RESPONS SANTRI TERHADAP PESAN KHITOBAH USTADZ

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah.

Dakwah merupakan bagian penting dalam mempertahankan keberlangsungan hidup agama Islam, tidak mungkin Islam dapat bertahan di tengah masyarakat bila tidak ditunjang dengan aktivitas dakwah. Karena itu dalam Islam berdakwah diwajibkan bagi setiap manusia yang mengaku dirinnya muslim, sehingga berdakwah tidak hanya terbatas pada kelompok tertentu saja, melainkan seluruh individu yang mengaku dirinya muslim. Kewajiban ini erat dengan upaya penyadaran dan pembinaan pemahaman, keyakinan dan pengamalan ajaran Islam.

Perwujudan dakwah bukanlah sekedar meningkatkan pemahaman keagamaan belaka, melainkan juga berperan menuju pada pelaksanaan ajaran Islam secara menyeluruh, dan masuk serta menyentuh dalam semua aspek kehidupan. Dalam konteks apapun agama diterjemahkan ke dalam wilayah kehidupan manusia dengan memiliki misi utama yakni untuk membimbing dan mengarahkan manusia serta mengajak mereka sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya, sehingga pada akhirnya manusia dapat meraih kebahagian di dunia dan di akhirat kelak. Seperti dijelaskan dalam al-Quran surat Ali Imran (3) ayat 104, Allah SWT berfirman :

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون َ )ال عمران۱۰٤ (

“Dan hendaklah di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Depag, 1992:93).

Dakwah pada dasarnya penyampaian ajaran Islam kepada manusia baik secara lisan maupun dalam bentuk sikap dan perilaku diarahkan supaya timbul kesadaran dan mengamalkan setiap esensi ajaran Islam.

Kegiatan dakwah pun, berkembang di masyarakat umumnya, dan dilakukan dalam bentuk pengajian-pengajian melalui khitobah, dan dialog yang mengandung unsur pendidikan serta tuntunan lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keberagamaan masyarakat. Demikian juga metode dan waktunya sangat bervariasi, ada yang melalui khitobah dan ada juga yang dilakukan dalam bentuk dialog.

Salah satu cara penyampaian dakwah adalah khitobah. Metode ini merupakan upaya dalam mentransformasikan pesan-pesan yang sifatnya transendental, yang datangnya dari Allah SWT untuk diterjemahkan dalam bahasa lisan. Melalui metode ini seorang khotib berusaha mengolah bahasa yang tepat, sesuai serta mudah dimengerti oleh mukhotobnya.

Penyampaian dakwah dapat dilakukan di mana-mana, dari lingkup yang sangat kecil sampai lingkup yang sangat besar. Salah satunya adalah pesantren. Salah satu pesantren yang mendidik santrinya dengan ilmu ke-Islaman adalah Pesantren Miftahul Falah yang terletak di Jalan Raya Percobaan no. 2 Cileunyi Kab. Bandung. Dalam membina santri-santrinya pesantren ini dipimpin oleh seorang ustadz, Ustadz Jejen Zainal Abidin dan dibantu oleh saudara-saudara beliau. Santri di pesantren ini mendapatkan materi pesan khitobahnya melalui pengajian rutin harian.

Pengajian rutin setiap harinya dilangsungkan empat kali sehari yaitu : mulai pukul 05.00-06.00wib, 17.00-18.00wib, 19.00-20.00wib, dan 20.00-21.00wib atau disesuaikan dengan jadwal shalat pada waktu tersebut. Adapun materi yang disampaikan dalam pengajian ini mencakup ilmu sharaf, ilmu nahwu, ilmu fiqh, ilmu tauhid, ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu balaghah, dan ilmu akhlaq. Selain pengajian harian ada juga pengajian tertentu yang sudah dijadwalkan pada hari tertentu, yaitu : setiap rabu malam khitobahan dan bahtsul kutub, dan khusus setiap kamis malam khusus membaca maulid barjanzi.

Setiap menyampaikan materi khitobahnya Ustadz Jejen Zainal Abidin dan para mudaris lainnya, materi dakwahnya dititik beratkan pada akhlaq. Karena akhlaq merupakan penyempurna dari ajaran Islam. Materi akhlaq disini mencakup : akhlaq terhadap orang tua, guru, tetangga, saudara dan teman.

Materi akhlaq yang disampaikan pada pengajian rutin harian ini bertujuan supaya santri sejak dini sudah dibekali akhlaqul karimah untuk menempuh kehidupan nanti dalam bermasyarakat. Akhlaq santri merupakan moralitas agama dan bangsa, maka di pondok pesantren Miftahul Falah ini, pimpinannya serta pengajar lainnya, selalu menyisipkan pesan-pesan moral dalam setiap penyampaian khitobahnya, beliau mengharapkan santri bisa mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari setelah tamat dari Pesantren Miftahul Falah dan di lingkungan pesantren pada khususnya.

Dengan demikian terjadi interaksi antara santri dan ustadz, dalam aktivitas khitobahnya ini, menimbulkan suatu respons santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin tidak semuanya positif, hal ini bisa dilihat dari masih ada santri yang berani absen dari pengajian tanpa izin terlebih dahulu kepada pengurus santri.

Bertitik tolak dari permasalahan di atas, penulis sangat tertarik untuk membahas dan menelitinya dengan mengajukan sebuah judul “RESPONS SANTRI TERHADAP PESAN KHITOBAH USTADZ JEJEN ZAINAL ABIDIN DI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL FALAH”.

  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan bahwa ini permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah bagaimana respons santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin. Selanjutnya pokok masalah itu dirinci dalam beberapa permasalahan penelitian sebagai berikut :

  1. Bagaimana pelaksanaan khitobah dan pesan yang disampaikan oleh Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pesantren Miftahul Falah ?
  2. Bagaimana perhatian santri Pesantren Miftahul Falah terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin?
  3. Bagaimana pemahaman santri Pesantren Miftahul Falah terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin?
  4. Bagaimana penerimaan santri Pesantren Miftahul Falah terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin?
  1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan :

  1. Untuk mengetahui pelaksanaan khitobah dan pesan yang disampaikan oleh Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pesantren Miftahul Falah.
  2. Untuk mengetahui perhatian santri Pesantren Miftahul Falah terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.
  3. Untuk mengetahui pemahaman santri Pesantren Miftahul Falah terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.
  1. Untuk mengetahui penerimaan santri Pesantren Miftahul Falah terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.
  1. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini diuraikan sebagai berikut :

  1. Secara Teoritis

Diharapkan menjadi perangsang untuk penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan ilmu khitobah dan pelaksanaan khitobah khususnya yang dilakukan di pesantren-pesantren.

  1. Secara Praktis

Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam meningkatkan materi dakwah dan memberikan manfaat untuk syi’ar Islam di pondok pesantren Miftahul Falah khususnya dan segenap umat Islam pada umumnya.

 

  1. Kerangka Pemikiran

Untuk memberikan dan meletakkan kerangka pemikiran yang jelas dan terarah, sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan selanjutnya, terlebih dahulu akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan judul di atas.

Santri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1989:783) diartikan sebagai orang yang mendalami agama Islam. Dalam hal ini yang perlu digaris bawahi adalah kata mendalami. Defenisi ini menunjukan bahwa santri berada dalam tahap pembelajaran, di mana pengetahuan agama Islamnya dari mulai kemampuan bahasa arab, fiqh, tauhid dan lain-lainnya. Pesantren adalah tempat atau lembaga pendidikan Islam dengan kyai sebagai tokoh sentralnya dan masjid pusat kegiatan.

Sedangkan ulama, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1989:985) diartikan sebagai orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam. Dari dua definisi tersebut, terlihat jelas perbedaan antara santri dengan ulama. Santri adalah orang yang belajar atau diajari pengetahuan agama Islam, sedangkan ulama adalah orang yang ahli dalam pengetahuan agama, termasuk di dalamnya kemampuan berkhitobah.

Kedua perbedaan tersebut menjadikan stimulus santri yang di dalamnya terdiri dari materi, metode, media serta kualitas khotib yang diberikan dengan stimulus yang diberikan ulama kepada mukhotob berbeda. Efeknya respons atau tanggapan yang dikeluarkan oleh mukhotob pun berbeda.

Respons menurut Onong Uchjana (1989:314) adalah sikap atau perilaku seseorang dalam proses komunikasi ketika menerima suatu pesan yang ditujukan kepadanya. Chaplin James. P (1999:431) mengartikan respons sebagai satu jawaban, khususnya satu jawaban bagi pertanyaan tes atau satu kuesioner. Ia juga mengartikan respons sebagai sebarang tingkah laku, baik yang jelas atau yang lahiriyah maupun yang tersembunyi. Sedangkan menurut Ahmad Subandi (1994:122), respons berarti umpan balik (feed back) yang memiliki peranan atau pengaruh yang besar dalam menentukan baik atau tidaknya komunikasi. Dengan adanya respons yang disampaikan oleh objek dakwah (mukhotob) kepada subjek khitobah (khotib) atau dari komunikan kepada komunikator akan memperkecil kesalahpahaman dalam sebuah proses dakwah atau komunikasi.

Pesan yang disampaikan khotib kepada mukhotob yakni keseluruhan ajaran Islam terbagi atas Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq. Para ahli dalam mendefinisikan khitobah, satu dengan lainnya berbeda. Tetapi walaupun para ahli berbeda dalam mendefinisikannya, kesemuanya mempunyai titik kesamaan, sebagaimana Asmuni Syukir (1983:104) menjelaskan pengertian khitobah sebagai berikut : “Khitobah merupakan suatu teknik atau metode dakwah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara seorang khotib (khotib, mubaligh) pada suatu aktivitas dakwah, dan metode dakwah seperti ini juga dapat pula bersifat propaganda”. Karateristik yang dipunyai oleh seorang khotib berasal dari pendidikannya, pengalaman serta kharismanya. Hal ini pula yang akan menyebabkan respons yang berbeda dari mukhotob.

Respons, yang dalam kata lain disebut juga dengan umpan balik memainkan peranan penting dalam proses khitobah. Sebab ia menentukan berjalan atau berhentinya proses khitobah yang akan dilaksanakannya oleh khotib. Umpan balik menurut Onong Uchjana (1997:14) bisa berbentuk umpan balik positif dan dapat berupa umpan balik negatif. Umpan balik positif adalah tanggapan atau reaksi mukhotob yang menerima pesan atau materi dari khotib, sehingga proses khitobah berjalan dengan lancar. Sebaliknya umpan balik negatif adalah tanggapan mukhotob yang menerima materi dari khotib sehingga proses khitobah kurang efektif dan efisien.

Dalam hal ini, respons yang akan dikemukakan indikatornya adalah sikap santri Pondok Pesantren Miftahul Falah terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin. Hal ini sesuai dengan pendapat LaPiere yang dikutip Saifuddin Azwar (2003:5) bahwa sikap merupakan respons terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Petty dan Cacioppo yang juga dikutip Saifuddin Azwar (2003:5) mengartikan sikap sebagai evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, objek, atau isyu-isyu.

Dalam beberapa hal, sikap meupakan penentu yang penting dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi, maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang dan tidak senang, menurut dan melaksanakannya atau menjauhi atau menghindari sesuatu.

Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap sesuatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan. Demikian pula sikap pada diri seseorang terhadap sesuatu atau perangsang yang sama mungkin juga tidak selalu sama. Di dalam kehidupan manusia, sikap selalu mengalami perubahan dan perkembangan (M. Ngalim Purawanto, 1997:141).

Teori yang mendukung dalam penelitian adalah SOR Theory atau Stimulus-Organism-Response yang dikemukakan oleh Skinner. Menurut stimulus respons ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Unsur-unsur dalam model ini adalah :

  1. Pesan (Stimulus, S)
  2. Komunikan (Organism, O)
  3. Efek (Respons, R)

Bila digambarkan secara skematis dan dihubungkan dengan permasalahan dalam penelitian ini adalah :

 

 

 

Gb. 1. Langkah-langkah perubahan perilaku menurut model Hovland, Janis & Kelly 1953 (dalam Wrightsman 7Deaux, 1981)

(Sb. Saifuddin Azwar, 2003:63)

 

Keberhasilan khitobah dalam menyampaikan pesan ajaran Islam ditentukan juga oleh keberhasilan seorang mubaligh dalam mengemas materi khitobahnya. Dalam hal ini yang menjadi subjek khitobah adalah Ustadz Jejen Zainal Abidin dan objek khitobah adalah semua golongan (santri).

Kegiatan khitobah akan dikatakan efektif apabila menimbulkan perubahan pada objek khitobah, dalam hal ini santri. Misalnya : meningkatkan pemahaman santri terhadap agama, sehingga ajaran agama dapat terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengetahui sejauh mana respons dari proses khitobah, dan bagaimana respons mukhotob terhadap aktivitas khitobah tersebut, maka seorang khotib harus mengetahui bagaimana kondisi yang menjadi objek khitobahnya.

 

  1. Langkah-langkah Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Yang dimaksud dengan metode deskriftif adalah untuk memaparkan situasi atau peristiwa (Jalaludin Rakhmat, 2000:24). Dengan metode deskriptif ini menuturkan dan menafsirkan data tentang perhatian, pemahaman, dan penerimaan santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.

  1. Lokasi Penelitian

Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Pondok Pesantren Miftahul Falah Jalan Raya Percobaan No. 2 Cileunyi Kab. Bandung. Alasan memilih tempat ini sebagai berikut :

  1. Data yang dibutuhkan untuk penelitian tersedia di pesantren ini.
  2. Lokasinya terjangkau oleh peneliti sehingga dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga.
  1. Belum ada yang meneliti.
  1. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu : data tentang pelaksanaan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pondok Pesantren Miftahul Falah dan data kualitatif tentang perhatian pemahaman, penerimaan, santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.

  1. Sumber Data

Yang menjadi sumber data dari penelitian ini adalah:

  1. Sumber data primer,
    1. Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah
    2. Rois Pondok Pesantren Miftahul Falah
    3. Santri.
    4. Pengurus Dewan Santri Miftahul Falah
  2. Sumber data sekunder,
    1. Dokumentasi Pondok Pesantren Miftahul Falah, dan
    2. Buku-buku yang berkaitan dan menunjang pada penelitian.

 

  1. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Observasi

Observasi dalam penelitian ini diarahkan untuk mengamati lebih detil mengenai perhatian, pemahaman, dan penerimaan santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pesantren Miftahul Falah. Teknik ini digunakan mengingat sejumlah data yang ada hanya dapat diambil melalui pengamatan langsung ke lokasi yang akan diteliti. Dan observasi ini juga dilakukan untuk memperkuat angket.

  1. Wawancara

Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan penelitian ini. Melalui teknik ini penulis berkomunikasi langsung (wawancara) dengan pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah, pengurus Desan Pondok Pesantren Miftahul Falah, dan sebagian dari santri itu sendiri. Alasan penggunaan teknik ini adalah karena tidak mungkin menggunakan angket yang diduga banyak kelemahannya, di antaranya yaitu alternatif jawaban yang disediakan dapat saja meleset dari kenyataan yang dialami responden.

  1. Angket

Angket digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan tanggapan atau jawaban responden yang berbeda baik dari segi usia serta pendidikannya. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, yaitu dengan cara mengedarkan formulir daftar pertanyaan yang disajikan secara tertulis kepada mukhotob sebagai responden, untuk mendapatkan jawaban dan tanggapan tertulis yang sudah disediakan untuk 24 responden. Angket tersebut meliputi unsur-unsur perhatian, pemahaman, serta penerimaan mukhotob terhadap pelaksanaan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin dan pengaruhnya.

