran Tasawuf Teorotis

Aliran ini disebut juga dengan aliran tafsir shufi al-nazari. Para tokoh aliran tasawuf teoritis dalam menafsirkan al-Qur’an, mereka menggunakan sudut pandang yang sesuai dengan teori-teori tasawuf yang dimilikinya, tanpa mengikuti cara-cara yang benar sehingga penjelasannya menyimpang dari pengertian tekstual yang telah dikenal dan didukung oleh dalil-dalil syara’ yang telah terbukti kebenarannya bila dilihat dari sudut pandang bahasa. Sebagai contoh, ketika menafsirkan al-Qur’an Surat Al-Fajr [89]: 29-30

 

“Masuklah engkau (nafsu mutma’innah) ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Muhy al-Din Ibn al-‘Arabi, penggagas konsep wahdah al-wujud mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan “surga” pada ayat ini adalah diri sendiri. Karena dengan memasuki diri sendiri seseorang mengenal dirinya, dan dengan mengenal dirinya itu ia akan mengenal Tuhannya; dan keadaan terakhir ini merupakan puncak kebahagiaan (surga) bagi manusia.

Karena para sufi nadzari menganggap bahwa hanya penafsiran yang mereka lakukan benar, sementara penafsiran yang lain dianggap salah, maka penafsiran sufi nadzari ini tidak bias diterima para ulama tafsir, kecuali dalam batas-batas tertentu yang sangat sempit.

Berkenaan dengan karya-karya tafsir sufi nadzari, al-Dzahabi, sebagaimana dikutip Rosihon Anwar, berkata:

“Kami belum mendengar seorang pun ulama tasawuf yang menyusun sebuah kitab tafir khusus, yang didalamnya dijelaskan ayat per-ayat, seperti tafsir isyari. Yang kami temukan hanyalah penafsiran-penafsiran al-Qur’an secara parsial yang dinisbatkan kepada Ibn Arabi, yaitu pada kitab al-Futuhat al-Makiyyah dan kitab al-Fushush al-Hikam, keduanya ditulis oleh Ibn Arabi.”

  1. Aliran Tasawuf Praktis

Aliran ini sering disebut dengan al-tafsir
al-iyari dan bias juga disebut al-tafsir al-faidhi. Adapun yang dimaksud dengan aliran tasawuf praktis atu isyari yaitu para ulama tasawuf yang berusaha menafsirkan al Qur’an dengan cara mena’wilkan ayat-aytnya dengan penjelasan yang berbeda dengan kandungan tektualnya, yakni berupa isyarat-isyarat yang hanya dapat ditangkap oleh mereka yang sedang menjalankan suluk (perjalanan menuju allah). Ulama aliran ini menamakan karya tafsirnya dengan tafsir isyarat.

Dalam Tafsir sufistik terdapat beberapa persyaratan yang harus ditempuh oleh mufassir, sehingga tafsirnya akan diterima dan diakui. Diantara persyaratannya itu ialah :

  1. Tidak menafikan makna lahir (pengetahuan tekstual al Qur’an).
  2. Penafsirannya diperkuat dalil syara’ yang lain.
  3. Penafsirannya tidak bertentangan dengan dalil syara’ atau rasio.
  4. Penafsirannya tidak mengakui bahwa hanya penafsirannya (batin) itulah yang dikehendaki Allah, bukan pengertian tekstualnya. Sebaliknya ia harus mengakui pengertian tekstual ayat terlebih dahulu.

    Diantara kitab-kitab tafsir sufissik adalah :

    1. Tafsir alqu’an al-adzim, karya Imam al-Tusturi (w.283 H.)
    2. Haqa’iq al-Tafsir, karya al-Alamah al-Sulami (w.412H.)
    3. Arais al-Bayan fi haqa’iq al-qur’an, karya Imam al-Syirazi (w.283 H.)
    4. Ruh al-Ma’ani karya Mahmud afandi al-Alusi (w.1270 H.)
  5. Al-tafsir al-fiqh, yaitu tafsir yang berkaitan dengan
    ayat-ayat hokum. Tafsir ini kemudian lebih popular dengn sebutan tafsir ayat al-ahkam atau tafsir
    ahkam saja. Berlainan dengan tafsir-tafsir yang lain semisal tafsir ilmi dan tafsir falsafi yang eksistensi dan pengembangannya diperdebatkan pakar-pakar tafsir, keberadaan tafsir ahkam dapat dikatakan diterima oleh seluruh lapisan mufassirin. Tafsir ahkam memiliki usia yang sangat tua karena lahir bersamaan dengan kelahiran tafsir al-Qur’an pada umumnya. Teramat banyak untuk desebutkan satu persatu deretan daftar nama kitab-kitab tafsir ahkam baik dalam bentuk tafsir tahlili, maupun maudhu’i.

