Gender

  1. Pengertian Gender

Untuk meluruskan salah paham dalam memperlakukan kaum perempuan yang sering memakai legitimasi teks-teks keagamaan dan menjastifikasi sebagai kodrat, secara bahasa gender berasal dari bahasa inggris yang artinya : jenis kelamin, sedangkan menurut wensteb’s new world dictionary diarrikan : sebagai perbedaan yang tampak antara pria dan wanita dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.

Sedangkan secara umum gender adalah oerbedaan sosial antara pria dan wanita yang dititik beratkan pada prilaku, fungsi dan peran masing-masing yang ditentukan oleh kebiasaan masyarakat dimana ia berada, atau konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara pria dan wanita dilihat dari seg sosial dan budaya. Dari pengertian ini seakan memberi petunjuk bahwa hak yang terkait dengan gender adalah interpretasi budaya terhadap perbedaan jenis kelamin, sedangkan kodrat adalah segal sesuatu yang ada pada pria dan wanita yang sudah ditetapkan oleh Allah dan manusia tidak dapat mengubah dan menolaknya.

Berkaitan dengan gender ini ada yang disebut dengan atribut gender (gender atribut), identitas gender (gender identity), beban gender (gender assignment), peran gender (rule of gender) dan pembagian kerja gender. Atribut gender adalah aksesoris biologis yang membesakan antara laki-laki dan perempuan, seperti laki-laki memiliki penis dan kalau perempuan memiliki vagina, sedangkan identitas gebder adalah kehususan yang melekat pada seseorang berdasarkan jenis kelamin, seperti bagi laki-laki yang memiliki penis diberi pakaian yang motif dan bentuk sebagaimana layaknya laki-laki, demikian juga halnya dengan perempuan yang memiliki vagina akan diberiakan pakaian seperti mana layaknya perempuan. Oleh karena itu identias gebder lebih mengacu pada perasaan yang dialami oleh yang bersangkutan, apakah yang tepat bagi dirinya sehingga bisa mengesampingkan atribut gender yang diberikan orang lain kepada dirinya. Sedangkan beban gender adalah perbedaan peran dan nilai budaya yang melekat pada jenis kelamin, jika seorang laki-laki maka masyarakat menunggunya unrtuk memerankan peran budaya sebagaimana laki-laki, demikian juga dengan perempun. Peran gender adalah peran yang ditentukan oleh peran kelamin, seperti mengasuh anak dan mengurus rumah tangga yang dikenakan sebagai peranan perempuan, kemudian pembagian kerja gender adalah pola penbagian kerja dimana laki-laki da perempuan melakukan jenis kerja yang berbeda, pembagian kerja gender ini tidak dipermasalahkan selama tidak merugikan antara kedua belah pihak yaitu antara perempan dan laki-laki.

Kedudukan perempuan dalam islam merupakan subjek kontroversi tidak ada henti-hentinya dikalangan kaum muslim terpelajar, sejak mereka mendapatkan pengaruh peradaban barat, posisi Islam dalam hal ini berada diantara subjek-subjek yang tersaji bagi pembaca barat dengan objektiv. Singkat dan otentik tentang bagaimana pendangan dan sikap islam terhadap masalah ini, dalam hal ini kita mencoba memberikan evaluasi adil mengenai apa kontribusi islam atau apa yang tidak diberikan islam pada peningkatan martabat dan hak-hak perempua

Menurut pembaca kaum koserfatif, superioritas laki-laki bersifat ontologism, karena perempuan dianggap tercipta dari / setalah laki-laki dan untuk kesenangan kaum laki-laki dan juga bersifat moral sosial, karena tuhan dipandang lebih mendahulukan laki-laki dari segi “kesempurnaan kecakapan mental dan kebijsanaan, serta kemampuan peuh dalam melaksanakan kewajiban dan mengemban perintah tuhan. Tuhan juga dikatakan telah memberi laki-laki “derajat” yang lebih tinggi dari pada permpuan dan memilih mereka sebagai pelindung (dalam beberapa keterangan, pemimpin) bagi perempuan. Disisi lain, perempuan ditampilkan sebagai “makhluk menyedihkan yang fungsi seksual dan fisikologisnya tidak memungkinkannya melakukan pekerjaan atau aktifitas apapun kecuali melahirkan keturunan.