Adapun alasan menggunakan teknik ini adalah untuk memperoleh data yang objektif dan konkrit serta jawaban yang penulis sediakan (tersedia) dalam angket, dengan mengisi alternatif jawaban yang telah tersedia pada angket dapat memberikan keleluasaan terhadap responden dalam memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

  1. Populasi dan Sample

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1987:102). Sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Falah Cileunyi Kab. Bandung yang berjumlah 120 orang.

Agar sample yang digunakan dapat dipertanggung jawabkan atau populasi, penulis menggunakan sample random sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (1987:105), yakni : “Penelitian boleh dilakukan apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil seluruhnya yang disebut dengan penelitian totalitas. Selanjutnya jika subyeknya (siswa) lebih dari 100, dapat diambil antara 10-15 % atau lebih, tergantung pada peneliti”.

Karena populasinya lebih dari 100 maka sample diambil 20% dari populasi, dengan 20% akan di dapat jumlah sample sebagai berikut :

Dengan demikian sample dalam penelitian ini 24 santri

 

  1. Analisis data

Untuk menganalisis data secara cermat dan mendalam digunakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Analisis data kualitatif dianalisis secara logika, baik deduktif maupun induktif. Analisis data kualitatif dilakukan terhadap data-data hasil observasi dan wawancara.
  2. Analisis data kuantitatif, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
    1. Seleksi data, akan dilakukan setelah seluruh angket terkumpul, dengan kriteria apakah setiap angket diisi sesuai dengan petunjuk yang telah diterapkan, dan apakah setiap lembar tidak ada yang rusak dan hilang sebagian. Berdasarkan kriteria tersebut, maka seluruh angket dapat diolah sebanyak populasi yang ada, yaitu responden.
    2. Membuat tabulasi data, maksudnya agar setiap frekuensi pada alternatif jawaban dalam angket dapat diketahui kemudian diartikan dalam proses, sehingga dapat diketahui kecenderungan setiap jawaban yang disediakan. Pentabulasian setiap pertanyaan ini meminta satu jawaban seorang responden, diperhitungkan satu item akan sama dengan jumlah responden. Contoh pentabulasian data responden:

No item

Alternatif jawaban

F

%

Jumlah

 

  1. Setelah melalui dua tahapan di atas, selanjutnya adalah pengolahan data yang didasarkan pada pengolahan yang diteliti dan metode yang digunakan. Penulis analisis dengan menggunakan pendekatan statistika, seperti hasil dari frekuensi pada alternative jawaban pada angket dan jumlah jawaban dari responden dalam menjawab setiap point pertanyaan berdasarkan pilihan jawaban yang telah disediakan dalam angket tersebut maupun alternative jawaban tersendiri.

     

     

    Untuk data statistik memakai rumus frekuensi

(Anas Sudjiono, 1996:40).

Keterangan :

  • P = Besar frekuensi
  • F = Frekuensi Jawaban
  • N = Jumlah Responden

Adapun tafsiran prosentase yang dihasilkan adalah:

76-100%        sangat baik

51-76%        baik

26-50%        kurang baik

1-25%            sangat kurang baik

BAB II

TINJAUAN TEORITIS TENTANG RESPONS, KHITOBAH, SERTA PONDOK PESANTREN

  1. Respons
    1. Pengertian respons

Menurut Onong Uchjana Effendi (1989:314) respons adalah sikap atau perilaku seseorang dalam proses komunikasi ketika menerima suatu pesan yang ditujukan kepadanya. Chaplin James .P (1999:431) mengartikan respons sebagai satu jawaban bagi pertanyaan tes atau satu kuesioner. Ia juga mengartikan respons sebarang tingkah laku, baik yang jelas atau yang lahiriyah maupun yang tersembunyi. Sedangkan menurut Ahmad Subandi (1994:122), respons berarti umpan balik (feed back) yang memiliki peranan atau pengaruh yang besar dalam menentukan baik atau tidaknya komunikasi. Dengan adanya respons yang disampaikan oleh objek dakwah (mukhotob) kepada subjek khitobah (khotib) atau dari komunikan kepada komunikator akan memperkecil kesalahpahaman dalam sebuah proses dakwah khitobah atau komunikasi.

Onong Uchjana Effendy (1997:14) mengatakan bahwa umpan balik memainkan peranan yang sangat penting dalam komunikasi, sebab ia menentukan berlanjutnya komunikasi atau berhentinya komunikasi yang dilancarkan oleh komunikator. Oleh sebab itu, umpan balik dapat bersifat positif, dapat pula bersifat negatif. Umpan balik positif adalah tanggapan atau respons atau reaksi komunikan yang menyenangkan komunikator, sehingga komunikasi berjalan lancar. Sebaliknya umpan balik negatif adalah tanggapan komunikan yang tidak menyenangkan komunikatornya, sehingga komunikator tidak mau melanjutkan komunikasinya.

Umpan balik, menurut Onong Uchjana Effendy, lebih lanjut terbagi menjadi dua, yaitu umpan balik verbal dan umpan balik non verbal. Umpan balik verbal adalah umpan balik yang berupa kata-kata, sedangkan umpan balik non verbal adalah umpan balik yang bukan berbentuk kata-kata, tetapi dapat berupa isyarat tangan, kepala dan lain-lain.

Berdasarkan pengertian respons yang diartikan oleh Onong Uchjana Effendy (1989:314) bahwa respons adalah sikap atau perilaku seseorang dalam proses komunikasi ketika menerima suatu pesan yang ditujukan kepadanya. Untuk lebih jelas mengetahui tentang respons, maka kita harus mengetahui konsep tentang sikap.

Charles Bird yang dikutip H.M Arifin (1994:104) mengartikan sikap sebagai suatu yang berhubungan dengan penyesuaian diri seseorang kepada aspek-aspek lingkungan sekitar yang dipilih atau kepada tindakannya sendiri. Bahkan lebih luas lagi, sikap dapat diartikan sebagai predisposisi (kecenderungan jiwa) atau orientasi kepada suatu masalah, institusi dan orang-orang lain.

LaPiere mengartikan sikap sebagai respons terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Petty dan Cacioppo mengartikan sikap sebagai evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, orang lain, objek atau isyu-isyu (Saifuddin Azwar, 2003:5).

Dalam beberapa hal, sikap merupakan penentu yang penting dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang dan tidak senang, menurut dan melaksanakannya atau menjauhi/menghindari sesuatu.

Tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap sesuatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang ada pada individu masing-masing seperti adanya perbedaan dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas perasaan dan juga situasi lingkungan. Demikian pula sikap pada diri seseorang terhadap sesuatu atau perangsang yang sama mungkin juga tidak selalu sama.

Karena sikap merupakan hasil dari pengamatan atau perkembangan dari proses pengalaman seseorang sehubungan dengan rangsangan dari objek tertentu, maka sikap bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, ia dapat dipelajari, pembentukan dan perubahannya (Toto Tasmara, 1997:22). Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (1997:141), di dalam kehidupan manusia, sikap selalu mengalami perubahan dan perkembangan.

Rafi’udin dan Maman Abdul Djaliel (1997:89-96) mengatakan bahwa banyak sekali teori tentang metode dalam mengubah sikap. Walaupun bukan jaminan keberhasilan, beberapa teori di bawah ini dapat membantu serta menunjang pelaksanaan khitobah, yang antara lain adalah :

  1. Teori S-O-R (Stimulus-Organism-Respons).

Teori ini beranggapan bahwa sikap dapat berubah karena adanya rangsangan atau daya tarik yang disebut stimulus dari subjek yang diterima oleh objek. Kuat lemahnya rangsangan akan menentukan mutu atau kualitas responden (reaksi, tanggapan, balasan) dari objek yang menerima stimulus. Di dalam proses khitobah, seorang khotib harus mampu memberikan stimulus dan penguatan kepada objek khitobah sehingga khitobahnya dapat diterima oleh mukhotob secara positif.

Ada 3 (tiga) variabel penting di dalam proses perubahan sikap, yaitu :

  1. Perhatian
  2. Pengertian/pemahaman
  3. Penerimaan

Kelancaran proses perubahan sikap tersebut bergantung pada keselarasan antara khotib dan mukhotob, apakah stimulus khotib dapat diterima objek khitobah atau bahkan ditolaknya. Apabila stimulus tersebut diterima, berarti komunikasi antara khotib dan mukhotob efektif dan lancar, demikian pula sebaliknya. Sedangkan apabila stimulus tersebut menarik perhatian objek, maka proses selanjutnya adalah mengerti dan selanjutnya objek khitobah menerimanya sehingga mereka siap mengubah sikapnya.

  1. Teori Propaganda.

Dakwah (khitobah) dapat berupa propaganda, baik melalui lisan, tulisan atau audio-visual. Sedangkan yang dimaksud dengan propaganda adalah suatu teknik, cara atau usaha sistematis yang dilakukan oleh individu atau kelompok lain. Beberapa segi yang harus diperhatikan mengenai propaganda ini adalah :

  1. Kebenaran isi propaganda harus diungkapkan dengan bukti-buktinya.
  2. Adanya stimulus yang kuat dengan penekanan untuk kepentingan dan keselamatan umum.
  3. Materi khitobah harus dihiasi dengan kalimat-kalimat sugesti dan inspiratif.
  4. Sebagai penguat argumentasi, khotib dapat menggunakan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
  5. Kata-kata yang dipakai tidak bersifat membicarakan orang lain.
  6. Memanfaatkan tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang lain.
    1. Jenis-jenis respons

Jalaluddin Rahmat (1999:127), membagi respons ke dalam dua kelompok, yaitu: konfirmasi dan diskonfirmasi.


  1. Konfirmasi
    1. Pengakuan langsung (direct aknowledgement) : saya menerima pernyataan anda dan memberikan segera; misalnya, “saya setuju, anda benar”.
    2. Perasaan positif (positive feeling) : saya mengungkapkan perasaan yang positif terhadap apa yang sudah anda katakan.
    3. Respons meminta keterangan (clarifying response) : saya meminta anda menerangkan isi pesan anda; misalnya, “ceritakan lebih banyak tentang itu”.
    4. Respons setuju (Agreeing response) : saya memperteguh apa yang anda katakana; misalnya, “saya setuju, ia memang bintang yang terbaik saat ini”.
    5. Respons suportif (supportive response) : saya mengungkapkan pengertian, dukungan atau memperkuat anda, misalnya, “saya mengerti apa yang anda rasakan”.
  2. Diskonfirmasi
    1. Respons sekilas (tangential response) : “saya memberikan respons pada pernyataan anda, tetapi dengan segera mengalihkan pembicaraan” misalnya, apakah film itu bagus?” lumayan, jam berapa besok anda harus saya jemput?
    2. Respons impersonal (Impersonal response) : saya memberikan komentar dengan mempergunakan kata ganti orang ketiga, misalnya, “orang memang sering marah diperlakukan seperti itu”.
    3. Respons kosong (Impervious response) : saya tidak menghiraukan anda sama sekali, tidak memberikan sambutan verbal atau non verbal.
    4. Respons yang tidak relevan (Irrelevan response) : seperti respons sekilas, saya berusaha mengalihkan pembicaraan tanpa menghubungkan sama sekali dengan pembicaraan anda, misalnya “buku ini bagus”, “saya heran mengapa Rini belum juga pulang menurut kamu kira-kira kemana ia?”.
    5. Respons interupsi (Interupting response) : saya memotong pembicaraan anda sebelum anda selesai, dan mengambil alih pembicaraan.
    6. Respons rancu (Incoherent response) : “saya berbicara dengan kalimat-kalimat yang kacau, rancu, atau tidak lengkap”.
    7. Respons kontradiktif (Incongruous response) : “saya menyampaikan pesan verbal yang bertentangan dengan pesan non verbal; misalnya saya mengatakan dengan bibir mencibir dan intonasi suara yang merendahkan, “memang bagus, betul pendapatmu”.

       

  3. Respons dalam ruang lingkup khitobah

Khitobah merupakan sebuah kegiatan yang di dalamnya terdapat variabel-variabel yang saling mendukung satu sama lain. Jika saja ada satu variabel yang tidak berjalan dengan baik, maka dipastikan kegiatan khitobah tidak akan berjalan dengan baik, tidak akan mencapai hasil yang maksimal.

Salah satu variabel tersebut adalah respons. Respons mempunyai peran yang tidak kalah penting dengan varibel-varibel khitobah yang lainnya. Ia merupakan gambaran tentang baik buruknya kegiatan khitobah yang dilaksanakan.

Dalam kaitannya dengan kegiatan khitobah, respons dapat dibagi ke dalam bagian-bagian sebagai berikut :

  1. Respons terhadap khotib (subjek khitobah)

Respons terhadap khotib diberikan oleh mukhotob. Dalam hal ini kualitas seorang khotib dinilai dari seluruh aspeknya, baik fisik maupun non fisik. Asmuni Syukir (1983:34) mengatakan bahwa setiap yang menjalankan aktivitas dakwah, hendaknya memiliki kepribadian yang baik sebagai seorang da’i.

Pada klasifikasi kepribadian seorang khotib, yang bersifat rohani pada dasarnya mencakup masalah sifat, sikap, dan kemampuan diri pribadi seorang khotib. Di mana ketiga masalah ini sudah dapat mencakup keseluruhan (kepribadian) yang harus dimilikinya.

  1. Sifat-sifat seorang khotib

Sifat-sifat seorang khotib meliptui iman dan taqwa kepada Allah, tulus ikhlas dan tidak mementingkan kepentingan diri pribadi, ramah dan penuh pengertian, rendah hati (tawadhu), sederhana dan jujur, tidak memiliki sifat egoisme, antusiasme (bersemangat), sabar dan tawakal, memilih jiwa toleran, bersifat terbuka serta tidak memiliki penyakit hati.

  1. Sikap seorang khotib

Sikap seorang khotib sangat mendapat perhatian yang serius dari sasaran dakwahnya. Kebanyakan orang melihat sikap orangnya terlebih dahulu, daripada melihat ajakannya, walaupun dikatakan dalam hadits Rasulullah Saw:

أنظر ما قال ولاتنظر من قال (الحديث)

Lihatlah apa yang dikatakan dan janganlah kamu melihat siapa orang yang mengatakan“.

Respons yang selanjutnya adalah respons terhadap fisik khotib. Asmuni Syukir (1983:47) mengatakan bahwa dakwah memerlukan akal yang sehat, sedangkan akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat. Oleh karena itu, seorang da’i memerlukan persyaratan kesehatan jasmani.

Selain sehat fisik, seorang da’i pun harus berpenampilan baik, artinya harus sesuai dengan kondisi dan tempat yang dikunjungi. Jamaluddin Kafie (1993:31) mengatakan bahwa sebagai seorang da’i sekurang-kurangnya harus :

  1. Sanggup menyelesaikan beban yang ditugaskan pada dirinya, mempertahankan agama sebagai kebenaran mutlak, dan menyebarluaskan nilai-nilai keagamaan sebagai keyakinan dan prinsip hidup yang benar.
  2. Mampu mengubah hidup manusia menjadi lebih berharga (bernilai) dan memberi kemampuan kepada mereka untuk menjadikan hidupnya di dunia sebagai investasi untuk kehidupan di akhirat kelak
  3. Pribadi atau individu yang selalu eksis dan konsisten terhadap tujuan dakwah, fungsi dan peranannya.

Dan yang tak kalah penting, seorang da’i (khotib) harus memperhatikan prinsip-prinsip kepimpinan, di antaranya; terbuka, berani berkorban, aktif berpartisifasi dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi pelopor dan perintis kebajikan, mengembangkan sifat-sifat ko-operatif, kemanusiaan, toleransi, kebijaksanaan dan keadilan sosial, tidak menjadi parasit bagi orang lain, percaya diri dan yakin akan kebenaran yang dibawanya serta optimis dan tidak mudah putus asa.