Diantara kitab-kitab tafsir ayat ahkam ialah :

  1. Ahkam al-Qur’an al-Jashshash,disusun oleh al-Imam Hujjat al-Islam Abi Bakr Ahmad Bin Ali al-Razi al-Jashshash (305-370 H), salah seorang ahli fiqih dari kalangan Madzhab Hanafi.
  2. Ahkam al-Qur’an Ibn al-Arabi, merupakan karya monumental Abi Bakar Muhammad bin Abdillah, yang lazim popular dengan sebutan Ibn al-Arabi (468-543 H).
  3. Ahkam al-Qur’an al-Kiya al-Harasi, karya al-Kiya al-Harasi (w.450 H). Dan lain sebagainya.

5.Al-tafsir al-fasafi, yaitu
tafsir yang menggunakan analisis disiplin ilmu-ilmu filsafat. Al-Dzahabi ketika mengomentari perihal tafsir falsafi antara lain menyatakan bahwa mnurut penyelidikannya dalam banyak segi pembahasan-pembahasan filsafat bercampur dengan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Di antara contohnya ia menyebutkan penafsiran sebagian filosof yang mengingkari kemungkinan mi’raj Nabi Muhammad Saw., dengan fisik di samping ruhnya. Mereka hanya meyakini kemungkinan mi’raj Nabi Muhammad Saw., hanya dengan ruh tanpa jasad. Contoh kitab tafsirnya adalah Mafatih al-Ghayb karya Fakhr al-Din al-Razi.

6. Al-Tafsir al-‘ilmi, yaitu penafsiran yang menggali kendungan al-Qur’an berdasarkan teori ilmu pengetahuan. Tafsir ini berkembang pesat setelah kemajuan peradaban di dunia Islam. Meskipun demikian, jumlah kitab tafsir yang mengikuti metode ini tidak begitu banyak. Contohnya: al-Qur’an wa Al-‘Ilm al-Hadits karya ‘Abd al-Razzaq Nawfal. Begitu juga Mafatih al-Ghaib karya al-Razi ada yang menggolongkan ke dalam tafsir jenis ini.

7. Al-Tafsir al-adabi al-ijtima’i, yaitu tafsir yang menitikberatkan penjelasan ayat al-Qur’an dari segi ketelitian redaksinya kemudian menyusun kandungan ayat tersebut dengan tujuan utama memaparkan tujuan al-Qur’an.

Tafsir al-adabi al-ijtima’i merupakan salah satu corak penafsiran al-Qur’an yang cenderung kepada persoalan social kemasyarakatan dan mengutamakan keindahan gaya bahasa. Tafsir jenis ini lebih banyak mrngungkapkan hal-hal yang ada kaitannya dengan perkembangan kebudyaan yang sedang berlangsung. Contohnya: Tafsir al-Manar karya Abduh dan Rasyid Ridla.

Kedua, metode ijmali, yaitu menafsirkan ayat al-Qur’an dengan cara mengemukakan makna global. Dengan metode ini, mufassir berupaya menjelaskan makna-makna al-Qur’an dengan uraian singkat dan bahasa yang mudah sehingga dapat dipahami oleh semua orang, mulai dari orang yang berpengetahuan luas sampai orang yang berpengetahuan sekedarnya. Dalam metode ini, mufassir juga meneliti, mengkaji, dan menyajikan asbab nuzul ayat dengan meneliti hadits yang berhubungan dengannya, sejarah dan atsar dari salaf al-shalih. Di antara kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalaah: Tafsir al-Qur’an al-Karim, karya Ustadz Muhammad Farid Wajdi, dan al-Tafsir al-Wasith, diterbitkan oleh Majma al-Buhuts al-Islamiyyah.

Ketiga, metode muqaran, yaitu menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan cara merujuk pada penjelasan-penjelasan para mufassir. Menurut Gusmian dalam bukunya “Khazanah Tafsir Indonesia, dari Heurneneutik hingga Ideologi”, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan metode muqaran adalah suatu metode yang menafsirkan ayat dengan cara perbandingan. Perbandingan ini menurutnya, terdapat tiga hal, yaitu: perbandingan antarayat, perbandingan ayat al-Qur’an dengan hadits, dan perbandingan penafsiran antar mufassir. Contoh tafsir model perbandingan antarayat, yaitu Durrah al-Tanzil wa Ghurrah al-Ta’wil karya al-Iskafi, sedangkan yang menggunakan perbandingan antarmufassir adalah al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurthubi.