 

  1. Ke(Tidak)Setaraan Gender: Persamaan Versus Perbedaan

Meskipun para teoretisi banyak berbeda dalam mendefisikan kesetaraan gender, sebagian dari mereka setuju bahw inti dari

Teeori-teori ketidaksetaraan gender adalah pencampuradukan antara biologis (jenis kelamin) dan makna sosialnya (gender) seperti yang dikatakan oleh Marshall Sahlin “sumbornisasi hal simbolik di bawah hal alamiah.”meskipun pencampuradukan antara perbedaan dan ketidak setaraan ini merupakan “mempercampuradukan antara kategori-kategori yang terlalu berlebihan” untuk dapat dipertanggung jawabkan. Seperti yang dikatakan oleh kaum feminisme, “agama-agama patriarkis” menisbahkan perbedaan psiko-sosial antara laki-laki dan perempuan pada perbedaan biologis (seksual) di antara mereka.

Teoretisasi kaum feminis tentang kesetaraan gender , terutama pada tahap-tahap paling awal, berkonsentrasi pada upaya membangun kesamaan antara laki-laki dan perempuan , begitu juga kaum feminis sangat gigih menyerukan kesataraan antara laki-laki dan perempuan, bisa dikatakan bahwa bukan hanya perbedaan gender tapi juga kesamaan gender karena keduanya memandang laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai diri lain, dan juga perempuan digambarkan sebagai lawan dari laki-laki tapi juga sebagi separuh laki-laki.

Menurut Grosz, pandangan tentang laik-laki dan perempuan yang menjadi perbedaan yaitu pertentangan biner yang membentuk pemikiran falosentris (perpusat pada kejantanan), dengan demikian subjektifitas laki-laki dan perempuan dalam struktur patriarki. Kpandangan kedua ini pula yang telah digunakan untuk menindas perempuan dan menyingkirkan mereka dari kehidupan publik dan kearganegaraan selama beberapa abad lalu.

Gagasan kesamaan gender telah digunakan untuk mendiskriminasi perempuan, maka dengan ini penulis berpendapat untuk semua itu, solusinya bukanlah mengganti perbedaan dengan kesamaan melainkan mengakui perbedaan penting diantara keduanya, baik laki-laki dan perempuan, dikarenakan antara lain

  1. Konsekwensi yang tidak dapat diterima akan muncul bila kita mengasumsikan perempuan dan laki-laki sebagai dua jenis yang sama dalam segala hal, karena jika perempuan tidak memiliki kepentingan yang khusus atau alasan yang sah untuk menjadi makhluk sosial, maka laki-laki akan berbicara atas nama mereka.
  2. Kesetaraan gender dalam tatana procedural sering kali terjadi bahkan justru mempertahankan, bukannya melenyapkan ketidak staraan gender, seperti yang dikemukan oleh kaum feminis “perbedaan utama tidak perlu dikaitkan dengan kesetaraan kekuasaan, dan tidak pula harus menyiarkan hubungan setatis antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian perbedaan itu bukanlah menjadi hambatan permanent yang menghalangi tegaknya organisasi sosial yang didasarkan pada toleransi dan saling ketergantungan satu sama lain.

 

  1. Al-Quran dan Kesetaraan: Ontology Tentang Diri yang Satu

Ajaran-ajaran radikal Al-quran, yang membentuk karakteristik gender dlaam islam dan meruntuhkan gagasan perbedaan radikal gender, terkait dengan asal-usul dan karakteristik penciptaan manusia. Seperti yang digambarkan dalam Al-quran, meskipun memilki perbedaan biologis, umat manusia memiliki kedudukan yang sama atau setara ontologis dan etnis moral, dalam pengertian bahwa perempuan bersumber dalam diri yang satu, memiliki sifat-sifat yang sama, dan merupakan pasangan bagi yang lainnya. Seperti dalam Al-quran (Q.S.[4]: 1)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (١)

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya. Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

 