  1. Respons terhadap objek khitobah (mukhotob)

Jamaluddin Kafie (1993:32) mengungkapkan yang menjadi objek khitobah adalah seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan Endang Saifuddin Anshari (1986:192) yang menjadi objek khitobah adalah segenap manusia, bukan hanya orang Islam, tetapi juga non Islam.

Respons dalam lingkup khitobah adalah situasi dan kondisi yang terpenuhi pada waktu khitobah berlangsung yang dihubungkan dengan seluruh unsur khitobah lainnya. Manusia sebagai objek khitobah, mempunyai banyak variasinya. Menurut Jamaluddin Kafie (1993:34) manusia berdasarkan stratifikasi spiritual terbagi menjadi enam bagian, yaitu :

  1. Ammarah
  2. Musawwilah
  3. Lawwamah
  4. Muthmainnah
  5. Raddliyah mardliyah
  6. Kamilah

Data tentang mukhotob bukan hanya tentang kondisi keagamaannya, tetapi juga tentang seluruh hal yang berkaitan dengan usianya, pendidikannya, ekonominya dan lain-lain. Hal ini sebagai bahan pertimbangan bagi khotib untuk menentukan metode serta media yang cocok untuk mukhotob yang dihadapinya. Jika metode serta media yang digunakan khotib itu baik atau buruk maka mukhotob akan memberikan respons dengan adanya perubahan sikap dalam diri mukhotob terhadap kegiatan khitobah tersebut. Respons terhadap mukhotob adalah perubahan yang terjadi pada diri khotib.

  1. Respons terhadap materi khitobah

Endang Saifuddin Anshari (1986:192), yang menjadi materi khitobah adalah Al-Qur’an dan Hadits tentang perikehidupan dan penghidupan manusia. Hal yang paling penting dalam penyampaian materi adalah bagaimana khotib bisa memberikan materi yang sesuai dengan kondisi dan situasi mukhotob, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Kemudian Jamaluddin Kafie (1993:37) mengatakan bahwa materi yang disampaikan harus sesuai dengan kemampuan penerima khitobah, tingkat berfikirnya, serta keperluan mukhotob. Sehingga mukhotob faham terhadap isi pesan yang disampaikan oleh khotib. Quraish Shihab (1995:200) mengatakan bahwa materi-materi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat tercermin dalam tiga hal :

  1. Bagaimana ide-ide agama dipaparkan, sehingga dapat mengembangkan gairah generasi muda untuk mengetahui hakikat-hakikatnya melalui partisipasif positif mereka.
  2. Sumbangan agama ditujukan kepada masyarakat luas yang sedang membangun khususnya di bidang sosial, ekonomi dan budaya.
  3. Studi tentang dasar-dasar pokok berbagai agama yang dapat menjadi landasan bersama demi mewujudkan kerjasama antar pemeluk agama tanpa mengabaikan identitas masing-masing.

Jelasnya materi khitobah harus tetap fundamental, walaupun harus disampaikan dengan berbagai macam cara. Itulah respons yang akan disampaikan oleh objek khitobah. Respons terhadap materi akan keluar dari dalam mukhotob berupa perubahan dalam diri mukhotob. Misalnya dengan seringnya hadir atau jarangnya hadir dalam majelis taklim. Karena materinya sesuai atau tidak sesuai dengan kebutuhan mukhotob.

  1. Respons terhadap metode khitobah

Menurut Peter R. Senn yang dikutip oleh Jujun Somantri (1995:119) mengemukakan bahwa metode adalah prosedur atau mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis dalam upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam kegiatan khitobah. Sedangkan Rafiuddin (1997:48) mengatakan bahwa metode khitobah adalah cara berkhitobah yang tepat sehingga materi khitobah dapat diterima oleh mukhotob. Seorang khotib harus menguasai cara berkhitobah serta harus bisa memilih cara yang paling tepat, agar khitobahnya tidak sia-sia. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa metode khitobah terdapat dalam surat An-Nahl (16) ayat 125 :

äí÷Š$#
4’n<Î)
ÈÎ6y™
y7În/u‘
ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/
ÏpsàÏãöqyJø9$#ur
ÏpuZ|¡ptø:$#
(
Oßgø9ω»y_ur
ÓÉL©9$$Î/
}‘Ïd
ß`|¡ômr&
4
¨bÎ)
y7­/u‘
uqèd
ÞOn=ôãr&
`yJÎ/
¨@|Ê
`tã
¾Ï&Î#‹Î6y™
(
uqèdur
ÞOn=ôãr&
tûïωtGôgßJø9$$Î/
ÇÊËÎÈ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Depag RI, 1992:421).

Dari ayat di atas pada dasarnya teknik Kyai itu ada dua cara, yaitu; pertama, teknik satu arah yang meliputi bil-hikmah (kebijaksanaan) dan Mauidzatul Hasanah (tutur kata yang baik, nasihat yang baik). Dan kedua, teknik dua arah yang meliputi (bertukar pikiran, diskusi, debat dengan baik yang bertujuan untuk mencari solusi atau menemukan kebenaran tanpa untuk tujuan mengalahkan pihak tertentu).

Rafiuddin (1997:49), bertukar pikiran, diskusi dan debat ini biasanya menghasilkan beberapa alternatif, pendapat dan dilaksanakan terkadang oleh kelompok masing-masing. Di dalam metode-metode tersebut akan tercermin respons yang ditimbulkan mukhoton terhadap khitobah yang dikembangkan baik secara tradisional, formal maupun ilmiah. Respons terhadap metode khitobah akan keluar dari mukhotob sama dengan respons terhadap materi berupa perubahan-perubahan baik positif maupun negatif.

  1. Respons terhadap media khitobah

Seiring dengan perkembangan zaman sekarang ini, media khitobah tidak hanya mimbar, tapi juga media elektronik seperti televisi dan radio, telepon dan lain-lain. Khitobah tidak hanya dapat dilakukan secara tatap muka, tetapi juga dapat tanpa tatap muka seperti telepon, radio, dan lain sebagainya (Rafiuddin, 1997:52).

Semua media yang ada semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, pemilihan yang tepat sangat menentukan sekali terhadap keberhasilan khitobah. Apabila ada ketidaktepatan dengan media yang digunakan oleh khotib, maka mukhotob akan meresponsnya. Dan respons inilah yang akan menjadi bahan evaluasi bagi khotib untuk menentukan media yang paling cocok dengan keinginan mukhotob.

 

  1. Khitobah
    1. Pengertian Khitobah

Secara bahasa kata khitobah
adalah bentuk mashdar dari kata (fiil madhi) khotoba sama seperti khutbah. Khitobah diartikan Atabik Ali (1996:843) dengan pidato/retorika, khutbah, orasi, sesuatu yang dipercakapkan. Sesuai dengan asal katanya, khitobah merupakan pengungkapan pesan secara verbal (lisan) artinya khitobah dapat disebut sebagai dakwah bil-lisan.

Sedangkan Asmuni Syukir (1983:104), mengungkapkan bahwa khitobah (خطا بة) merupakan lafadz mashdar dari kata (خطب) yang secara etimologi, berarti ucapan, ceramah, pidato, dan lain sebagainya. Sedangkan isim failnya adalah (خطيب) yaitu yang menyampaikan ceramah atau pidato. Isim maf’ulnya adalah (مخطوب) yaitu orang yang diceramahi atau sering disebut objek dakwah, khitobah adalah ilmu yang membicarakan cara-cara berbicara di depan massa dengan tutur bicara yang baik agar mampu mempengaruhi pendengar untuk mengikuti paham atau ajaran yang dipeluknya

Dari pengertian di atas khitobah berarti ceramah, atau pidato pesan-pesan illahi yang disampaikan melalui media mimbar kepada sasaran dakwah (objek dakwah). Oleh karena itu, penguasaan keterampilan bicara di depan orang banyak merupakan hal pokok untuk mempengaruhi para pendengar atau mukhotob agar menerima, mengikuti, dan mengamalkan isi pesan yang disampaikan oleh khotib.

Pengertian khitobah tidak terlepas dari pengertian dakwah, bahkan khitobah adalah bagian teknik dakwah. Secara bahasa ia merupakan salah satu yang mengandung makna pwecakapan, ceramah (retorika). Khitobah adalah suatu teknik atau metode dakwah yang banyak diwarnai ciri karakteristik bicara seorang da’i pada suatu aktivitas dakwahnya.

Pengertian lain khitobah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan, atau usaha untuk mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik kepada pribadi maupun kepada masyarakat (M. Quraish Shihab, 1995 : 194).

Khitobah apabila ditinjau dari ilmu pengetahuan dapat disebut sebagai retorika, yaitu suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji cara berkomunikasi dengan menggunakan seni atau kepandaian berbicara. Dengan demikian secara sederhana dapat dilihat kejelasan dari pengertian khitobah yang lebih diartikan sebagai usaha untuk menyampaikan suatu pesan dengan sistematis agar mendapatkan respons yang positif.

Ditinjau dari prosesnya, khitobah adalah suatu proses komunikasi, dalam arti kata proses tersebut terlibat dua komponen manusia yang terdiri da’i atau penceramah sebagai komunikator, dan mad’u atau pendengar sebagai komunikan, namun secara khas dapat dibedakan dengan bentuk komunikasi lainnya dalam cara dan tujuan yang akan dicapai serta efek yang diharapkan. Dan yang membedakan secara esensial dakwah dari kegiatan komunikasi lainnya ialah pesannya, isinya, dan cara penyampaiannya.

Dengan demikian, tujuan dari komunikasi sifatnya umum, sedangkan tujuan dari khitobah sebagai salah satu bentuk dakwah adalah khusus, yakni mengharapkan adanya partisipasi dari pihak komunikan dan kemudian dapat bersikap dan berbuat sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Dan pendekatan yang digunakan oleh setiap pelaksanaan atau penyelenggaraan kegiatan tersebut adalah dengan cara persuasinya.

Khitobah merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji cara berkomunikasi dengan menggunakan seni atau kepandaian berbicara (berpidato atau berceramah). Khitobah ini sering dikatakan teknik atau metode dakwah yang banyak diwarnai ciri karakteristik bicara seorang da’i pada suatu aktivitas dakwah.

Penulis mencoba memberikan pandangan bahwa khitobah itu sama artinya dengan retorika. Retorika adalah seni penggunaan bahasa secara efektif (Onong Uchjana Effendi, 1994:53). Dan, retorika adalah kepandaian mengarang atau pengetahuan teknik melahirkan pikiran dan perasaan baik lisan maupun tulisan secara sempurna.

Istilah khitobah sekarang ini sedang ramai-ramainya digunakan oleh sebuah instansi pemerintah atau swasta, organisasi, baik melalui televisi, radio, dan ceramah langsung. Pada sebagian orang menamakan khitobah atau ceramah ini, dengan sebutan retorika dakwah sehingga ada retorika dakwah, retorika sambutan, dan sebagainya.

Jadi retorika merupakan ilmu yang membicarakan tentang cara-cara berbicara di depan massa dengan tutur bicara yang baik agar mampu mempengaruhi para pendengar (komunikan atau mad’u) supaya mereka mampu mengikuti faham yang dianut oleh komunikator atau da’i. Oleh karena itu, antara metode ceramah dengan retorika tidak ada perbedaan yang prinsipil namun hanya perbedaan istilah belaka (Asmuni Syukir, 1983:104-105).

Berdasarkan pengertian tadi, retorika adalah seni olah kata dan bahasa dalam berkomunikasi dengan manusia, dengan pengamatan dan perencanaan yang matang untuk mengubah kepercayaan nilai dan sikap suatu sesuai dengan komunikator. Dengan demikian, khitobah merupakan ilmu yang membicarakan tentang cara-cara berbicara di depan massa dengan tutur kata yang baik dan mampu mempengaruhi komunikan.

Dilihat dari proses kegiatannya dalam meresponi suatu kegiatan khitobah, seorang khotib akan mendapatkan respons dari mukhotobnya apabila dalam memberikan pesan khitobahnya sejalan dengan keinginan mukhotob. Menurut Onong (1984:11), komunikator yang baik adalah mereka yang mampu secara langsung menerjemahkan pikiran dan perasaan komunikan.

Dalam berkomunikasi media primer atau lambang yang paling banyak digunakan adalah bahasa. Akan tetapi tidak semua orang pandai mencari kata-kata yang tepat dan lengkap yang dapat mencerminkan pikiran dan perasaan yang sesungguhnya. Selain itu sebuah perkataan belum tentu mengandung makna yang sama bagi semua orang. Sama halnya dalam kegiatan penyiaran agama Islam (dakwah) seorang da’i menyampaikan satu materi dakwah, belum tentu semua mad’unya akan menarik pemahaman yang sama terhadap materi yang disampaikan oleh da’i tersebut, walaupun mereka menyimak secara bersama-sama, pada waktu yang sama, dan tempat yang sama.

Sebagian kata-kata mengandung dua jenis pengertian, yakni pengertian denotatif dan pengertian konotatif. Sebuah perkataan dalam pengertian denotatif adalah yang mengandung arti sebagaimana tercantum dalam kamus (dictionary meaning) dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang dengan bahasa dan kebudayaan yang sama. Perkataan yang mengandung pengertian konotatif adalah yang mengandung pengertian emosional atau mengandung pengertian tertentu (emotional or evaluative meaning).

Perkataan “anjing” misalnya dalam pengertian denotatif sama saja bagi semua orang, yaitu binatang berkaki empat, berbulu, dan memiliki daya cium yang tajam. Akan tetapi, dalam pengertian konotatif anjing bagi seorang Kyai yang fanatik merupakan hewan najis, sedangkan bagi seorang polisi merupakan pelacak; pembunuh, dan bagi seorang artis film Amerika mungkin saja merupakan teman sekamar pada saat mereka sedang kesepian. Mereka itu berbeda dalam pandangan dan pemikirannya terhadap anjing.

 

  1. Dasar Hukum Khitobah

Khitobah segala bentuknya adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim misalnya amar ma’ruf nahyi munkar. Berjihad memberi nasihat dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa syariat Islam tidak mewajibkan bagi umatnya untuk selalu mendapatkan hasil maksimal akan tetapi usahanyalah yang diwajibkan maksimal sesuai dengan keahlian dan kemampuannya.

Adapun ayat-ayat yang mendasari tentang wajibnya pelaksanaan khitobah bagi setiap muslim adalah sebagai berikut :

  1. Surat At-Tahrim (66) ayat 6

$pkš‰r¯»tƒ
tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#þqè%
ö/ä3|¡àÿRr&
ö/äÎ=÷dr&ur
#Y‘$tR
$ydߊqè%ur
â¨$¨Z9$#
äou‘$yfÏtø:$#ur
$pköŽn=tæ
îps3Í´¯»n=tB
ÔâŸxÏî
׊#y‰Ï©
žw
tbqÝÁ÷ètƒ
©!$#
!$tB
öNèdttBr&
tbqè=yèøÿtƒur
$tB
tbrâsD÷sãƒ
ÇÏÈ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
(Depag RI, 1992:951).

 

  1. Surat Yasin (36) ayat 17

$tBur
!$uZøŠn=tã
žwÎ)
à÷»n=t7ø9$#
ÚúüÎ7ßJø9$#
ÇÊÐÈ

Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”
(Depag RI, 1992:708).

 

  1. Tujuan Khitobah

Dari beberapa ayat keterangan tersebut bahwa menyampaikan ajaran Islam itu, bahkan pada diri sendiri maupun kepada orang lain adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mempunyai kemampuan melaksanakan pekerjaan itu.