Menurut al-Farmawi langkah-langkah yang ditempuh ketika mengunakan metode ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengumpulkan sejumlah ayat al-Qur’an.
  2. Mengemukakan penjelasan mufassir, baik kalangan salaf atau kalangan khalaf, baik tafsirnya bercorak bi al-ma’tsur atau bi al-ra’yi.
  3. Membandingan kecenderungan tafsir mereka mesing-masing.
  4. Menjelaskan siapa di antara mereka yang penafsirannya dipengaruhi secara subjektif oleh mazhab tertentu, dan siapa yang penafsirannya diwarnai latar belakang disiplin ilmu yang dimilikinya, seperti fiqih, atau yang lainnya.

Keempat, metode maulu’i, menurut pengertian istilah para ulama adalah menghimpun seluruh ayat al-Qur’an yang memiliki tujuan dan tema yang sama. Metode ini mempunyai dua bentuk, yaitu antara lain:

  1. Membahas satu surat al-Qur’an dengan menghubungkan maksud antarayat serta pengertiannya secara menyeluruh. Dengan metode ini ayat tampil dalam bentuknya yang utuh. Contohnya, al-Tafsir al-Wadlih karya Muhammad Mahmud al-Hija’i.
  2. Menghimpun ayat al-Qur’an yang mempunyai kesamaan arah dan tema, kemudian dianalisis dan dari sana ditarik kesimpulan. Biasanya, model ini diletakkan di bawah bahasan tertentu. Contohnya, al-Mar’ah fi al-Qr’an karya ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad.

Adapun langkah yang diperlukan dalam metode maudlu;i yaitu, sebagai berikut:

  1. Menentukan topic bahasan setelah menentukan batas-batasnya, dan mengetahui jangkauannya di dalam ayat-ayat al-Qur’an.
  2. Menghimpun dan menetapkan ayat-ayat yang menyangkut masalah tersebut.
  3. Merangkai urutan-urutan ayat sesuai dengan masa turunnya, misalnya dengan mendahulukan ayat Makiyyah dari pada ayat Madaniyah, karena ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah biasanya bersifat umum.
  4. Kajian tafsir ini merupakan kajian yang memerlukan bantuan kitab-kitab tafsir tahlily, pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya ayat sepanjang yang dapat dijumpai, munasabat, dan pengetahuan tentang dilalah suatu lafal dan penggunaannya. Maka mufassir perlu mengetahui itu semua, meskipun tidak harus dituangkan dalam pembahasan.
  5. Menyusun pembahasan dalam satu kerangka yang sempurna.
  6. Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang menyangkut masalah yang dibahas itu.
  7. Mempelajari semua ayat-ayat yang terpilih dengan jalan menghimpun ayat-ayatyang sama pengertiannya. Atau mengkompromikan antara ‘am (umum) dank hash (khusus), yang mutlaq dan muqayyad. Atau yang kelihatan kontradiktif, sehingga semuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan dalam penafsiran.
  8. Pembahasan dibagi dalam beberapa bab yang meliputi beberapa fasal, dan fasal tersebut dibahas, kemudian ditetapkan unsur pokok yang meliputi macam-macam pembahasan yang terdapat pada bab, kemudian menjadikan unsur yang bersifat cabang sebagai satu macam dari fasal.

Dengan demikian, dala konteks metodologi pemetaan al-Farmawi dia atas, memberikan gambaran baru ketimbang pemetaan konvensional yang dibangun ulama era abad ke-9 H hingga abad ke-13 H yang memetakan metodologi yafsir dalam tiga bentuk, yaitu altafsir bi al-ma’tsur, al-tafsir bi al-ra’yi, dan tafsir al-isyari. Namun al-Farmawi tidak memberikan pemetaan yang tegas antar wilayah metode dan pendekatan tafsir serta teknik penulisan tafsir. Untuk lebih jelas lagi lihat skema berikut:

Skema Karakteristik Tafsir Model Al-Farmawi

 

Dari skema diatas, dapat disimpulkan bahwa karakteritik tafsir yang dipetakan oleh al-Farmawi yaitu hanya menggunakan istilah metodologi tafsir saja.

 

 

  1. M. Quraish Shihab

Dalam hal ini M. Quraish Shihab mengalami hal yang serupa dengan pemetaan al-Farmawi. Dalam Membumikan al-Qur’an, misalnya, ia mengkategorikan al-tafsir bi al-ma’tsur ebagai corak tafsir, tanpa menjelaskan apa yang ia maksud dengan istilah “corak”. Di beberapa tempat, ia juga sering menyebut tentang cara, pendekatan, dan corak tafsir, namun ia tidak memetakannya secara detail, hal-hal mana yang termasuk pendekatan, metode dan cara dalam aktivitas penafsiran.