Menurut rahman (1980), nafs (kata benda feminism tunggal) merujuk pada diri, atau orang, bukan pada jiwa, seperti yang ditafsirkan oleh ulama yang terdahulu karena terpengaruh oleh tradisis yunani, menciptakan tipopogi berupa ruh, jiwa, dan tubuh, dan dimana ruh memilki kedudukan yang tinggi dan diasosiasikan dengan laki-laki, dan jiwa menduduki tempat yang rendah dan diasosiasikan dengan perempuan. (tipologo ini memungkinkan mereka memasuki hierarki dan ketidaksetaraan gender dalam pembacaan surah an-nisa) namun, seperti yang dikemukakan Rahman, Al-quran sendiri tidak mendukung dualisme pekiran-tubuh dan tubuh-jiwa. Al-quran juga tidak mendukung dualisme jenis kelamin-gender (gagasan tentang perbedaan gender), karena kosa kata dalam nafs dan zawj menegaskan keserupaan bukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan tanpa memosisikan laki-laki sebagai rujukan normal.

Tema bahwa laki-laki dan perempuan berasal dari diri yang satu dan perupakan pasangan adalah bagian integral dan epistemologi al-quran seperti dalam (Q.S. [6]: 98),

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ (٩٨)

“Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, Maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui.

 

Dalam (Q.S. [53]: 45),

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأنْثَى (٤٥)

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.”

Dalam (Q.S. [50]: 7)

وَالأرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (٧)

“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata”

Jadi dalam Al-quran laki-laki dalam Al-quran bukan hanya tak terpisahkan, tapi juga sama secara ontologism, dan setara. Menurut Al-quran alasan kesetaraan dan keserupan kedua jenis ini adalah bahwa keduanya diciptakan untuk hidup bersama dalam rangka saling mencintai dan mengakui satu sama lain.

Nilai penting dalam ajaran Al-quran, terutama kisah peniptaan manusia akan tampak jika kita mengingat bahwa dalam tradisi Kristen, hierarki-hierarki berdasarkan kenis kelamin dan muncul akibat temporalisasi mereka yaitu laki-laki dan perempuan, dengan menyakini bahwa superioritaas makhluk bersumber dari keterdahuluan penciptaannya. Maka dengan demikian jika Al-quran tidak memperlakukan perempuan sebagai devirasi laki-laki, maka ia juga tidak hanya mlenyalahkan perempuan atas dosa warisa atau kejatuhan manusia kebumi. Bahkan islam islam tidak mengajarkan kosep dosa warisan, yang sangat penting dalam teologi Kristen tentang perempuan sebagai diri lain.

Al-quran tiadak membedakan prilaku moral dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Al-quran justru menerapkan standar yang sama terhadap merek, dan menetapkan hukum atas mereka berdasarkan kriteria yang sama. Tidak sedikitpun dijumpai dalam Al-quran pernyataan bahwa laki-laki dan perempuan karena secara biologis berbeda, tidak setara dan berlawanan dalam berbagai hal, atau tuhan telah menganugrahi laki-laki kemampuan atau potensi yang tidak diberikan kepada kaum perempuan.

 

  1. Konsep Gender Dalam Islam

Al-quran adalah kitab suci umat islam dan merupakan rujukan dalam setiap permasalahan dalam kehidupan seluruh manusia khususnya umat islam karena Al-Quran merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, diantaranya Al-Quran menjelaskan hendaknya seluruh manusia terutama kaum pria dimuka bumi ini agar memperlakukan kaum wanita lebi baik dan terhormat sesuai dengan pinsip ajaran kesetaraan pria dan wanita sebagai makluk ciptaan Allah yang mulia, sebagimana dijelaskan dalam firman Allah (Q.S. Al-Hujurat ayat 13)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.