Khitobah sebagai proses penyampaian pesan-pesan agama bertujuan memberikan informasi tentang Islam. Bagi proses khitobah tujuan merupakan salah satu faktor yang paling penting dan sentral secara ideal pun khitobah bertujuan menggapai kebahagian di dunia dan di akhirat. Pada tujuan itu dilandaskan segenap tindakan dalam rangka usaha kegiatan khitobah tersebut. Demikian pula tujuan senantiasa akan menjadi dasar bagi penentuan sarana serta strategi atau kebijaksanaan langkah-langkah operasional khitobah.

Secara umum tujuan khitobah adalah mengacu, membawa pada tujuan dakwah, hal ini disebutkan bahwa khitobah merupakan salah satu esensi dalam ruang lingkup dakwah, sehingga boleh dikatakan bahwa secara umum tujuan khitobah sama dengan tujuan dakwah.

Selain itu Asmuni Syukir (1983:51-54), mengklasifikasikan tujuan khitobah atau dakwah dalam dua tujuan, yaitu :

  1. Tujuan umum (mayor objektif) adalah mengajak umat manusia kepada jalan yang diridhai Allah Swt. Agar dapat hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat.
  2. Tujuan khusus (minor objektif) merupakan perumusan tujuan sebagai penciptaan daripada tujuan umum khitobah yaitu :
    1. Mengajak umat yang sudah memeluk agama Islam untuk selalu meningkatkan ketakwaannya kepada Allah Swt.
    2. Membina mental agama Islam bagi kaum yang masih mualaf.
    3. Mengajak umat manusia yang belum beriman agar beriman kepada Allah Swt.
    4. Mendidik dan mengajak umat agar tidak menyimpang dari fitrahnya.

Dalam konteks ini tujuan khitobah kemudian mencapai dimensi universal. Khitobah tidak hanya mengajak dan menyampaikan pesan-pesan spiritual saja, tetapi ia merupakan suatu aktivitas hidup pribadi muslim yang dibarengi dengan usaha untuk merubah keadaan yang menyimpang dari ajaran agama Islam, menjadi sesuai dengannya. Kemudian dari apa yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasul-Nya dapat terealisasi dalam kehidupannya. Dengan begitu pencapai pada tujuan khitobah merupakan maksud pencapaian pada cita-cita dakwah juga.

  1. Unsur-Unsur Khitobah
    1. Subjek Khitobah

Rafi’udin (1997:47), subjek khitobah (khotib) yaitu : orang yang melaksanakan tugas khitobah. Pelaksana atau subjek khitobah ini dapat perorangan atau kelompok yang tersedia dan mampu melaksanakan tugas khitobah, seperti lembaga dakwah dan lain-lain. Siapa saja dapat menjadi khotib tidak mesti seorang lulusan sarjana. Pribadi atau sosok khotib adalah sosok manusia yang mempunyai nilai keteladanan yang baik dalam segala hal. Maka seorang khotib mempunyai tanggung jawab moral serta mempertahankan diri sebagai sebaik-baiknya umat.

Menurut Aristoteles, yang dikutip oleh Jalaludin Rakhmat (1992:7) bahwa ada tiga cara untuk mempengaruhi manusia. Pertama, anda harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa anda memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Kedua, anda harus menyentuh hati khalayak : perasaan, emosi, harapan, kebencian, dan kasih sayang mereka (pathos). Ketiga, anda meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti (logos).

Dalam melaksanakan tugasnya yang pada dasarnya merupakan tugas Rasulullah, khotib sangat memerlukan persiapan yang kuat dalam tiga hal yaitu : pemahaman yang mendalam, keimanan yang teguh dan hubungan yang erat dengan Allah Swt. Ketiga macam persiapan tersebut merupakan perlengkapan dan rukun atau persyaratan bagi khotib. Apabila ketiganya tidak terpenuhi maka yang lain-lain tidak dapat menggantikannya, tetapi kalau keadaan ketiga persyaratan itu masih lemah maka menjadi kewajiban khotib untuk memperkuatnya.

Menjadi seorang khotib bukanlah hal yang mudah. Seorang khotib dituntut untuk beramal dengan ikhlas. Ia dituntut untuk mengorbankan hidupnya demi Islam. Sebagaimana yang dikatakan Fathi Yakan (1978:13), sebagai berikut :

Beramal untuk Islam belumlah dapat dijangkau oleh rekan-rekan da’i yang berdakwah hanya dengan lisan saja, hanya berbicara menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Kata-kata yang diucapkannya itu harus disertai dengan niat yang ikhlas, hidup untuk Islam, mati karena Islam…… tidak pernah lengah karena bergadang dan berjual beli. Ia tidak pernah lupa untuk mengingat Allah, dan berjuang untuk menegakkan agama Allah…!

 

Apapun pendapat para pakar tentang subjek khitobah, kita dapat mengambil sebuah pendapat bahwa seorang khotib dengan kata-katanya harus dapat merubah kondisi masyarakat (mukhotob) dari kondisi jelek atau jahiliyah menjadi kondisi yang baik. Demi keberhasilan khitobah, maka seorang khotib harus melaksanakan persiapan-persiapan, di antaranya :

  1. Persiapan fisik; Yang termasuk persiapan fisik di antaranya adalah kesehatan badan, pakaian yang digunakan, transport atau perjalanan.
  2. Persiapan mental; Hendaknya seorang khotib tidak merasa rendah diri, yakin bahwa ia mampu bertindak sebagai khotib, biasakan disiplin diri dalam beribadah, ikhlas serta jangan memperlihatkan kelemahan atau kekurangan.
  3. Persiapan teknis; Persiapan teknis meliputi penguasaan masalah yang akan diterangkan, penyusunan sistematika khitobah serta lamanya waktu yang akan dipergunakan (Siti Muri’ah, 2000:57-60).
    1. Objek Khitobah

Mukhotob merupakan isim maf’ul dari kata khottoba’ :

خطب – يخطب – تخطيبا – فهو مخطب – وذاك مخطب

yang mengandung arti orang yang diajak bicara. Dalam tata bahasa merupakan kata ganti orang kedua. Dalam lingkup khitobah, mukhotob merupakan orang yang diberi khitobah (obyek khitobah). Singkatnya, obyek khitobah (mukhotob) adalah orang yang akan menjadi sasaran pelaksanaan khitobah. Obyek khitobah sangat banyak sekali. Seluruh umat manusia dengan segala kondisinya merupakan sasaran khitobah, karena Islam diturunkan bukan hanya untuk satu kaun tetapi untuk seluruh umat manusia.

Menurut Ahmad Subandi (1994:85), mengatakan bahwa klasifikasi mukhotob itu, paling tidak, dapat dibedakan dari tiga sudut pandang : struktur individu, struktur masyarakat, dan sudut pandang sosiologis. Sedangkan Siti Muriah (2000:33) mengklasifikasikan mukhotob ke dalam enam kelompok, yaitu segi sosiologis, segi struktur kelembagaan, segi usia, segi sosial-ekonomis, segi sosial cultural, dan segi okuposional (profesi atau pekerjaan).

Mukhotob, jika terus dibagi-bagi maka tidak akan dapat terhitung, karena banyaknya. Yang pasti bahwa setiap manusia baik Islam maupun non Islam merupakan mukhotob, Endang Saifuddin Anshari (1986:92). Yang menjadi sasaran khitobah bukan hanya orang Islam, tetapi juga non Islam. Karena seorang muslim pun tidak cukup telah memeluk Islam melalui ikrar syahadat. Akan tetapi membutuhkan penerangan, pembinaan, serta bimbingan agar imannya tetap kuat.

Bagaimana pun kondisi mukhotob, sebenarnya yang menjadi objek khitobah adalah orang yang dapat mendengar (sehat pendengarannya), karena khitobah merupakan dakwah yang menggunakan lisan. Khitobah tidak akan ada manfaatnya jika dilaksanakan di depan orang-orang yang tidak dapat mendengar secara lahir. Karena sasaran khitobah adalah manusia sebagai organisme yang hidup dan mempunyai cita-cita luhur, maka pelaksanaan dan strategi khitobah hendaknya memperhatikan kondisi masyarakat, supaya pesan yang disampaikan dapat diterima oleh mukhotob.

Pengetahuan tentang kondisi mukhotob sangat mempengaruhi keberhasilan khitobah. Banyaknya mukhotob yang akan dihadapi oleh khotib, menunjukkan pula banyaknya metode, serta media yang harus dikuasai oleh khotib. Sering seorang khotib keliru memahami kondisi masyarakat yang dihadapi, baik segi perkembangan dan pergeseran nilai-nilai. Dari kekeliruan ini, timbul pula kekeliruan lain seperti :

  1. Materi yang disampaikan tidak sesuai dengan harapan pendengar.
  2. Materi yang disampaikan belum saatnya disampaikan ketika itu. Akibatnya, timbul perbedaan pendapat, dan perpecahan sangat mungkin terjadi.
  3. Materi terlalu teoritis, sehingga pendengar tidak mengetahui maksud dan tujuannya, dengan demikian tidak dapat mengambil hikmahnya, dan lain-lain.
  4. Materi yang disampaikan tidak sesuai dengan harapan pendengar
  5. Materi yang disampaikan belum saatnya disampaikan ketika itu. Akibatnya, timbul perbedaan pendapat, dan perpecahan sangat mungkin terjadi.
  6. Materi terlalu teoritis, sehingga pendengar tidak mengetahui maksud dan tujuannya, dengan demikian tidak dapat mengambil hikmahnya, dan lain-lain.

Dengan demikian, jika hal-hal seperti di atas tidak diperhatikan, kemungkinan terputusnya hubungan khotib dengan pendengarnya (mukhotob) terbuka luas (Quraish Shihab, 1995:200).

Dilihat dari sudut sosiologis, objek khitobah dapat dibedakan menjadi masyarakat kota dan desa. Dalam perspektif sosiologis, manusia hanya dapat didekati dengan tiga pendekatan :

  1. Manusia sebagai mahluk individu memiliki keinginan-keinginan yang harus terpenuhi secara seimbang yakni kebutuhan materi, kebutuhan inilah dapat menentramkan hatinya.
  2. Sebagai mahluk sosial, manusia cenderung hidup berkelompok dan berinteraksi. Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak bisa hidup sekehendaknya, karena terikat oleh aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku di lingkungannya.
  3. Mahluk ketuhanan, manusia sebagai mahluk yang berketuhanan akan menampilkan sikap tingkah laku serta apresiasinya untuk menemukan sang Pencipta. Pemenuhan dan pencarian akan terus berlangsung sampai ia menemukan garda keyakinannya, dan sampai pada akhirnya, manusia menemukan hakikat Tuhan melalui perantara agama.

 

 

 

  1. Materi Khitobah

Materi khitobah merupakan pesan yang disampaikan oleh khotib kepada mukhotob. Yang menjadi materi khitobah adalah al-Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah) tentang perikehidupan dan penghidupan manusia, (Endang Saifuddin Anshari 1986:192). Sedangkan menurut Hamzah Ya’qub (1981:30), mengungkapkan bahwa materi dakwah meliputi ajaran Islam yang terdiri aspek dunia dan aspek akhirat, di antaranya adalah :

  1. Aqidah Islam, tauhid dan keimanan,
  2. Pembentukan pribadi yang sempurna,
  3. Pembangunan masyarakat yang adil dan makmur,
  4. Kemakmuran dan kesejahteraan dunia dan akhirat.

Al-Qur’an tidak memilah-milah materi yang disajikan, khususnya bila diamati sistematika susunan ayat-ayat dalam mushaf. Namun demikian kebutuhan khitobah dan pendidikan serta melihat kenyataan sejarah periodisasi turunnya ayat, maka pemilahan tersebut dalam batas-batas tertentu perlu diadakan, (Quraish Shihab, 1995:200). Materi yang demikian luas dan lengkap itu sudah tentu memerlukan pemilahan-pemilahan dan membuat prioritas dengan memperhatikan situasi kondisi mukhotob.

Materi khitobah, yang dalam komunikasi disebut dengan istilah pesan, supaya dapat menarik perhatian pendengar, ada beberapa prinsip yang harus dipertimbangkan, di antaranya :

  1. Tunjukkan bahwa topik itu berhubungan erat dengan kepentingan khalayak. Jadi ambilah bahan-bahan pembicaraan yang berkaitan dengan mereka.
  2. Hindari satu jenis teknik pengembangan bahasan. Gunakan berbagai teknik kutipan, analogi, contoh, puisi, definisi, dan peribahasa.
  3. Gunakan contoh-contoh yang spesifik dan konkrit.
  4. Ceritakan kisah-kisah menarik. Untuk itu, anda dapat menggunakan karya-karya sastra, peristiwa-peristiwa sejarah, kejadian aktual dalam koran atau majalah, pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain.
  5. Organisasikan bahan-bahan itu atau berikan makna kepadanya secara orisinil, kreatif dan inovatif (Jalaluddin Rahmat, 2000:115).

 

  1. Metode Khitobah

Metode adalah cara yang dilakukan oleh seorang khotib untuk mencapai suatu tujuan tertentu atas dasar hikmah dan kasih sayang, dengan kata lain pendekatan khitobah haruslah tertumpu pada suatu pandangan hukum oriented menempatkan penghargaan yang mulia atas diri manusia (Toto Tasmara, 1994:43).

Metode yang sangat penting dan perlu diperhatikan, karena dengan menggunakan metode ini dimaksudkan agar para mubaligh atau pelaksana khitobah mampu melaksanakan pendekatan yang tepat dan efektif dalam menghadapi suatu golongan tertentu.

Penguasaan terhadap metode khitobah ini merupakan faktor fundamental dalam menunjang keberhasilan khitobah. Metode ini memiliki beberapa kelebihan dan keistimewaan, di antaranya adalah :

  1. Materi khitobah dapat disampaikan sebanyak-banyaknya dalam waktu yang relatif singkat.
  2. Memungkinkan bagi khitobah untuk menggunakan pengalamannya, kebijakannya dan keistimewaannya sehingga mustami mudah tertarik, dan menerima materi yang disampaikan.
  3. Memudahkan khotib menguasai seluruh materi.
  4. Materi yang baik dapat memudahkan mustami dalam menerima pesan yang disampaikan.
  5. Metode khitobah lebih fleksibel.

Disisi lain metode ini memiliki kekurangannya :

  1. Khotib sukar untuk mengetahui pemahaman mustami terhadap materi yang disampaikan.
  2. Metode khitobah bersifat satu arah.
  3. Sukar menjajaki pola pikir dengan pusat perhatian.
  4. Cenderung otoriter, (Asmuni Syukir, 1983:107).

 

  1. Media Khitobah

Kata media berasal dari bahasa latin “median” yang berarti alat perantara, media adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai alat atau perantara untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian metode khitobah dapat diartikan segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai segala tujuan khitobah yang telah ditentukan, media khitobah tersebut dapat berupa barang, orang, tempat, kondisi tertentu dan sebagainya (Asmuni Syukir, 1983:163).

Dalam kegiatan dakwah Islamiyah dikenal ada beberapa media yang dijadikan sebagai sarana alternatifnya, misalnya : media massa, media elektronik, dan juga sarana mimbar. Dalam konteks tulisan ini media yang dipakai adalah sarana mimbar sebab yang dipakai adalah metode khitobah.

Bagaiamana pun juga sarana mimbar tetap diakui sebagai salah satu media alternatif dalam menyampaikan pesan-pesan ajaran agama Islam, karena sifatnya yang fleksibel dan langsung dihadapi oleh mukhotob.

 

  1. Tujuan Khitobah

Khitobah adalah usaha atau kegiatan yang mempunyai tujuan karena tanpa tujuan yang jelas seluruh aktivitas dakwah akan sia-sia. Jadi tujuan khitobah itu dapat diartikan suatu proses untuk mengubah pola pikir dan sikap serta pandangan hidup seseorang dan menyampaikan pesan-pesan Islam kepada khalayak.