Pernah juga, dengan mengutip al-Farmawi, Quraish Shihab mengklaim tafsir bi al-ma’tsur bagian dari “corak” tafsir tahlily. Bahkan, para peminat kajian tafsir di Indonesia ada yang mengkopi begitu saja pemetaan al-Farmawi, seperti yang dilakukan Cawidu, Komaruddin, dan Tim Penulisan buku Sejarah dan ‘Ulum al-Qur’an yang dieditori oleh Azyumardi Azra. Lihat table berikut ini.

 

Tabel Peta Metodologi Tafsir Konvensional

NO

PENGAMAT TAFSIR

METODOLOGI TAFSIR

1

M. Ali Al-Shabuni

       

2

M. Basuni Faudah

       

3 

Manna’ Al-Qaththan

       

4

Subhi Al-Shalih

       

5

Thameen Ushama

       

6

Fahd ‘Abd Al-Rahman Al-Rumi

       

7

‘Ali Al-Alusi

       

 

 

  1. Rosihon Anwar

Dalam penafsiran al-Qur’an, Rosihon Anwar membaginya kepada tiga bagian penting,yaitu:

Pertama, macam-macam tafsir berdasarkan sumbernya. Dalam hal ini, ia membaginya kepada dua bagian yaitu sumber tafsir bi al-ma’tsur dan sumber tafsir bi al-ra’yi.

Kedua, macam-macam tafsir berdasarkan metodenya. Dalam hal ini, Rosihon membaginya menjadi empat bagian, yaitu metode tahlily, ijmaly, muqaran, dan maudlu’i.

Ketiga, macam-macam tafsir berdasarkan coraknya, yang terdiri dari lima corak yaitu corak shufi, fiqhi, falsafi, ‘ilmi, dan adabi-ijtima’i.

Untuk lebih jelas lagi, lihat skema dibawah ini, sebagaimana yang dipetakan oleh Rosihon Anwar.

Skema Karakteristik Tafsir Model Rosihon Anwar

 

Dari penjelasan skema diatas, sudah jelas bahwa pemetaan yang dilakukan oleh Rosihon Anwar dengan cara membaginya menjadi tiga bagian, yaitu Sumber TAfsir, metode tafsir, dan corak atau pendekatan tafsir.

  1. Fahd ‘Abd Al-Rahman Al-Rumi

Istilah yang digunakan Fahd al-Rumi dalam istilah ilmu tafsir, hampir sama dengan para ulama tafsir lainnya. Hanya pengertian dan aplikasinya saja yang sedikit berbeda. Ada ittijah, manhaj, dan uslub atau thariqah sebagai term baru yang karena itu memiliki perbedaan pendapat mengenai aplikasinya. Fahd al-Rumi mendefinisikan ittijah adalah sasaran atau fokus yang menjadi tujuan dari arah tujuan para penafsiran para mufasir dalam tafsir mereka, dan menjadikanya sebagai bagian dari pandangannya untuk menuliskan apa yang hendak dituliskannya. Manhaj adalah jalan yang mengantarkan mereka kepada tujuan yang dimasud. Sedangkan thariqah atau uslub adalah teknik-teknik atau gaya yang digunakan mufassir ketika menentukan manhaj (jalan) guna mencapai tujuan (ittijah).

Mengenai Uslub (Gaya Bahasa),para ahli tafsir membaginya menjadi empat macam yaitu: Tafsir Tahlily, Tafsir Ijmaly, Tafsir Muqaran, dan Tafsir Maudhu’i.

Pertama, Tafsir Tahlily yaitu metode yang digunakan oleh mufassir dengan mengikuti tartib mushaf, sama saja apakah dengan dejumlah ayat berturut-turut atau satu surat secara keseluruhan, kemudian menjelaskan makna lafadz yang berkaitan, makna balaghahnya (gaya bahasa), asbab nuzul (sebab-sebab turun ayat), hukum dan maknanya,dan sebagainya.