 

Ayat diatas menjelaskan kedudukan pria dan perempan adalah sederajat, adanya antara pria dan wanita di bidang huum bukan karena jenis laki-laki itu lebih dekat denganNYA dari pada jenis perempuan sebagaimana dijelaskan dalam firman-NYA (Q.S. An-Nhal ayat : 97)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

 

Ayat diatas menjelaskan pandangan yang psitif terhadap kedudukan dan keberadaan perempuan yang memilki kedudukan setara serta hak dan kewajiban yang sama dengan pria dalam hal berbuat baik dan mendapatkan imbalan kebaikan dari Allah SWT. Ayat diatas juga menjelaskan bahwa tidak ada diskriminasi antara pria dan wanita dan tidak ada paham the second sex, seperti dalam tradisi barat Kristen atau yahudi, juga tidak ada pengakuan keistimewaan terhadap suku tertentu, semua suku bangsa dan jenis kelamin mempunyai stasus dan kedudukan yang sama dalam stara sosial.

Secara tekstual islam telah melakukan revolusi sosial dalam merubah pandangan terhadap keberadaan perempuan yang semula hina dan makhluk yang kurang bernilai, menjadi manusia yang mulia yang memiliki martabat dan kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki, diantara revolusi tersebut adalah:

  1. semula semua perempuan tidak mendapatkan hak waris dan kebendaan dari Ahlinya karena dianggap tidak cakap untuk mempertahankan Kabilah, kemudian secara bertahap Al-Quran memberikan hak-hak kebendaan (waris) tersebut kepada kaum wanita, seperti yang dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat: 12.

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ (١٢)

 

“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun”.

 

  1. semua kaum pria bebas mengawini wanita sebagai istrinya tanpa batas, selanjutnya Al-Quran mentolerir sampai empat saja, itupun dengan ketentuan-ketentuan tertentu yang harus di penuhi oleh seorang laki-laki yang akan memiliki istri lebih dari pada satu. Seperti yang dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat: 3.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا (٣)

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

 

  1. Semula wanita tidak boleh menjadi saksi, kemudian islam membolehkan walaupun dalam berbagai kasus tertentu dibatasi, satu berbanding dua dengan pria seperti dijelaskan dalam Al-Quran (Q.S. Al-Baqarah : 228) dan (Q.S. An-Nisa: 3).

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٢٢٨)

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

 

Surat An-Nisa : 3

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا (٣)

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

 

  1. Secara tekstual tidak ditemukan ayat al-quran atau hadits yang melarang kaum wanita untuk aktif dalam bidang kemasyarakatan atau politik, sebaliknya Al-Quran mengisyaratkan kebolehan wanita untuk menekuni berbagai bidang di masyarakat, hal ini dijelaskan dalam Al-Quran (Q.S At-Taubah: 71 dan Al-Mumthanah: 12).

    Q.S At-Taubah: 71

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٧١)

 

“dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

 

Surat Al-Mumthanah: 12).

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلا يَسْرِقْنَ وَلا يَزْنِينَ وَلا يَقْتُلْنَ أَوْلادَهُنَّ وَلا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٢)

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk
Mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat Dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka[1472] dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, Maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

 

 

  1. Prinsip-Prinsip Kesetaraan Gender dalam Islam

Ada beberapa variable yang dapat digunakan sebagai standar dalam menganalisa prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam al-Qur’an yaitu antara lain :

  1. Laki-laki dan perempuan Sama-sama Sebagai Hamba

    Salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah kepada tuhan (Q.S al-Adiyat (51:56)), dalam kepastian manusia sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal, hamba ideal dalam al-Qur’an biasa diistilahkan dengan orang-orang yang bertakwa (muttaqin) dan untuk mencapai derajat muttaqin ini tidak dikenal dengan adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu.

    Dalam kapasitas sebagai hamba, laki-laki dan perempuan masing-masing akan mendapatkan penghargaan dari Tuhan sesuai dengan kadar pengabdiannya.

  2. Laki-laki dan Perempuan Sebagai Khalifah Dibumi

    Maksud dan tujuan dari penciptaan manusia dimuka bumi ini disamping untuk menjadi hamba (abid) yang tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah SWT, juga untuk menjadi khalifah dibumi (khala’if fi al-ardh) kata khalifah dalam kedua ayat yang disebutkan terakhir tidak menunjukan kepada salah satu jenis kelamin atau etnis tertentu laki-laki atau perempuan, mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah yang akan mempertanggung jawabkan tugas-tugas kekhalifahannya dibumi, sebagaimana halnya mereka harus mempertanggung jawab sebagai hamba Tuhan.