Menurut Ahmad Subandi (1994:60), tujuan khitobah adalah menyampaikan informasi tentang agama Islam dan memperkenalkan kepada seluruh umat manusia. Tujuan akhir khitobah adalah terbentuknya suatu totalitas umatan hasanah atau khairul ummah yakni tata sosial yang sebagian anggotanya bertauhid untuk senantiasa mengerjakan yang ma’ruf dan secara berjamaah menolak kemurkaan. Hal ini dapat mengajak umat manusia pada jalan yang benar yang diridhai Allah Swt agar dapat hidup bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat.

Kebahagian dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah Swt merupakan suatu nilai atau hasil yang diharapkan dapat dicapai oleh keseluruhan aktivitas dakwah.

 

  1. Efek Khitobah

Menurut Abdullah Hanafi (1984:138), mengemukakan bahwa efek komunikasi terjadi pada suatu tempat di antara pada saat seseorang mengarahkan inderanya pada isyarat komunikasi dan saat ia melakukan tindakan. Jadi efek itu tersembunyi di dalam otak kita, dan efek komunikasi adalah perubahan pengalaman yang telah kita simpan dalam sistem saraf kita.

Dam akibat dari proses komunikasi menghasilkan akibat kognitif. Akibat kognitif adalah peningkatan pengetahuan, dan efektif yaitu mengubah perasaan tertentu, misalnya senang tidak senang. Sedangkan konatif adalah terjadi perilaku atau perbuatan nyata. Demikian halnya diterangkan oleh Abu Zahra, bahwa efek dari efektifitas dakwah berupa perbuatannya terhadap sesama manusia. Kerukunan hidup bertetangga dan pergaulan baik membuka tali silaturahmi antara kaum muslim dan non muslim (Abu Zahra, 1994:95).

Efek khitobah dapat dilihat dari cara pemahaman mad’u terhadap pesan yang disampaikan pada saat aktivitas dakwah itu berlangsung. Dengan demikian, pemahaman pada prinsipnya yaitu kemampuan untuk mengerti dengan jelas mengenai sesuatu hal berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang didapat pada masa lalu dalam menerima pengetahuan yang baru. Dari pengalaman yang berbeda-beda akan berbeda pula efek yang ditimbulkan.

 

  1. Ruang Lingkup Khitobah

Dimensi khitobah tidak hanya dilakukan pada saat mimbar saja dalam wujud formal. Pada prakteknya kegiatan khitobah dilakukan dalam kondisi yang beraneka ragam, seni berbicara dapat diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk hubungan antar individu. Namun khitobah lebih berperan penting dalam pembicaraan yang menyangkut keanekaragaman khalayak, sifat pluralis khalayak memberikan tantangan tersendiri bagi pembicaraan. Karena khitobah harus bisa memberi persepsi dari khalayak yang beragam. Ruang lingkup khitobah tidak hanya bisa dilakukan dalam kegiatan ceramah formal seperti sering kita saksikan. Tetapi khitobah juga akan lebih efektif apabila dilakukan seperti di kantor-kantor. Secara sederhana ruang lingkup khitobah bisa dikategorikan ke dalam dua kelompok besar.

 

  1. Pondok Pesantren
    1. Pengertian Pondok Pesantren

Pondok Pesantren menurut bahasa adalah madrasah dan asrama (tempat mengaji dan belajar agama Islam). Adapun menurut istilah Pondok Pesantren adalah merupakan sebuah lembaga pendidikan agama yang berfungsi ganda, yaitu lembaga pendidikan yang mampu mengembangkan kemampuan dan penalaran, keterampilan dan kepribadian kelompok usia muda sekaligus sebagai lembaga sosial di pedesaan yang memiliki peran sosial dan mampu menggerakkan swadaya dari segi jasmani maupun rohani.

Sedangkan menurut Pupuh Faturrahman (2000:89), bahwa istilah “pondok” berasal dari pengertian para santri, atau tempat tinggal yang terbuat dari bamboo. Sedangkan istilah pesantren adalah berasal dari kata “santri” yang dengan tambahan awalan “pe” dan akhiran “an” berarti tempat tinggal para santri.

Dari uraian di atas mengenai pengertian Pondok Pesantren, penulis dapat menyimpulkan bahwa Pondok Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang mengajarkan ke-Islaman dan pengembangan masyarakat Islam dalam segi kehidupan sosial ekonomi masyarakat, sehingga akan menciptakan masyarakat sejahtera lahir dan batin yang diridhai Allah Swt.

 

  1. Sejarah Pondok Pesantren

Pondok Pesantren yang ada di Indonesia pada saat ini mempunyai sejarah yang cukup panjang, sebab sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa ahli bahwa lembaga ini telah ada sejak jaman kerajaa Hindu-Budha. Seperti yang telah dikemukakan oleh Nurcholis Majid bahwa ditinjau dari sudut historisnya, pesantren tidak hanya mengundang makna ke-Islaman, melainkan juga menunjukkan keaslian Indonesia.

Sebab lembaga ini telah ada pada masa kerajaan Hindu-Budha, sedangkan Islam hanya meneruskan dan sekaligus mengislamkannya (M. Dawam Rahardjo, editor 1935:83). Hal ini juga diperkuat oleh Manfrd Ziembd (1986:100), yang mengatakan bahwa pesantren Indonesia itu adalah mencontoh lembaga-lembaga pendidikan Hindu-Budha, serta merupakan bentuk perubahan dari tempat-tempat pendidikan asrama dan mandawa seperti dahulu yang terdapat di India, Burma, Thailand, atau bahkan mendukung pendapat atau anggapan ini adalah Manfred Zienek, mengatakan bahwa lembaga-lembaga yang mirip dengan pesantren itu tidak pernah dikemukakan dalam Islam di Timur Tengah dan di Timur dekat.

Namun demikian, semenjak masa permulaan Islam ke Indonesia Pondok Pesantren mulai lahir dan berkembang sebagai lembaga-lembaga dan penyebaran-penyebaran agama Islam yang tentu saja hal ini memiliki perbedaan dengan sebelumnya.

Bila pesantren pada masa Hindu-Budha yang ditangani oleh anak-anak golongan Aristokrat (bangsawan) maka pesantren pada zaman permulaan kedatangan Islam bahkan hingga kini juga dikunjungi oleh anak-anak dan orang dari segenap lapisan masyarakat, khususnya rakyat jelata (M. Dawam Rahadjo, 1988:65).

Lahirnya Pondok Pesantren memang tidak sekaligus begitu saja, melainkan tumbuhnya dengan bertahap sedikit demi sedikit. Begitu pula bahwa perkembangan lembaga ini tidak selalu menumbuhkan grafik naik, akan tetapi mengalami pasang- surut. Para pewarisnya memang berusaha menemukan sebab-sebab kemunduran dan keruntuhannya (M. Dawam Rahadjo, 1988:64).

  1. Tujuan Pondok Pesantren

Untuk memahami tujuan pendidikan Pondok Pesantren seyogyanya kita terlebih dahulu memahami tujuan hidup manusia menurut Islam. Artinya tujuan pendidikan pesantren harus sejalan dengan tujuan hidup manusia menurut konsep ajaran Islam. Sebab pendidikan hanyalah cara yang ditempuh agar tujuan hidup ini dapat tercapai.

Al-Qur’an menjelaskan, bahwa manusia diciptakan di muka bumi ini untuk menjadi khalifah, berusaha melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt dan mengambil petunjuk-Nya. Allah Swt pun menganugerahkan apa yang ada di bumi ini untuk kepentingan hidup manusia dan merealisasikan tujuan hidup itu. Kemudian dapat dipahami pula bahwa dasar-dasar penetapan tujuan pendidikan pesantren adalah sama dengan dasar dan tujuan pendidikan Islam. Karena pesantren adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari berbagai bentuk perkembangan peradaban Islam.

Karena itu dasar-dasar pendidikan pesantren akan terdiri dari Al-Qur’an, sunnah Nabi Muhammad Saw, kata-kata sahabat, kemaslahatan masyarakat (masholihul mursalah), nilai dan adat-istiadat masyarakat (‘urf) dan hasil pemikiran (ijtihad) pakar muslim, sedangkan dasar-dasar operasional teoritik penetapan tujuan pesantren harus berdasarkan operasional filosofi, psikologis, histories, sosial, politik, dam ekonomi (Hasan langgulung, 1988:7-12).

 

  1. Model-model Pondok Pesantren

Meskipun setiap pesantren mempunyai ciri-ciri dan penekanan tersendiri, hak itu tidaklah berarti bahwa lembaga-lembaga pesantren tersebut benar-benar berbeda satu sama lain, sebab antara yang satu dengan yang lain masih saling kait mengait. Sistem yang digunakan pada suatu pesantren juga diterapkan di pesantren lain, dan sebaliknya.

Karena itu, sebenarnya amat sulit untuk menentukan dan menggolongkan lembaga-lembaga pesantren ke dalam tipologi tertentu, misalnya : pesantren salaf dan khalaf atau pesantren tradisional dan modern. Tidak ada dasar penggolongan tersebut, bagi dari segi sistem yang digunakan atau dari model kelembagaannya. Buktinya, sistem pengajian yang diterapkan pada sebuah pesantren “salaf” ternyata juga dipakai di pesantren “modern”. Begitu pula model kelembagaan pesantren modern banyak yang digunakan di pesantren salaf.

Menurut Zamakhsyari Dhaffier, sebuah pesantren digolongkan kecil bila memiliki santri di bawah 1000 orang dan pengaruhnya hanya sebatas kabupaten. Pesantren sedang memiliki santri antara 1000-2000 orang yang pengaruhnya dan rekruitmen santrinya meliputi beberapa kabupaten. Sedang pesantren besar memiliki santri lebih dari 2000 orang dakwah bisaanya berasal dari beberapa kabupaten dan propinsi (Zamakhsyi Dhafier, 1994).

 

  1. Pesantren Salaf

Menurut Zamakhsyi Dhafier, pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajian kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk menumbuhkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengamalkan pengajaran-pengajaran pengetahuan umum. Sistem pengajaran pesantren salaf memang lebih sering menerapkan model sorogan dan weton. Istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang berarti waktu. Disebut demikian karena pengajian model ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu, biasanya sesudahnya mengerjakan sholat fardhu.

Sedangkan pada sistem sorogan, para santri maju satu persatu untuk membaca dan menguraikan isi kitab di hadapan seorang guru sekaligus mengevaluasi penguasaan santri terhadap kandungan kitab yang dikaji. Akan tetapi, sistem ini membutuhkan kesabaran, ketekunan, ketaatan dan kedisiplinan yang tinggi dari para santri. Model ini biasanya hanya diberikan kepada santri pemula yang memang masih membutuhkan bimbingan khusus secara intensif. Pada umumnya pesantren lebih banyak menggunakan model weton karena lebih cepat dan praktis untuk mengajar banyak santri.

  1. Pesantren Khalaf

Pesantren khalaf adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dilembagakan, atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum, seperti : SMP, SMU, dan bahkan perguruan tinggi dalam lingkungannya. Akan tetapi, tidak berarti pesantren khalaf meninggalkan sistem salaf. Ternyata hampir semua pesantren modern meskipun telah menyelenggarakan sekolah-sekolah umum, tetap menggunakan sistem salaf di pondoknya.

Dibandingkan dengan pesantren salaf, pesantren khalaf mengantongi satu nilai karena lebih lengkap materi pendidikannya yang meliputi pendidikan agama dan umum. Para santri khalaf diharapkan mampu memahami aspek-aspek keagamaan dan keduniaan agar dapat menyesuaikan diri secara lebih baik dengan kehidupan modern daripada untuk pesantren salaf.

 

  1. Fungsi dan Peran Pondok Pesantren

Fungsi pesantren adalah membina dan mengembangkan para masyarakat (santri) untuk menjadi manusia muslim yang bertaqwa, tawakal serta mengabdi dengan istiqomah kepada Allah Swt, disamping itu para santri diharapkan mempunyai kesadaran yang tinggi akan hak dan kewajiban sebagai warga negara sertap patuh kepada kyai dan pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam melaksanakan usaha pesantren selalu berpegang kepada firman Allah Swt :

$yJ¯RÎ)
tbqãZÏB÷sßJø9$#
×ouq÷zÎ)
(#qßsÎ=ô¹rsù
tû÷üt/
ö/ä3÷ƒuqyzr&
4
(#qà)¨?$#ur
©!$#
÷/ä3ª=yès9
tbqçHxqöè?
ÇÊÉÈ

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat (49) ayat 10 Depag RI, 1992:846).

Kehadiran pondok pesantren ternyata tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran agama. Demikian yang diungkapkan oleh Mastuhu dalam bukunya Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (1994:59). Bahkan pesantren berhasil menjadikan dirinya sebagai pusat pergerakkan pengembangan Islam. Hal ini seperti yang diakui oleh DR. Soebardi dan Prof. Johns yang dikutip Zamakhsyari Dhafier dalam buku Tradisi Pesantren (1974:17).

Lembaga-lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak ke-Islaman dari kerajaan-kerajaan Islam yang memegang peranan paling penting bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Dari lembaga-lembaga pesantren itulah asal-usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara, yang tersedia secara terbatas, yang dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama dari perusahaan-perusahaan dagang Belanda dan Inggris sejak abad ke-16. untuk dapat betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai mempelajari lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini

 

Ini berarti bahwa fungsi pokok pesantren bagi masyakat mencakup beberapa bidang, yaitu :

  1. Fungsi pondok pesantren di bidang pendidikan

Pondok pesantren dengan segala bentuk dan jenisnya juga tergolong pada lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Di mana eksistensinya diakui oleh warga masyarakat. Hanya saja secara spesifik bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengarah kepada bidang keagamaan (Islam).

Dalam hal ini A. Mukti Ali (1987:15,17,18,19) mengemukakan bahwa pada dasarnya pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam, pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan agama Islam diharapkan dapat diperoleh dari lembaga ini (pesantren). Beliau juga mengemukakan beberapa ciri pendidikan dan sistem pengajaran yang ada di pondok pesantren. Di antara ciri-ciri pendidikan di pondok pesantren adalah : 1) Adanya hubungan yang akrab antara santri dan Kyai, 2) Tunduknya para santri kepada Kyai, 3) Adanya prinsip hidup hemat dan sederhana, 4) Adanya semangat menolong diri sendiri amat terasa di kalangan santri di pondok pesantren, 5) Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan sangat mewarnai pergaulan para santri di pondok pesantren, 6) Penanaman rasa disiplin sangat ditekankan di pondok pesantren, 7) Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan adalah salah satu pendidikan yang diperoleh pesantren, 8) kehidupan agama yang baik dapat diperoleh para santri di pondok pesantren itu sendiri.

Satu hal yang barangkali perlu diingat adalah bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam (di Indonesia) adalah mempunyai arti dan peranan yang cukup besar dalam pengembangan bangsa dan Negara Indonesia. Dan sebagai lembaga pendidikan pondok pesantren ikut bertanggung jawab terhadap proses mencerdaskan bangsa secara keseluruhan. Sedangkan secara khusus lembaga ini bertanggung jawab atas kelangsungan tradisi keagamaan (Islam) dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu bentuk pribadi manusia mukmin yang sejati dan punya kualitas moral serta intelektual.

Adapun target yang hendak dicapai oleh pondok pesantren adalah untuk membekali para santrinya agar memiliki iman, ilmu, ibadah dan ahlaknya yang mulia. Sehingga apabila mereka terjun ke masyarakat nanti diharapkan tidak bersifat pasif. Di samping itu juga untuk mempersiapkan para santri agar kelak menjadi orang yang bisa mengambil bagian (berpartisipasi) dalam pembangunan bangsa dan memajukan negara, serta dapat membentuk watak yang mulia. Sebab masalah-masalah yang menyangkut tentang kesadaran politik, ekonomi, dan sosial budaya tidak perlu dipertentangkan, karena hal itu menurut Islam termasuk masalah kebutuhan pokok dalam kehidupan sesuatu bangsa (Saifuddin Zuhri, 1981:617).