Kedua, Tafsir Ijmaly yaitu metode yang digunakan mufassir dengan mengikuti urutan / tertib mushaf kemudian menjelaskan makna ayat secara global terkadang menjelaskan ungkapan-ungkapan lafadznya untuk memudahkan pemahaman secara global. Ungkapan lian dari tafsir Ijmaly adalah dimana mufassir senantiasa menjelaskan surat dari al-Qur’anhanya saja membagi surat itu ke dalam kumpulan ayat kemudian menjelaskan maknanya secara keseluruhan, menjelaskan maksudnya. Metode ini menyerupai terjemah ma’nawiyah dimana penterjemah tidak menjelaskan arti lafadz tapi hanya menjelaskan makna umum dari ayat kemudian disandarkan kepada hal-hal yang berkaitan seperti asbab nuzul, kisah-kisah, dan sebagainya.

Ketiga, Tafsir Muqaran yaitu metode yang digunakan mufassir dengan mengumpulkan beberapa ayat dari al-Qur’ansekitar satu tema atau dari nash-nash lainnya seperti hadits Nabi, sahabat, tabi’in, atau penafsiran seorang mufassir, atau kitab-kitab samawi lalinnya kemudian membandingkan nash ini, mengambil pendapat-pendapat mereka, dan mengambil dalil yang paling rajih dari nah itu. Perbandingan ini bisa membandingkan antara ayat dengan ayat lain yang sepakat atau berbeda pendapat, atau membandingkan ayat dengan hadits, membandingkan ayat dalam al-Qur’andengan keterangan dalam nash Taurat. Atau bisa juga membandingkan pendapat antar mufassir tentang satu atau beberapa ayat.

Keempat, Tafsir Maudhu’i yaitu ketika mufassir merbicara tentang beberapa ayat yang berkaitan dengan tema tertentu kemudian menafsirkannya, tapi tidak menjelaskannya dengan urutan / tertib mushaf.

Fahd al-Rumi membagi (thariqah) tafsir al-Qur’andari dua sisi yang berbeda. Dari sisi sumber tafsir atau Mashadir al-Tafsir (referen) dan dari sisi objek ayat yang ditafsirkan.

Dari sisi referen terbagi kepada dua: thariqah bi al-Ma’tsur dan thariqah bi al-Ra’yi. Yang pertama adalah penafsiran al-Qur’an itu sendiri, hadits Rasulullah seperti yang telah ditukil para sahabat, dan tafsir para tabi’in. Pendapat Ibn Katsir di bawah ini dianggap mewakili keterangan lengkap thariqah ini:

“Jika ada orang bertanya, metode tafsir apa yang paling baik?, maka jawabannya adalah panafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, karena tidak disebutkan satu ayat yang mujmal di suatu tempat, kecuali terdapat penjelasan di tempat lain. Jika tidak ditemukan penjelasannya dari al-Qur’an, maka hendaklah mencarinya di sunnah. Karena ia berfungsi sebagai penjelas (syarihah) dari al-Qur’an… Jika pada keduanya tidak didapati, maka kembalikan penafsiirannya kepada aqwal sahabat. Karena, mereka adalah orang-orang yang lebih memahami makna al-Qur’an, karena al-Qur’an turun pada masa mereka, mereka berhubungan langsung dengan peristiwa-peristiwa yang dialami. Disamping itu, mereka adalah generasi yang diakui kekkuatan hafalan dan tingkat pemahaman, serta keshalehannya… jika tidak mendapatkan penafsiran dari al-Qur’an, sunnah dan aqwal sahabat, kebanyakan penafsir mengambil penafsiran dari aqwal tabi’in seperti Mujahid bin Jubair.”

Disamping Fahd al-Rumi yang membedakan penelusuran thariqah dari sisi ini, pendapat ini dapat dijadikan jastifikasi langkah-langkah yang harus ditempuh mufassir jika ingin menggunakan thariqah ini, dan dapat digunakan dasar pijakan pembagian thariqah tafsir dari sisi validitas dan otensitas sumber-sumber tafsir.

Tafsir bi al-Ra’yi adalah tafsir yang menggunakan ijtihad. Tetapi ijtihad ini harus dibangun berdasarkan pijakan yang shahih dan kaidah-kaidah yang lurus, sehingga metode tafsir bi al-Ra’yi bukan sekedar tafsir yang bersandar pada ide semata atau bahkan hanya pada gagasan yang terlintas dalam pikiran seseorang atau hawanafsu. Secara ringkas Fahd al-Rumi menjelaskan bahwa penafsir bi al-Ra’yi harus dilakukan oleh mufassir yang sudah memenuhi syarat-syarat menjadi mufassir, karena jika tidak penafsiran berkualitas madzmum.

Mencermati batasan definisi di atas, dari dua pembagian thariqah, terdapat celah-celah masuknya penafsiran dari sumber yang tidak akurat, baik berupa riwayat

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Skripsi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s