  3. Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Berpotensi Meraih Prestasi

    Dalam hal peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana ditegaskan sescara khusus dalam al-Qur’an, ayat-ayat ini mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang ideal, dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun urusan karir professional tidak mesti dimonopoli oleh salah satu jenis kelamin laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih prestasi optimal, namun dalam kenyataan masyarakat, konsep ideal ini masih membutuhkan tahapan dan sosialisasi, karena masih terdapat sejumlah kendala terutama budaya yang sulit diselesaikan.

    Salah satu obsesi al-Qur’an adalah terwujudnya keadilan masyarakat,keadilan dalam al-Qur’an mencakup segala segi kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, karena itu al-Quran tidak mentolelir segala bentuk penindasan, baik berdasarkan kelompok etnis, warna kulit, suku bangsa dan kepercayaan, maupun yang berdasarkan jenis kelamin, jika terdapat suatu hasil pemahaman atatu penafsiran yang bersifat menindas atau menyalahi nilai-nilai luhur manusia.

 

  1. Kesimpulan

Dalam pandangan penulis meskipun Al-quran tidak mengatur dikotomi gender terhadap jenis kelamin, ia juga mengakui keunikan jenis kelamin, misalnya, dlaam pandangannya tentang tubuh laki-laki dan perempuan. Namun, pandanagnnya tentang tubuh manusia tidak lahir dari “biologu keunikan jenis kelaminatau dari klaim tentang perbedaan dan ketidak setaraan gender. Meskipun ketentuan Al-quran tentang “hijab” telah menjadi wacana islam tentang ketidaksetaran gender, karena Al-quran sendiri tidak memperlakukan tubuh perempuan dalam konteks wacana semacam itu.

Dalam pandangan penulis Al-quran secara langsung tidak mendukung bentuk tubuh perempuan yang bernuansa gender atau dampak histories yang lahir dari model gender tertentu. Jadi apa pun gagasan yang dianut oleh kaum muslim tenteng perempuan dan tubuhnya, dan tentang jenis kelamin dan pembedaan jenis kelamin, karena Al-quran sendiri tidaka mengatakan bahwa jenis kelamin atau perbedaan gender merupakan khambatan bagi terwujudnya personalitas moral, peran gender, atau ketidaksetaraan

Penafsiran yang berpersefektif gender tidak mesti harus dicurigai sebagai upaya westernisasi pemahaman al-Qur’an yang berwawasan gender, bkan bermaksud memberikan persamaan secara total atau peran fifty-fifty kepada laki-laki dan perempuan, Karena gagasan yang seperti ini juga akan kontra produktif, yang dimaksud penafsiran yang berwawasan gender, tidak lain adalah penafsiran yang memberikan perhatian dan kepemihakan terhadap pemberdayaan kelmpok jenis kelamin yang tertindak, unutk kasusus dunia islam yang kebetulan perempuan mengalami banyak perlakuan yang tidak adil maka konotasi tafsir berwawwasan gender ialah tafsir yang membela hak-hak perempuan jika suatu ketika yang tertindas adalah kaum laki-laki makak konotasi tafsir berwawasan gender adalah tafsir yang membela hak-hak laki-laki.

Konsep relasi gender dalam al-Qur’an , sebagaimana halnya konsep-konsep sosial kemasyarakatan lainnya, tidak banyak diatura dalam ayat-ayat al-Qur’an tentang gender, seolah –olah mengesankan bahwa Al-quran cenderung mempersilahkan kepada kecerdasan–kecerdasan manusia didalam menata pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, dengan menyadari bahwa persoalam ini cukup penting tetapi tidak dirinci dalam Al-quran, maka itu menjdi isyarat adanya kewenangan manusia untuk menggunakan hak-hak kebebsannya dalam mamilih pola pembagian peran laki-laki dan perempuan yang saling menguntungkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transpormasi Sosial, 2005, Pustaka Pelajar Yogjakarta.

Dr. Lunnwilcox, Wanita dan Al-Qur’an 2001, Pustaka Hidaya, Bandung

Barbara, Freyer Stowasser, Reinterpretasi Gender, Pustaka Hidayah

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Informasi, Makalah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s