  1. Fungsi pondok pesantren di bidang sosial kemasyarakatan.

Pondok pesantren adalah suatu lembaga yang hidup di tengah-tengah masyarakat, dan pada umumnya lembaga ini dirintis dan didirikan oleh seorang Kyai dengan bantuan swadaya (dukungan dan sumbangan) masyarakat. Dengan demikian pondok pesantren sekaligus menjadi lembaga sosial kemayarakatan.

Secara histories bahwa pada zaman wali songo, zaman kerajaan Islam jawa, zaman pergolakan melawan penjajahan dan pada masa-masa revolusi kemerdekaan bahkan hingga masa Orde Baru, peranan pondok pesantren bagi perubahan sosial kelihatannya cukup jelas. Sebab ketika itu, fungsi dan peranan pondok pesantren sebagai lembaga sosial lebih menonjol dibandingkan dengan fungsi dan peranannya sebagai lembaga pendidikan (M. Dawam Rahardjo, 1987:61).

Untuk masa-masa mendatang, pondok pesantren dapat dijadikan agen perubahan bagi masyarakat sekitarnya yakni sebagai lembaga pesantren yang diharapkan dapat berperan sebagai dinamisator dan katalisator pembangunan masyarakat, yang bukan hanya di bidang keagamaan melainkan juga di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Dari pernyataan seperti tersebut akhirnya timbul minat pesantren untuk mengembangkan program kemasyarakatan. Program ini secara sederhana dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian. Pertama, bersifat intern, yaitu suatu program kemasyarakatan yang tumbuh dan dikembangkan oleh inisiatif pihak pesantren sendiri. Kedua, bersifat ekstern, yaitu pendekatan program kemasyarakatan yang dikembangkan atas hasil kerja sama pesantren dengan pihak luar. Walaupun dilihat dari bentuk kegiatannya kedua macam itu sulit dibedakan, namun dipandang secara keseluruhan, hal ini akan berbeda, bahkan kontradiksi. Akan tetapi kedua-duanya saling berkaitan dan saling mendukung.

Keterangan-keterangan tersebut menggambarkan dengan jelas dan nyata bahwa pondok pesantren merupakan lembaga sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, maka pondok pesantren tidak dapat melepaskan dan menjauhkan diri dari masyarakat, terutama yang berada di sekitarnya.

  1. Fungsi pondok pesantren di bidang keagamaan (dakwah).

Jika diperhatikan kembali masalah pengertian dan sejarah pesantren di Indonesia, maka jelaslah bahwa pondok pesantren merupakan lembaga keagamaan, dan memang begitulah kenyataannya bahwa pada dasarnya bidang garapan pondok pesantren adalah masalah keagamaan (membina umat). Oleh karena itu, baik peranan dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan dan sosial kemasyarakatan tujuan agama Islam (Dakwah Islamiyah).

Berkenaan dengan hal tersebut, Saifuddin Zuhri, (1981:616) berpendapat bahwa tidaklah berlebihan apabila pesantren dikategorikan sebagai benteng ketahanan agama Islam, di samping kedudukannya sebagai tempat pengembangan. Sementara itu M. Dawam Rahadjo (1985:7) juga mengemukakan bahwa identitas pesantren pada awal perkembangannya adalah sebagai lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam. Demikian pula Soebardi dan Johns dalam kutipan Zamakhsyari Dhofier (1990:17) mengemukakan bahwa lembaga-lembaga itulah yang paling menentukan watak ke-Islaman dari kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi penyebarannya sampai ke pelosok-pelosok dan dari lembaga-lembaga pesantren itulah asal-usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara yang tersedia secara terbatas dan dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama, dari perusahaan-perusahaan dagang Belanda dan Inggris sejak abad ke-16. Untuk dapat betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai mempelajari lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam.

Dari keterangan-keterangan atau pendapat yang dikemukakan di atas, kita dapat mengambil atau suatu kesimpulan bahwa sebagai lembaga keagamaan pondok pesantren dapat dijadikan sebagai saran atau tempat penyelenggaraan kegiatan dakwah (penyiaran agama Islam). Dengan kata lain bahwa pondok pesantren berfungsi sebagai lembaga Amar maruf nahyi munkar, sehingga segala sesuatu yang dikerjakan oleh pondok pesantren secara institusional berkenaan dengan masalah keagamaan.

  1. Fungsi pesantren sebagai pusat informasi.

Pondok pesantren selain sebagai lembaga pendidikan, sebagai lembaga dakwah, sebagai lembaga sosial kemasyarakatan juga merupakan pusat informasi bagi masyarakat Islam.

Peranan di tengah-tengah masyarakat sangat penting, karena pesantren adalah lembaga yang bisa dikatakan sebagai lembaga yang memberi informasi baik yang sifatnya keagamaan maupun tentang pengetahuan yang sifatnya umum. Sebagai lembaga keagamaan pesantren memang lembaga yang mengajarkan, mengembangkan dan menyebarkan ajaran Islam. Sebagai lembaga yang memberikan informasi yang sifatnya umum, banyak pesantren yang sudah menerapkan sistem pendidikan umum, seperti lembaga pendidikan SLTP, SLTA bahkan perguruan tinggi yang di dalamnya diberikan pengetahuan yang sifatnya umum.

Sedangkan menurut Munandar Soelaiman (1996:144), mengatakan bahwa pesantren dalam tatanan masyarakat merupakan magnet sosial yang dapat menarik berbagai pihak untuk berakomodasi bahkan untuk menumbuhkan vitalitas dan sumber inspirasi baru dalam tantangan modern dewasa ini baik dalam bermasyarakat atau bernegara.

Menurut Habib Chirzin yang dikutip dari buku lembaga-lembaga Islam di Indonesia, bahwa pondok pesantren yang merupakan masyarakat belajar (learning society) juga merupakan sumber informasi bagi masyarakat di sekitarnya. Informasi ini tidak terbatas pada masalah agama saja, tetapi juga meliputi masalah pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya, bahkan juga masalah teknik. Pesantren menyediakan bahan bacaan untuk remaja, pemuda dan masyarakat sekitarnya, juga memiliki bengkel dan peralatan yang dapat dimanfaatkan juga oleh masyarakat. Sebagai contoh pesantren Pabelan diadakan latihan-latihan pemeliharaan kesehatan, penggunaan Teknologi Tepat Guna untuk pedesaan dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat (Community Development). Dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakannya, karena itu pesantren selain sebagai lembaga pendidikan dan penyiaran agama juga sekaligus merupakan pusat informasi teknologi pedesaan, tempat latihan, balai musyawarah masyarakat dan pusat pengembangan lingkungan (Muhammad Daud Ali Habibah Daud, 1995:151).

Sebagai pusat informasi, walaupun pesantren tidak menghilangkan kepribadiannya sebagai pendidikan tradisional yang mengajarkan pendidikan keagamaan, tetapi pesantren mampu menjadi pesantren pusat perkembangan masyarakat.

 

  1. Unsur-Unsur Pondok Pesantren

Pondok Pesantren sebagai lembaga Islam menurut Marwan Saridjo (1980:9), menjelaskan bahwa sekurang-kurangnya Pondok Pesantren mempunyai tiga unsur, yaitu: Pertama, Kyai sebagai pendidik, kedua, santri sebagai terdidik, dan ketiga, mesjid sebagai tempat ibadah dan belajar.

Zamakhsyari Dhafier (1982:44-60), menyatakan lima yang menjadi unsur Pondok Pesantren, yaitu :

  1. Adanya Pondok

Pondok merupakan salah satu ciri khas pesantren yang membedakan dengan sistem pendidikan tradisional di mesjid-mesjid yang berkembang kebanyakan wilayah Islam di negara-negara lain. Ada tiga alasan utama kenapa pesantren harus menyediakan asrama atau pondok bagi para santri. Pertama, kemasyhuran seorang Kyai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri dari jauh untuk mendalami dan mengguruinya. Karena jauhnya itu santri harus tinggal di pesantren tersebut. Kedua, hampir semua pesantren di desa-desa di mana tidak tersedia perumahan yang cukup untuk dapat menampung santri-santri. Dengan demikian perlu adanya suatu asrama khusus bagi para santri. Ketiga, adanya sikap dan timbal balik antara santri dan Kyai, di mana Kyai menganggap santri sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa yang dilindungi. Dengan demikian perlulah ada asrama tempat timbal balik tersebut.

  1. Adanya Masjid

Mesjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sholat lima waktu, khutbah dan sholat jum’at, dan pengajian kitab-kitab Islam klasik. Kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan Islam dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional.

  1. Adanya Santri

Santri merupakan elemen terpenting yang ada di pesantren yang sengaja melibatkan dirinya guna menimbang ilmu agama. Pada umumnya santri dapat digolongkan ke dalam dua kategori berdasarkan keterlibatannya sebagai orang yang mencari ilmu, yaitu santri mukim dan santri kalong. Santri mukim yaitu santri yang sengaja datang selama menjadi santri bermukim di asrama atau pondok yang telah disediakan di pesantren. Sedangkan santri kalong adalah santri yang berasal dari

tempat yang tidak jauh dari pesantren yang kebanyakan mereka tinggal di rumah masing-masing dan mengikuti pengajian pada waktu tertentu saja.

  1. Adanya Pengajian Kitab Klasik

Kitab yang diterima para santri sebagai bahan mata pelajaran yang diterimanya. Pengajaran kitab biasanya berbahasa Arab yang ditulis dengan Arab gundul (tanpa sekali) disebut kitab kuning. Semua kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan ke delapan kelompok: 1) nahwu (syntex) dan sorop (norpologi); 2) fiqh; 3) ushul fiqh; 4) hadits; 5) tafsir; 6) tauhid; 7) tasawuf dan etika; dan 8) cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghoh.

  1. Adanya Kyai

Keberadaan Kyai sangat urgen keberadaannya. Kyailah yang dapat menentukan maju mundurnya pesantren dan lebih tepat dikatakan Kyai adalah sebagai penggerak utama dalam tubuh pesantren. Kata Kyai merupakan panggilan terhadap orang yang menguasai ilmu agama, maupun membaca kitab kuning, paham, terhadap masalah-masalah agama serta mempunyai integrasi yang tinggi terhadap lingkungan sosialnya dan memiliki tingkat keshalehan yang berbeda dengan di atas masyarakat sekitarnya. Sebutan Kyai mempunyai tiga makna penting, yaitu; pertama, Kyai sebagai gelar kehormatan bagi orang yang dianggap keramat; umpamnya “Kyai garuda kencana” dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di keraton yogyakarta. kedua, Kyai sebagai gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya. Ketiga, Kyai sebagai gelar yang diberikan masyarakat kepada orang yang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab klasik kepada para santri.

BAB III

ANALISIS EMPIRIS TENTANG RESPONS SANTRI TERHADAP PESAN KHITOBAH USTADZ JEJEN ZAINAL ABIDIN

 

  1. Kondisi Objektif Pondok Pesantren Miftahul Falah.
    1. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Falah.

Maraknya pendidikan di Indonesia tidak terkecuali di lingkungan Cileunyi, menambah daya kapasitas berpikir bagi kalangan ulama setempat. Hal ini merupakan tuntutan dari adanya rekayasa pendidikan yang semakin maju ditunjang oleh banyaknya pedagang dari berbagai daerah (para pekerja, mahasiswa, dll) dengan membawa bakat, karakter, dan adat istiadat yang heterogen. Di samping itu, juga terciptanya suasana yang religius dan demi terwujudnya kehidupan sosial yang menganut sistem moral yang sesuai dengan norma-norma agama, dan dalam rangka mengembangkan tuntutan sosial masyarakat setempat, maka dipandang perlu diadakan lembaga pendidikan non formal (pesantren) untuk menampung provokasi-provokasi berpikir demi kemajuan dan kemanfaatan masyarakat.

Pondok Pesantren Miftahul Falah didirikan pada tahun 1922 atas prakarsa KH. Abdul Jalil (Kakek Ustadz Jejen Zainal Abidin) yang didukung oleh masyarakat Cikalang. Pada mulanya pesantren ini terdiri dari sebuah mushola dan satu bangunan asrama putra tempat mengaji sekaligus tempat santri menginap pada waktu itu berjumlah 15 orang. Dengan tenaga pengajarnya tiga orang, yaitu KH. Endang Sajidin, Asep. S. Amin, dan Drs. A. Mulyadi.

Dalam perkembangannya, kancah pergolakan politik pada waktu itu sangat mempengaruhi, di mana pada tahun 1942-1945 terjadilah serangan dari para penjajah dan menghambat jalannya proses pendidikan di pesantren.

Pada tahun 1946, KH. Abdul Jalil wafat, semenjak itu Pondok Pesantren Miftahul Falah dipimpin oleh putranya yang bernama KH. Endang Sajidin hingga beliau wafat pada tahun 2004. Sebelum KH. Endang Sajidin wafat pada tahun 2004, berdasarkan musyawarah keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Falah, pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah diserahkan kepada putra bungsunya yang bernama Ustadz Jejen Zainal Abidin sampai sekarang. Beliau dibantu oleh saudara-saudaranya yang berjumlah tiga orang dan dua orang alumni Pondok Pesantren Miftahul Falah.

Namun Alhamdulillah, cobaan demi cobaan akhirnya terlewati juga, pondok pesantren Miftahul Falah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat sampai sekarang, ini juga atas jasa semua pihak terutama masyarakat Cikalang. Perkembangan yang telah di alami pesantren ini menunjukkan bahwa keberadaannya sangat dibutuhkan, karena merupakan benteng sekularisme dan gazwul fikri dari lajunya arus informasi di Indonesia terutama di daerah Cikalang (wawancara dengan Ustadz Jejen Zainal Abidin, pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah Agustus 2007).

  1. Biografi Ustadz Jejen Zainal Abidin

Jejen Zainal Abidin adalah putra bungsu dari pasangan ulama Cileunyi yaitu KH. Endang Sajidin dan Hj. Siti Sa’adah. Beliau dilahirkan di kampung Cikalang. Tepatnya pada tanggal 7 Juni 1975, dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, namun berada dalam keluarga yang berpegang teguh pada ajaran agama Islam. Sejak kecil beliau sudah terbiasa dengan lingkungan yang agamis, dan beliau termasuk anak yang patuh terhadap orang tuanya. Ayahnya berasal dari Cikalang-Cileunyi, yang bernama KH. Endang Sajidin yang menikahi putri dari KH. Sulaeman Abdul Majid, yang bernama Hj. Siti Sa’adah. Dari kedua pasangan ini dikaruniai tujuh orang putra dan putri, yaitu : Hj. Uun Muniroh, Asep S. Amin S.Pd.I, Popon Banasiah, Lilis, Hj. Nani Rohaeni S.Pd, Jajang SF, dan Jejen Zainal Abidin S.Ag.

Pada usia 8 tahun, yaitu pada tahun 1983 beliau belajar di SDN Neglasari Cikalang. Kemudian melanjutkan pendidikan di MTs. Baitul Arqam Ciparay Majalaya pada tahun 1989-1991. Pendidikan menengah ditempuh dengan masuk MA Pulosari Limbangan Garut pada tahun 1991-1994, dan pada tahun 2001 beliau menyelesaikan pendidikan tingginya serta mendapat gelar sarjana agama (S.Ag) di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Selain pendidikan formal, beliau juga pernah belajar ilmu agama di beberapa pondok pesantren, yaitu pada tahun 1989-1991di Ma’had Baitul Arqam Ciparay Majalaya, di Pondok Pesantren Pulosari Limbangan Garut selama 5 tahun, dan tahun 1996 di Pondok Pesantren Darul Hikam Sukabumi selama 1 tahun.

Pada tahun 1996, beliau mulai mengajar di Pondok Pesantren Miftahul Falah membantu ayahandanya dan saudara-saudaranya yang mengajar terlebih dahulu sebelum beliau. Hingga pada tahun 2002, beliau menikah kepada putri dari bapak Cece yang bernama Fitriani. Dari pernikahannya tersebut, Ustadz Jejen Zainal Abidin dikaruniai dua orang putra, yaitu : Al-Mufti Faqih dan Al-Hikam Tajul Aulia.

Sebelum KH. Endang Sajidin wafat pada tahun 2004, berdasarkan musyawarah keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Falah, pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah diserahkan kepada putra bungsunya yang bernama Ustadz Jejen Zainal Abidin sampai sekarang. Beliau dibantu oleh saudara-saudaranya yang berjumlah tiga orang dan orang dua orang alumni Pondok Pesantren Miftahul Falah.

Mulai dari tahun 2004, beliau menjadi pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah, sekaligus pimpinan Yayasan Miftahul Falah, pengajar di pondok pesantren tersebut, serta kepala sekolah TK-TPA Miftahul Falah hingga sekarang. Selain itu, beliau pernah menjabat sekretaris BKPRMI Korwil Cileunyi tahun 2000 dan sekretaris LPPTKA Korwil Cileunyi tahun 2001-sampai sekarang.

  1. Letak Geografis

Pondok Pesantren Miftahul Falah berada di jalan Percobaan No. 2 Rt 04/12 kampung Cikalang Desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung 40621. Pondok Pesantren ini terletak pada daerah yang strategis mudah dijangkau oleh sarana transportasi. Sedangkan jarak antara Pondok Pesantren ini dengan jalan Percobaan Cileunyi sekitar 10 m.

  1. Keadaan Santri

Santri yang belajar di pondok pesantren Miftahul Falah adalah santri plus, yaitu disamping ia sebagai santri yang menimba ilmu di pesantren, ia juga sebagai anak sekolah dan mahasiswa. Santri tersebut ada yang belajar di SMA, SMK, UPI, UNPAD, dan UIN SGD Bandung. Untuk lebih jelasnya mengenai santri dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1

Santri Pondok Pesantren Miftahul Falah

No

Pendidikan

Jumlah

1

2

3

4

5

6

SMA

SMK

UPI

UNPAD

UNINUS

UIN SGD Bandung

1 orang

2 orang

1 orang

1 orang

2 orang

113 orang

Jumlah

120 orang

Sumber data : Dokumentasi Pondok Pesantren Miftahul Falah 2007

  1. Keadaan Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Miftahul Falah.

Sarana dan prasarana yang dimiliki pondok pesantren Miftahul Falah yaitu: mesjid, madrasah, aula, asrama putra, asrama putri, kantor/sekretariat, dapur umum, kamar mandi, WC, perpustakaan, rental komputer, photo copy, wartel, kantin, dan koperasi. Untuk lebih jelasnya mengenai sarana dan prasarana pondok pesantren Miftahul Falah dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2

SARANA DAN PRASARANA YANG ADA DI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL FALAH

No

Jenis fasilitas

Jumlah

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Mesjid

Madrasah

Aula

Asrama putra

Asrama putri

Kantor/sekretariat

Dapur umum

Kamar mandi

WC

Perpustakaan

Rental komputer

Photo copy

Wartel

Kantin

Koperasi

1

1

1

1

4

1

5

7

6

1

1

1

1

1

1

Jumlah

33

Sumber data : Dokumentasi Pondok Pesantren Miftahul Falah 2007

  1. Keadaan Tenaga Pengajar/Ustadz

Dalam proses pendidikan, apabila ada murid sudah barang tentu ada yang mengajar murid tersebut, begitu pula di pondok pesantren Miftahul Falah ada santri dan ada ustadz. Mengenai tenaga pengajar/ustadz yang ada di pondok pesantren Miftahul Falah, sebagai berikut:

  1. Ustadz Jejen Zainal Abidin S.Ag
  2. Ustadz Asep S. Amin S.Pd.I
  3. Drs. H. A. Mulyadi
  4. Ustadz Jajang SF
  5. Ustadz M. Deviana M.Ag
  6. Ruslan S.Pd

(Sumber : wawancara dengan Ustadz Jejen Zainal Abidin, pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah Agustus 2007)

 

 

 

  1. Pelaksanaan Khitobah dan Pesan yang disampaikan Ustadz Jejen Zainal Abidin.

Kegiatan khitobah yang dilakukan Pondok Pesantren Miftahul Falah berdasarkan hasil wawancara dengan pengurus Desan Pondok Pesantren Miftahul Falah berjalan dengan baik. Aktivitas khitobah ini dilakukan melalui pengajian rutin harian, dalam pengajian rutin tersebut Ustadz Jejen Zainal Abidin selalu menyisipkan pesan-pesan moral dalam setiap penyampaian khitobahnya yang diberikan kepada santri.

Di Pondok Pesantren Miftahul Falah kegiatan khitobah dilaksanakan setiap hari. Pada pengajian ini diikuti oleh semua santri yang terbagi tiga kelas. Menurut salah seorang staf Dewan Santri, apabila Ustadz Jejen Zainal Abidin yang menyampaikan khitobahnya santri lebih bersemangat menyimaknya, responsnya lebih tinggi, mereka lebih khidmat. Semua santri menyukai khitobah beliau, karena Ustadz Jejen Zainal Abidin mempunyai ciri khas tersendiri. Ciri khas beliau bisa dilihat dari segi retorika, pengetahuannya sangat luas dan sangat kharismatik sehingga dalam menyampaikan materinya mudah dipahami, lebih jelas dan padat.

Aktivitas di pondok pesantren Miftahul Falah sebagaimana diungkapkan dilaksanakan juga pada hari-hari besar Islam seperti maulid Nabi, peringatan Isra Mi’raj dan peringatan tahun baru Islam serta haul pesantren, begitu pula dengan peringatan hari besar Islam lainnya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha (wawancara dengan Desan Pondok Pesantren Miftahul Falah Agustus 2007).

Respons merupakan salah satu keharusan dalam proses dakwah, karena dengan adanya respons dalam pelaksanaan khitobah, setidaknya akan mengetahui diterima atau tidak diterimanya pelaksanaan khitobah yang dilakukan oleh khotib dan mukhotob. Hal ini dapat menjadi acuan dalam analisis dakwah selanjutnya.

Demikian pula halnya dengan respons santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pondok Pesantren Miftahul Falah dapat dijadikan acuan sebagai proses dakwah di masa mendatang. Mengenai respons santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, ini dapat dianalisis dari data-data yang diperoleh melalui penyebaran angket yang disebarkan kepada objek penelitian, di mana angket tersebut meliputi unsur-unsur perhatian, pemahaman, serta penerimaan mukhotob terhadap pelaksanaan khitobah.

Pelaksanaan khitobah dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3

Item 1

Aktivitas santri dalam mengikuti kegiatan khitobah harian

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

1

  1. Ya
  2. Cukup
  3. Kurang
  4. Tidak aktif

6

9

8

1

25

37,5

33,33

4,17

Jumlah

24

100

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar yaitu sebanyak 37,5% responden menyatakan cukup aktif mengikuti kegiatan khitobah, kemudian 33,33% responden menyatakan kurang, dan 25% responden lainnya menyatakan aktif. Dengan demikian keaktifan santri menunjukkan respons yang cukup tinggi. Santri yang menyatakan aktif dan cukup aktif mengikuti kegiatan khitobah cukup antusias. Karena dengan khitobah ini santri akan mendapatkan pengetahuan agama yang banyak.

Tabel 4

Item 2

Waktu yang tepat kegiatan khitobah dilaksanakan

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

2

  1. Setelah subuh
  2. Setelah ashar
  3. Setelah maghrib
  4. Setelah isya

7

2

8

7

29,17

8,33

33,33

29,17

Jumlah

24

100

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa waktu setelah maghrib merupakan waktu yang tepat dan sesuai untuk pelaksanaan khitobah, sedangkan 29,17% responden menyatakan setelah isya kemudian yang lainnya menjawab setelah subuh sebanyak 29,17% responden, dan sebagiannya lagi yaitu 8,335 respoden yang menyatakan setelah ashar.

Analisis terhadap pelaksanaan khitobah, berdasarkan angket, wawancara, dan observasi ; sebagian besar dari wawancara yang menyatakan memang baik. Para santri sangat antusias sekali untuk menghadiri pelaksanaan khitobah yang disampaikan oleh pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah, walaupun waktu yang disukainya beragam.

Dari pengamatan, diperoleh data bahwa pelaksanaan khitobah berjalan dengan lancar dengan tepat waktu. Hal ini terlihat dari materi yang disampaikan oleh khotib, media yang digunakan oleh khotib dan khotib yang berkompeten dalam bidang khitobah. Maka dapat dinyatakan kegiatan khitobah di Pondok Pesantren Miftahul Falah baik.

 

  1. Perhatian Santri Terhadap Pesan Khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.

Analisis data perhatian santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5

Item 3

Kegiatan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pondok Pesantren Miftahul Falah

 

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

3

  1. Sangat baik
  2. Baik
  3. Cukup
  4. Kurang baik

6

14

4

25

58,33

16,67

Jumlah

24

100

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 25% responden yang menyatakan bahwa kegiatan khitobah di pondok pesantren Miftahul Falah sangat baik, dan jawaban yang paling tinggi yaitu 58,33% responden menyatakan baik.

Table 6

Item 4

Rutinitas santri dalam mengikuti khitobah

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

4

  1. 5-7
  2. 3-4
  3. 2
  4. 1

7

11

4

2

29,17

45,83

16,67

8,33

Jumlah

24

100

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tingkat rutinitas santri cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan sebagian besar responden menjawab 3-4 kali mengikuti khitobah dalam seminggu, disertai dengan 29,17% responden menjawab 5-7 kali mengikuti kegiatan khitobah dalam seminggu, dan sebagian kecil 16,67% responden menjawab 2 kali dalam seminggu. Sedangkan yang mengikuti 1 kali dalam seminggu hanya 8,33% responden.

Tabel 7

Item 5

Sikap santri ketika mengikuti khitobah

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

5

  1. Biasa saja
  2. Memperhatikan
  3. Kadang-kadang
  4. Kurang memperhatikan

18

6

75

25

Jumlah

24

10

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa yang menyatakan 75% responden memperhatikan. Sedangkan 25% responden lainnya menyatakan kadang-kadang. Dengan demikian perolehan 75% responden menyatakan memperhatikan, mengartikan tingkat perhatian santri terhadap apa yang dibicarakan Ustadz adalah baik.

Tabel 8

Item 6

Materi yang disukai santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

6

  1. Aqidah/tauhid
  2. Ahlak
  3. Syari’ah
  4. Al-Qur’an dan hadits

4

11

8

1

16,67

45,83

33,33

4,17

Jumlah

24

100

 

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa materi yang disukai santri terhadap pesan disampaikan di Pondok Pesantren Miftahul Falah, hampir setengahnya menjawab materi akhlak, 33,33% responden menjawab syari’ah, dan yang menjawab aqidah/tauhid 16,67% responden. Sedangkan yang menjawab Al-Qur’an dan hadits 4,17% responden.

Analisis perhatian santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, berdasarkan angket dan wawancara ; sikap santri dalam mengikuti kegiatan khitobah menggambarkan perhatian yang serius. Mulai dari memperhatikan waktu pelaksanaan, pada saat pelaksanaan dan terhadap materi yang disampaikan oleh Ustadz Jejen Zainal Abidin.

Hasil observasi pun diperoleh data, adanya hubungan antara angket, wawancara dan observasi bahwa sikap santri dalam mengikuti kegiatan khitobah adanya perhatian yang serius. Perhatian mereka terbukti mulai dari sikap mereka ketika mengikuti khitobah dan materi yang mereka sukai dari pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.

 

  1. Pemahaman Santri Terhadap Pesan Khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.

Analisis data pemahaman santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 9

Item 7

Pengamalan materi setelah mengikuti khitobah

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

7

  1. Selalu
  2. Kadang-kadang
  3. Tidak

1

22

1

4,17

91,66

4,17

Jumlah

24

100

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diambil analisis bahwa santri setelah mengikuti kegiatan khitobah mengamalkannya. Hal ini terbukti sebagian besar 91,66% responden menjawab kadang-kadang, sebagian kecil 4,17% responden menjawab selalu, dan sebagian kecilnya lagi 4,17% responden menjawab tidak.

Tabel 10

Item 8

Pemahaman santri terhadap materi yang disampaikan

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

8

  1. Selalu
  2. Cukup
  3. Kadang-kadang
  4. Tidak

8

16

33,33

66,67

Jumlah

24

100

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diambil analisis bahwa responden atau santri kadang-kadang memahami apa yang disampaikan khotib. Hal tersebut terbukti dari dari hasil jawaban responden setengahnya lebih 66,67% responden menjawab kadang-kadang, dan sebagian besar 33,33% responden menjawab cukup. Sedangkan yang menjawab alternatif lainnya tidak ada satu pun.

Analisis pemahaman santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, berdasarkan angket dan observasi ; hanya sebagian santri yang bisa memahami dan mengamalkan materi khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin. Dengan memahami pesan yang disampaikan khotib, para santri diharapkan menerima dan mengamalkan pesan yang disampaikan khotib. Ini merupakan hal yang terpenting dalam peningkatan pemahaman.

Data yang diperoleh dari wawancara pun, memperkuat hasil pengolahan data dari angket dan observasi. Bahwa hanya sebagian santri yang bisa memahami materi dan mengamalkannya setelah mengikuti kegiatan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.

  1. Penerimaan Santri Terhadap Pesan Khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.

Analisis data penerimaan santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 11

Item 9

Rasa senang senang terhadap khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

9

  1. Senang
  2. Cukup senang
  3. Kurang senang
  4. Tidak senang

18

6

75

25

Jumlah

24

100

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa yang menyatakan senang 75% responden dan 25% menyatakan cukup senang, ini berarti menunjukkan bahwa dengan adanya khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, disenangi banyak santri. Karena dengan khitobah ini semua santri di Pondok Pesantren Miftahul Falah mendapat ilmu pengetahuan, mudah dipahami dan Ustadz Jejen Zainal Abidin juga dilihat dari segi pengetahuannya sangat luas dan sangat kharismatik.     

 

 

Tabel 12

Item 10

Efek yang ditimbulkan

No

Alternatif jawaban

Frekeunsi (F)

Prosentase (%)

10

  1. Rajin shalat
  2. Rajin opsih
  3. Malas beraktivitas
  4. Rajin shadaqah

11

6

4

3

45,83

25

16,67

12,5

Jumlah

24

100

Tafsiran : berdasarkan tabel di atas, dapat diambil analisis khitobah yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Miftahul Falah sangat banyak manfaatnya. Terbukti hampir setengahnya 45,83% responden menjawab rajin shalat, sebagian besar 25% responden menjawab rajin opsih, dan sebagian kecil 16,67% responden menjawab malas beraktivitas. Sedangkan yang menjawab rajin bershadaqah 12,5% responden.

Analisis penerimaan santri terhadap khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, berdasarkan angket dan wawancara. Para santri senang terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, dan efek yang ditimbulkannya dengan rajin sholat, rajin opsih, dan rajih shadaqah, walaupun ada sebagian kecil yang malas.

Hasil pengamatan di lapangan terlihat adanya beberapa faktor yang mendukung para santri dalam menerima khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, di antaranya ; lingkungan pesantren yang mendukung dan peraturan pesantren. Dalam menerima pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, para santri pasti akan memperhatikan manfaat yang akan diperolehnya. Para santri tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa adanya nilai manfaat bagi dirinya dengan melakukan sesuatu.

BAB IV

PENUTUP

Setelah melalui pembahasan mengenai masalah yang penulis ajukan berdasarkan hasil survey, kemudian berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data yang berasal dari observasi dan angket dari responden serta data-data yang lainnya, maka dalam bab penutup ini penulis akan mencoba menyimpulkan serta memberikan saran-saran bagi pelaksanaan khitobah.

  1. Kesimpulan
  1. Pelaksanaan khitobah di Pondok Pesantren Miftahul Falah, baik. Hal ini terbukti bahwa pelaksanaan khitobah di Pondok Pesantren Miftahul Falah melalui pengajian harian berjalan lancar dengan tepat waktu, materi yang disampaikan disukai para santri dan khotib yang berkompeten.
  2. Respons santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin
    1. Perhatian santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, mendapat perhatian yang serius. Mulai dari memperhatikan waktu pelaksanaan, pada saat pelaksanaan dan materi yang disampaikan oleh Ustadz Jejen Zainal Abidin.
    2. Pemahaman santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, hanya sebagian santri bisa memahami dan mengamalkan materi khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.
    3. Penerimaan santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin, sangat baik. Walaupun ditunjang lingkungan pesantren dan peraturan pesantren yang menunjang penerimaan santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.
      1. Saran-saran
  3. Melalui skripsi ini hendaknya dijadikan kontribusi terhadap pengembangan dakwah/tabligh, baik dengan ceramah atau khitobah yang mampu mempertegas ilmu tabligh yang selama ini mendapat kesan tradisional atau tidak relevan dengan perkembangan zaman. Artinya mampu mempertegas dan memperjelas ilmu tabligh. Bahwa ilmu ini penting dipelajari dan dikuasai oleh orang-orang yang akan berdakwah terutama dakwah dengan menggunakan lisan.
  4. Secara praktis, bahwa adanya penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kegiatan dakwah menjadi lebih baik, serta dapat mengetahui materi, media serta metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi objek dakwah. Terutama pelaksanaan khitobah di Pondok Pesantren Miftahul Falah.

RIWAYAT HIDUP

 

 

Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 27 Februari 1984 di Jl. Caringin Gg. Lumbung I Rt 06/03 No.23 Kel. Babakan Ciparay Kec. Babakan Ciparay Kota Bandung. Ia adalah anak kedua dari pasangan (Alm.) Bapak Dedi dan (Alm.) Ibu Euis.

 

  1. Pendidikan

Formal

  • SDN 16 Babakan Ciparay Bandung                1990-1996
  • SMPN 21 Bandung                        1996-1999
  • SMAN 1 Cikalong Wetan Kab. Bandung            1999-2002
  • Universitas Islam Negeri SGD Bandung            2002-2007

Non Formal

  • Ponpes Al-Islamiyyah Cikalong Wetan Kab. Bandung
  • Ponpes Miftahul Falah Cileunyi Kab. Bandung

 

  1. Pengalaman organisasi
  • Dewan Santri Pondok Pesantren Miftahul Falah.
  • Lembaga Dakwah Mahasiswa (LDM) UIN SGD Bandung.
  • Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (MAHAPEKA) UIN SGD Bandung.

ABSTRAK

USMAN AZIZ : Respons Santri Terhadap Pesan Khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin Di Pondok Pesantren Miftahul Falah.

(Studi Deskriptif Di Pondok Pesantren Miftahul Falah Desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung)

Dakwah merupakan kegiatan mengajak manusia ke jalan yang lurus, dengan lisan atau tulisan. Media lisan disebut juga dengan ceramah, khitobah atau pidato. Berdakwah dengan khitobah ini dilakukan oleh Ustadz Jejen Zainal Abidin melalui pengajian harian di Pondok Pesantren Miftahul Falah. Dalam pelaksanaannya, terjadi interaksi antara santri dan ustadz, dalam aktivitas khitobahnya ini menimbulkan suatu respons santri terhadap pesan khitobah beliau tidak semuanya positif.

Penelitian ini bertujuan menggambarkan tentang pelaksanaan khitobah, perhatian, pemahaman, dan penerimaan santri terhadap pesan khitobah yang disampaikan oleh Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pondok Pesantren Miftahul Falah.

Penelitian ini berangkat dari pemikiran bahwa, penyampaian pesan-pesan khitobah tidak selalu melalui mimbar atau podium, tetapi juga penyampaian pesan khitobah dapat melalui pengajian. Hal ini terjadi di Pondok Pesantren Miftahul Falah, di mana Ustadz sebagai pengajar sekaligus khotib menyampaikan pesan khitobahnya kepada santri sebagai mukhotob melalui pengajian rutin harian. Efeknya respons atau sikap yang dikeluarkan oleh santri pun berbeda.

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, di mana dalam hal ini peneliti mencoba menggali data dari sumber-sumber yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi dengan cara observasi, wawancara dan angket. Setelah itu data tersebut diolah serta dianalisis, yang selanjutnya digambarkan serta diambil kesimpulannya.

Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan khitobah, perhatian, pemahaman, dan penerimaan santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pondok Pesantren Miftahul Falah baik. Hal ini terbukti hampir seluruhnya responden menilai baik terhadap kegiatan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Rasyid Shaleh,

1997    Manajemen Dakwah Islam. Bulan Bintang, Jakarta.

 

Ahmad Subandi,

1994    Ilmu Dakwah, Pengantar ke arah Metodologi. Syahida, Bandung.

 

Anas Sudjiono,

1996    Pengantar Statistik Pendidikan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

 

Asmuni Syukir,

1983    Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam. Al-Ikhlas, Surabaya.

 

Abdullah Hanafi,

1984    Memahami Komunikasi Antar Manusia. Usaha Nasional Indonesia, Surabaya.

 

Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor,

1996    Kamus Al-Asri. Multi Karya Grafika, Yogyakarta.

 

Depag RI,

1992    Al-Qur’an dan Terjemahannya. Gema Risalah Press, Bandung.

 

Depdikbud,

1989    Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.

 

Didi Munadi,

2002    Psikologi Dakwah, Bandung

 

Ending Saifuddin Anshari,

1986    Wawaasan Islam. Rajawali, Jakarta.

 

Fathi Yakan,

1978    Bagaimana Kita Memanggil Kepada Islam. Bulan Bintang, Jakarta.

 

H.M Arifin,

1994    Psikologi Dakwah. Bumi Aksara, Jakarta.

 

Hamzah Yaqub,

1981    Publisistik Islam. Diponegoro, Bandung.

 

Jalaludin Rahmat,

2000    Metode Penelitian Komunikasi. PT. Rosdakarya, Bandung.

 

______________,

2000    Retorika Modern, Pendekatan Praktis. PT. Rosdakarya, Bandung.

 

Jamaluddin Kafie,

1993    Psikologi Dakwah. Indah, Surabaya.

James S. Chaplin,

1999    Kamus Lengkap Psikologi. terjemah Kartini Kartono, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

 

Jujun S. Suriasumantri,

1995    Filsafat Ilmu. Sinar Harapan, Jakarta.

 

M. Ngalim Purwanto,

1997    Psikologi Pendidikan. Rosdakarya, Bandung.

 

Manfred,

1986    Pesantren dalam perubahan sosial. LP3ES, Jakarta.

 

Marwan Saridjo,

1980,    Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia. Darma Bakti, Jakarta.

 

Mastuhu,

1994    Dinamika Sistem Pendidikan pesantren. Jakarta

 

Onong Uchjana Effendi,

1989    Kamus Komunikasi. Mandar Maju, Bandung.

 

______________,

1997    Ilmu Teori Dan Filsafat Komunikasi. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

 

______________,

2000    Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. Remaja Rosdakarya, Bandung.

 

 

 

Pupuh Faturrahman,

2000    Keunggulan Pendidikan Pesantren, Alternatif Pendidikan terpadu             Abad XXI. Tunas Nusantara, Bandung.

 

Quraish Shihab,

1995    Membumikan Al-Qur’an. Mizan, Bandung.

 

Rafi’udin dan Maman abdul Jaliel,

1997    Prinsip dan Strategi Dakwah. Pustaka Setia, Bandung.

Saifuddin Azwar,

2003    Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Siti Muriah,

2000    Metodologi Dakwah Kontemporer. Mitra Pustaka, Yogyakarta.

 

Suharsimi Arikunto

1987    Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktik. Bina Aksara, Jakarta.

 

_______________,

1993    Prosedur Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta.

 

Toto Tasmara,

1997    Komunikasi Dakwah. Gaya Media Pratama, Jakarta.

 

Wahjoetomo,

1997    Perguruan Tinggi Pesantren. Gema Insani Press, Jakarta.

 

Zamakhsyari Dhofier,

1982    Tradisi Pesantren. LP3ES, Jakarta.

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel                                            hal

  1. Keadaan santri Pondok Pesantren Miftahul Falah                67
  2. Sarana dan prasarana yang ada Pondok Pesantren Miftahul Falah        67
  3. Aktivitas santri dalam mengikuti kegiatan khitobah harian            70
  4. Waktu yang tepat kegiatan khitobah dilaksanakan                71
  5. Kegiatan khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin di Pondok Pesantren

    Miftahul Falah                                    72

  6. Rutinitas santri dalam mengikuti khitobah                    72
  7. Sikap santri ketika mengikuti khitobah                    73
  8. Materi yang disukai santri terhadap pesan khitobah Ustadz Jejen

    Zainal Abidin                                     73

  9. Pengamalan materi setelah mengikuti khitobah                74
  10. Pemahaman santri terhadap materi yang disampaikan            75
  11. Rasa senang terhadap khitobah Ustadz Jejen Zainal Abidin             76
  12. Efek yang ditimbulkan                            77

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt Sang Sutradara Sejati yang telah membuat skenario buat aktor-aktor dan aktris-aktrisNya yang berakting dalam “bioskop” ini, serta selalu memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat serta salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarganya, sahabatnya, para tabi’innya dan mudah-mudahan bagi kita semua sebagai umatnya, Amin.

Hormat dan bakti untuk ayahanda (Alm) Dedi dan ibunda (Alm) Euis yang semoga senantiasa mendapat maghfirahNya, serta salam hormat tabarruk kepada Syekh Abdul Qodir jaelani, KH. M. Ridwan, (Alm) KH. Endang Sajidin, yang telah memberikan bimbingan lahiriah, batiniah serta inspirasi buat penulis dalam menikmati hidup ini.

Semenjak penulis lahir di muka bumi ini, penulis telah mendapatkan banyak bantuan baik berupa doa, tenaga, financial, dan pemikiran serta bimbingan dari berbagai pihak, apalagi di saat penulis menyusun skripsi ini. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus, ikhlas serta penghargaan kepada :

  1. Ibu Dra. Siti Sumijati, M.Si selaku dosen pembimbing I yang dengan penuh kesabaran dan kesediaan untuk meluangkan waktunya dalam membimbing dan bantuannya kepada penulis.
  2. Ibu Dewi Sa’diah, S.Ag, M.Pd selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan pengarahan dan memberikan semangat sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
  3. Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah beserta Keluarga Besar Pondok Pesantren Miftahul Falah, (K’Jajang SF+T’Eneng, K’Jejen+T’Fitri, Bpk. Asep, Bi Lilis, Bpk. Drs. H. A. Mulyadi+Ibu Hj. Nani, M’jeje, Nur, Tintin, Syifa, Icha, Fahmi, Aal, Faiz, dan Hikam,).
  4. Hj. Atih Ema’ku tercinta yang telah membesarkan, membimbing dan mendidik penulis sampai sekarang ini, adikku Desi dan keluarga besar di Caringin, (P’Uu+Ibu(uwa),M’Amu+Bi Nia,M’Ejen,Wildan,Dindin+Ela, Nur+M’Haji, Arif, Gufron, Fadil, Fachri, dan Jihan), serta Keluarga Besar di Bogor, (Bapak, T’Iya, A’Alam, A’Aef, A’Ade, A’Yayan, T’Ina, A’Opick, Indra, Indri, dan D’Alvi).
  5. Desan Pondok Pesantren Miftahul Falah, saudara dan sahabat-sahabatku di MiFa yang “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” (Komeng, Mean, Mas Yanto, Beni, Apep, Hacan Alul), serta teman-teman di kobong (Alan, Aziz Rois, Ao, M’Peter, dr.Ecep, Enda, Wandy, Deden, Juri, Ucuf, Erik, Atep, Darto, Yoyoh, Yuyu, Afsyan, Uun, Demut, Mpok Hindun dan lia).
  6. Baraya-baraya di KPI D angkatan 2002, (Pedok+Neng, (Alm)Undang+Nining, Josh+Enchi, Ade, Utik, Yudi, Tantan, Mundink, Bete, Tedi, Syakur, Wawan Goodbye, Ridwan, Plato, Abenk, Wahyudin, Zapra, Suroso and Pasen).
  7. Dulur-dulur yang ada di MAHAPEKA, (Ayah, Lahang, Ketum H.Ucon, Justo, Chipan, Peu2z, G_tex, Chipeuw, Cable, Kenzi, Chitel, Wilton, Kulancir, Mixed, Shimo, Monox, Bude, Teril, Sachet, Rebast, Kelex, Onta, Ell, Turbo, Recat,).
  8. Saudara-saudara k2n, yang selama k2n sampai sekarang selalu memberikan support and doanya, (Teni, Acep, Riza, Iis, Jamil, Desi+Ison, Chiefruth, Indri, dan Dinda). Crew “Behind the scene” (K’Bagus+T’Eni, Jirjis Purwakarta, T’Nur+M’Halim Cikalongwetan, T’Ema Cianjur, Ceu Ecin,T’Ai, Diana Jamnas, Griny Jamnas, Wahyuni, Endang “DPR”) serta Orang-orang di belakang layar yang sudah membantu baik berupa doa, tenaga, financial dan pikirannya.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan dan semoga amal baik dari semua pihak yang telah membantu penulis mendapatkan pahala dan balasan yang berlipat ganda dari Allah Swt, Amin.

Bandung, Desember 2007

 

Penulis

Motto :

“Jalani, Hayati, dan Nikmati” (MAHAPEKA)

هَـــمُّ الدُّ نْيَـــــا ظُلْمَــــةٌ فِي اْلقَلْـــبِ

وَهَــــمُّ اْللآخِـــرَةِ نــُوْرٌ فِي اْلقَلْـــبِ

“Kesedihan dalam urusan dunia dapat menggelapkan hati, sedangkan kesedihan dalam urusan akhirat dapat menerangi hati”

 

“Memenuhi segala kecocokan dengan hati semua manusia adalah hal yang tidak mungkin kamu capai” (Imam Syafi’i).

 

 

PEDOMAN WAWANCARA

  1. Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falah
    1. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Falah.
    2. Keadaan tenaga pengajar/ustadz.
    3. Biografi khotib/Ustadz Jejen Zainal Abidin.
  1. Desan Pondok Pesantren Miftahul falah
    1. Keadaan santri
    2. Sarana dan prasarana Pondok Pesantren Miftahul Falah.
    3. Respons santri terhadap pesan yang Ustadz Jejen Zainal Abidin sampaikan.

 

PEDOMAN OBSERVASI

  1. Keadaan santri
  2. Sarana dan prasarana Pondok Pesantren Miftahul Falah
  3. Keadaan tenaga pengajar/ustadz
  4. Situasi pelaksanaan khitobah di Pondok Pesantren Miftahul Falah

 

About RA Miftahul falah

Membangun Negeri dengan membina generasi islami
This entry was posted in Download, Informasi, Skripsi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s